Bank DKI: Melaju Lewat Inisiatif Phoenix

Agus H. Widodo, Direktur Utama Bank DKI (Foto: Bank DKI)
Agus H. Widodo, Direktur Utama Bank DKI (Foto: Bank DKI)

Transformasi digital di dunia perbankan kini bukan sekadar tren, tetapi keniscayaan. Di tengah lanskap industri yang makin kompetitif dan ekspektasi nasabah yang terus berkembang, perbankan dituntut lebih adaptif dan inovatif.

Bagi Bank DKI, tantangan itu jadi lebih kompleks. Sebagai bank milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank DKI bukan hanya harus mengimbangi percepatan digitalisasi nasional, tetapi juga memainkan peran strategis dalam mewujudkan visi Jakarta sebagai kota global yang modern dan inklusif.

Bank DKI (harus) terus berinovasi dalam teknologi perbankan digital untuk memberikan kemudahan, efisiensi, dan keamanan bagi masyarakat Jakarta,” kata Agus H. Widodo, Direktur Utama Bank DKI.

Namun, menjalankan transformasi digital yang menjadi keniscayaan itu, bagi Bank DKI, bukan perkara mudah. Kompleksitas layanan, ragam nasabah dari berbagai latar belakang sosial-ekonomi, dan kebutuhan untuk tetap menjaga layanan konvensional menjadi sejumlah tantangan yang dihadapi. Di sisi internal, kesiapan infrastruktur, budaya organisasi, dan keahlian digital sumber daya manusia juga menjadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi.

Merespons tantangan tersebut, Bank DKI meluncurkan strategi besar bertajuk Transformasi 5.0 pada 2021 yang berkembang menjadi Phoenix Initiatives pada 2024. Inisiatif ini melibatkan delapan pilar utama yang menyentuh seluruh aspek organisasi: dari tata kelola risiko, digitalisasi layanan, pengembangan ekosistem klien, hingga inovasi produk.

Digitalisasi layanan menjadi tulang punggung strategi ini. Super app JakOne Mobile hadir sebagai jantung transformasi layanan Bank DKI. Tidak hanya memfasilitasi pembukaan rekening dan transaksi digital, aplikasi ini juga dirancang untuk menjangkau warga hingga ke tingkat RT melalui fitur JakErte, mendukung UMKM dengan JakOne Abank, dan memberikan solusi transaksi untuk wisatawan dengan Jakarta Tourist Pass.

Bahkan, digitalisasi proses pengelolaan anggaran daerah pun direalisasi melalui aplikasi siMerak, hasil kolaborasi Bank DKI dengan Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD).

Tak berhenti pada layanan individual, Bank DKI juga membangun konektivitas antarsistem dalam ekosistem kota. Dengan menyinergikan sistem pembayarannya dengan transportasi umum seperti MRT, LRT, TransJakarta, dan JakLingko, Bank DKI menempatkan dirinya sebagai arsitek keuangan digital Jakarta.

Transformasi digital yang dirancang Bank DKI juga menyentuh aspek literasi dan budaya digital masyarakat. Satu contoh nyata ialah proyek Digital Island di Kepulauan Seribu.

Melalui pendekatan berbasis komunitas seperti festival rakyat, Bank DKI memperkenalkan layanan nontunai berbasis QRIS dan produk digital lainnya, mulai dari JakOne Abank, JakOne Merchant, hingga tabungan haji dan umroh.

Untuk menopang seluruh infrastruktur digital ini, Bank DKI memodernisasi sistem teknologi informasinya secara menyeluruh. Penggunaan Kubernetes dan Virtual Machine diadopsi untuk mendukung arsitektur microservices, memungkinkan pengembangan aplikasi yang lebih fleksibel dan adaptif.

Dari sisi keamanan, penerapan teknologi canggih seperti Privileged Access Management (PAM), Data Loss Prevention (DLP), dan Disaster Recovery Plan (DRP) menjadi bukti keseriusan Bank DKI dalam menjaga data nasabah dan memastikan kontinuitas layanan.

Modernisasi ini juga mencakup digitalisasi cabang, digitalisasi onboarding nasabah, hingga sistem antrean pintar (smart service) untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Adopsi teknologi baru seperti AI, OCR, dan data analytics juga menjadi pilar penting. Teknologi AI digunakan dalam berbagai bentuk, mulai dari e-KYC untuk verifikasi nasabah, chatbot layanan pelanggan, hingga membaca dokumen internal bank secara otomatis.

