Transformasi Sunyi Intiland Development Tbk (DILD): Saat Kawasan Industri Menjadi Pilar Baru
Strategi masa depan PT Intiland Development Tbk tampaknya akan berpijak kuat dari kawasan industri. Di tengah dinamika pasar properti yang penuh tantangan, langkah ini menjadi angin segar, namun penuh perhitungan.
Pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar belum lama ini, satu keputusan penting diumumkan: Archied Noto Pradono, sosok lama dalam manajemen, kini resmi menjabat sebagai Direktur Utama menggantikan posisi sebelumnya sebagai Direktur Manajemen Modal dan Investasi. Penunjukan ini bukan sekadar formalitas struktural. Ia mencerminkan arah baru yang hendak ditempuh perusahaan.
“Komposisi anggota Direksi dan Dewan Komisaris telah mempertimbangkan secara cermat pengalaman, keahlian, tata kelola, dan kepemimpinan yang sesuai dengan kebutuhan Perusahaan,” kata Archied dalam pernyataan resminya.
Dalam periode awal kepemimpinannya, Archied membawa serta narasi baru: menjadikan kawasan industri sebagai pusat gravitasi strategi pertumbuhan. Ini bukan hanya retorika. Data kuartal pertama 2025 menunjukkan lonjakan pendapatan prapenjualan (marketing sales) sebesar 84,7% year-on-year, dari Rp254 miliar menjadi Rp469,2 miliar.
“Dengan keberagaman latar belakang dan keahlian yang relevan akan memberikan kontribusi positif dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang dan transformasi bisnis Intiland ke depan,” tambahnya.
Namun, pertumbuhan itu tak datang merata. Segmen landed residential justru merosot tajam 81,4% dari Rp118,3 miliar menjadi Rp22 miliar, sementara segmen mixed-used & high rise turun 33,4% menjadi Rp35,5 miliar.
Di tengah fluktuasi sektor ini, kawasan industri justru mencuat sebagai titik terang. Penjualan lahan di Batang Industrial Park dan gudang di Aeropolis Technopark menjadi penyumbang terbesar, mencatat Rp411,6 miliar, naik empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Archied mengakui langsung bahwa segmen kawasan industri menjadi salah satu pilar pertumbuhan utama bagi perusahaan di tengah dinamika yang terjadi di industri properti.
Momentum ini sejalan dengan meningkatnya investasi di sektor manufaktur dan logistik. Para pelaku bisnis dalam dan luar negeri kembali mencari lahan, dan Intiland melihat peluang itu.
“Kami akan fokus dalam pengembangan segmen kawasan industri yang berdaya saing tinggi dengan menyediakan infrastruktur serta fasilitas pendukung yang memenuhi kebutuhan para pelaku bisnis,” ujarnya.
Dua kawasan industri yang dikelola, yakni Ngoro Industrial Park (Mojokerto, Jawa Timur) dan Batang Industrial Park (Kabupaten Batang, Jawa Tengah), menjadi garda depan. Ditambah kawasan pergudangan Aeropolis Technopark di Tangerang, perusahaan kini menyiapkan infrastruktur pendukung sebagai bentuk keseriusan menggarap ceruk ini.
Di tengah optimisme itu, perusahaan tetap menapaki langkah hati-hati. Meski mencetak laba bersih tahun 2024 sebesar Rp174,7 miliar, manajemen memutuskan tak membagikan dividen demi memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.
“Kami optimis dapat terus berkontribusi dalam pengembangan kawasan industri nasional. Kami berusaha memberikan solusi terbaik bagi para pelaku industri yang mencari lokasi strategis untuk mengembangkan bisnis mereka,” kata Archied.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Intiland tak lagi hanya mengandalkan apartemen atau rumah tapak sebagai andalan. Di bawah kendali baru, perusahaan tengah menjalani transformasi yang senyap namun signifikan—mengubah peta strategi dari produk konsumsi rumah tangga ke infrastruktur bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Dan di balik semua itu, kawasan industri bukan lagi sekadar pelengkap portofolio. Ia telah menjadi episentrum baru. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.