Xiaomi Makin Kinclong! Raih Laba Bersih Rp24 Triliun Awal 2025, Siap Tancap Gas di Semua Lini
Hari itu, investor yang mengikuti laporan keuangan Xiaomi kuartal I 2025 mungkin tak mengira bahwa laporan yang akan dirilis adalah penanda babak baru. Sebuah angka besar terpampang di layar, yakni RMB 111,3 miliar atau sekitar Rp252 triliun, menjadi pendapatan tertinggi perusahaan dalam kuartal pertama sepanjang sejarahnya. Dan itu bukan satu-satunya kejutan.
“Pendapatan kami menembus RMB 100 miliar untuk dua kuartal berturut-turut,” tulis Xiaomi dalam laporan resminya. Angka tersebut, ditambah laba bersih yang disesuaikan sebesar RMB 10,7 miliar (sekitar Rp24 triliun), menjadi bukti bahwa strategi bisnis yang dijalankan selama ini bukan sekadar angan.
Di tengah lesunya pasar smartphone global, Xiaomi justru melesat. Penjualan ponsel pintarnya tumbuh 8,9% secara tahunan, dengan kontribusi pendapatan mencapai lebih dari Rp114,6 triliun.
Total pengiriman smartphone global menyentuh angka 41,8 juta unit, sebuah capaian yang turut memperpanjang napas Xiaomi di antara tiga besar brand ponsel dunia selama 19 kuartal berturut-turut. Pangsa pasarnya pun stabil di angka 14,1%.
Salah satu pendorong pertumbuhan ini adalah strategi premiumisasi yang dijalankan sejak beberapa tahun terakhir. Jika dulu Xiaomi dikenal sebagai penyedia smartphone harga miring, kini perusahaan mulai menggeser posisinya ke segmen menengah atas. “Harga jual rata-rata (ASP) ponsel Xiaomi meningkat Rp2,7 juta dan mencetak rekor tertinggi,” sebut laporan tersebut.
Bintang utama dari strategi ini adalah Xiaomi 15 Ultra, produk flagship yang diluncurkan pada Februari 2025. Dalam waktu singkat, penjualannya melonjak 90% dibandingkan pendahulunya pada periode yang sama tahun lalu. Kombinasi desain, kamera, dan performa membuatnya menjadi pilihan utama pasar premium, sebuah wilayah yang dulu bukan ladang utama Xiaomi.
Namun keberhasilan Xiaomi tidak berhenti di bisnis smartphone. Justru, pertumbuhan paling eksplosif datang dari lini produk yang kerap dianggap pelengkap: perangkat rumah tangga berbasis Internet of Things (IoT). Pendapatan dari produk lifestyle dan IoT melonjak 58,7% menjadi Rp73,2 triliun. Mesin cuci dan kulkas mencatat rekor penjualan tertinggi, dan pengiriman AC naik lebih dari 65%.
Ini adalah bagian dari ambisi besar Xiaomi menjadi perusahaan teknologi penuh, bukan hanya produsen ponsel. Dan ambisi itu paling kentara dalam langkah berani mereka memasuki industri kendaraan listrik.
Pada kuartal pertama 2025, pendapatan dari lini Smart Electric Vehicle (EV), kecerdasan buatan (AI), dan inisiatif baru lainnya tercatat sebesar Rp42,1 triliun.
Mobil listrik perdana mereka, Xiaomi SU7 Series, langsung mencuri perhatian pasar. Selama tiga bulan pertama, sebanyak 75.869 unit SU7 telah dikirimkan. Tak hanya itu, Xiaomi menetapkan target tahunan yang cukup ambisius: 350.000 unit untuk 2025.
Di pasar Tiongkok, pergerakan Xiaomi juga tak kalah impresif. Pangsa pasarnya di negeri sendiri naik 4,7% menjadi 18,8%, mencatatkan pertumbuhan selama lima kuartal berturut-turut. Ini menandakan bukan hanya ekspansi global yang dikejar, tetapi juga konsolidasi kekuatan di rumah sendiri.
Laporan keuangan ini tidak hanya mencerminkan kinerja, tetapi juga narasi transformasi. Xiaomi bukan lagi sekadar vendor ponsel. Ia kini berdiri sejajar dengan perusahaan teknologi global yang berani bertaruh pada masa depan—dari IoT, AI, hingga mobil listrik.
Dan untuk pertama kalinya, Xiaomi tampaknya tak lagi hanya mengejar pasar. Ia mulai mendefinisikannya. (*)