Bank DKI juga terus memperkuat pengelolaan data internal serta ekosistem digitalnya agar mampu memberikan layanan yang semakin personal, cepat, dan aman. Transformasi ini dijalankan tidak hanya sebagai proyek teknologi, tetapi sebagai gerakan kultural yang menyentuh seluruh elemen organisasi.

Kepemimpinan dalam transformasi ini memainkan peran kunci. Agus menjadi penggerak utama dalam menyusun visi dan mendorong budaya digital di seluruh lini organisasi. Di bawah komandonya, Phoenix Initiatives menjadi kompas yang mengarahkan perubahan strategis bank secara menyeluruh.

Selain membentuk tim transformasi yang tersebar di berbagai unit, seperti Grup Digital Banking, Grup IT Development & Apps, hingga Transformation Office, Agus pun memastikan adanya monitoring dan evaluasi berjenjang, yang dilakukan mulai dari dua minggu sekali di level operasional hingga tiga bulanan di level direksi.

“(Saya) juga menyupervisi pengimplementasian program transformasi dilaksanakan berjalan secara berkelanjutan, termasuk memberikan dorongan untuk budaya inovasi pada seluruh karyawan dan pihak terkait,” Agus menjelaskan.

Transformasi digital tidak hanya menuntut teknologi, tetapi juga SDM yang mumpuni. Untuk itu, Bank DKI secara aktif melaksanakan program reskilling dan upskilling bagi karyawan melalui pelatihan dan sertifikasi kompetensi digital.

Tak hanya itu, program rekrutmen Officer Development Program (ODP) Digital juga digulirkan secara rutin untuk mencetak talenta baru dengan orientasi digital yang kuat.

Seiring dengan berjalannya transformasi digital, Bank DKI pun melaju. Bank ini mencatat berbagai pencapaian signifikan. Salah satunya terlihat dari pertumbuhan kredit dan pembiayaan di sektor UMKM yang naik 15,54% secara tahunan, dari Rp 4,93 triliun pada September 2023 menjadi Rp 5,70 triliun pada periode yang sama tahun 2024. Peningkatan ini menjadi sinyal bahwa digitalisasi telah memperkuat posisi mereka dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan.

Dampak transformasi juga tecermin dalam kinerja keuangan yang semakin solid. Total aset Bank DKI meningkat 3,19% menjadi Rp 80,74 triliun per akhir kuartal ketiga 2024, sementara laba bersih melonjak ke angka Rp 513,23 miliar. Hal ini terjadi seiring dengan strategi optimalisasi Dana Pihak Ketiga (DPK) dan pertumbuhan kredit komersial yang konsisten.

Bahkan, rasio NPL gross tetap terjaga di level 2,21%, mencerminkan kualitas kredit yang tetap prima meskipun penetrasi pasar semakin luas. Likuiditas juga tetap sehat dengan rasio LDR sebesar 86,19% dan NSFR 104,17%.

Yang menarik, Agus menjelaskan bahwa transformasi digital Bank DKI bukan hanya tentang efisiensi internal, tetapi juga memperluas kontribusi sosial dan ekonomi. Program digitalisasi anggaran Pemprov DKI, distribusi bantuan sosial, hingga pembayaran pajak dan retribusi daerah secara daring telah mendorong terciptanya tata kelola yang lebih transparan dan akuntabel.

Di sisi lain, pengembangan JakOne Community Apps dan digitalisasi pasar-pasar tradisional bersama PD Pasar Jaya memperlihatkan bagaimana Bank DKI turut hadir di ruang-ruang ekonomi paling dasar, mendorong adopsi teknologi di kalangan pedagang kecil.

Salah satu inovasi yang menonjol ialah kehadiran Bank DKI sebagai BPD pertama yang menyediakan layanan transaksi lintas negara melalui jaringan ATM dan EDC UnionPay Internasional. Langkah ini memperluas cakupan layanan hingga ke luar negeri dan menjadikan Bank DKI sebagai pionir digitalisasi perbankan daerah dengan standar global.

Melalui strategi digital yang menyeluruh, Bank DKI tampak tidak hanya ingin membuktikan diri sebagai institusi yang adaptif. Namun, juga sebagai agen transformasi sosial dan institusi keuangan modern yang siap membawa Jakarta menuju masa depan digital yang inklusif dan berdaya saing tinggi. (*)

# Tag