Bangun Ekosistem Satelit, Diperlukan Pendekatan Kolaboratif dan Multipemangku Kepentingan

null
ASSI, meskipun mengalami kemajuan, industri satelit Indonesia menghadapi berbagai tantangan. (Foto: Darandono/SWA)

Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT) 2025 akan digelar pada 2–3 Juni 2025 di Fairmont Hotel, Jakarta. Konferensi tahunan ke-21 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) ini mengusung tema "Innovating Satellite Ecosystems: Unlocking Value through Collaboration and Technological Advancements".

Menurut Saiful Hidayat, Kepala Biro Conference dan Event ASSI yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia APSAT 2025, konferensi ini akan membahas isu-isu terkini seputar teknologi satelit, strategi bisnis, serta berbagai ide baru yang menjanjikan masa depan industri satelit lebih inovatif dan inklusif.

Pada hari pertama, pembahasan akan difokuskan pada lanskap bisnis dan pasar satelit. Diskusi akan dimulai dengan panel eksekutif yang menghadirkan para pelaku bisnis satelit regional untuk mengulas potensi pasar Asia Pasifik. Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi dari pelaku utama industri satelit nasional.

Setelah itu, pembahasan akan beralih ke topik inovasi dalam teknologi satelit dan sistem peluncuran, yang semakin relevan seiring meningkatnya perhatian terhadap keberlanjutan ruang angkasa.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem satelit, diskusi juga akan menyentuh pengembangan dari produsen Ground Segment Equipment, penyedia jaringan, dan integrator sistem. Peningkatan permintaan terhadap teknologi satelit menciptakan peluang baru, sekaligus menuntut solusi yang efektif dan berkelanjutan.

Sementara itu, hari kedua akan diawali dengan fokus pada inovasi layanan dalam sektor mobilitas, terutama menggali potensi, tantangan, dan kebutuhan pasar di Indonesia.

Kemudian, sesi berikutnya akan melibatkan penyedia aplikasi satelit yang akan mengeksplorasi strategi kolaboratif, menavigasi ekosistem yang kompleks, serta mengatasi berbagai tantangan utama untuk memaksimalkan manfaat dari kemajuan teknologi satelit.

Dalam upaya melibatkan lebih banyak inovator muda, ASSI juga melanjutkan inisiatif bertajuk Indonesia Aerospace Hackathon 2025. Ajang ini bertujuan menjaring solusi inovatif yang dapat menjawab tantangan teknologi, bisnis, maupun sosial dalam ekosistem industri satelit Indonesia.

Konteks ini menjadi penting, mengingat perkembangan infrastruktur digital di Indonesia yang belum merata. Pusat-pusat urban seperti kota-kota besar di Pulau Jawa mengalami kemajuan pesat, sementara wilayah pedesaan dan maritim yang luas masih belum terlayani dengan memadai akibat keterbatasan jaringan terestrial.

Kesenjangan digital ini menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi, membatasi akses terhadap layanan penting seperti pendidikan dan kesehatan, serta memperlemah respons kebencanaan di daerah rawan bencana geologis dan iklim.

Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatiputro, menyatakan bahwa teknologi satelit telah muncul sebagai solusi transformatif. Teknologi satelit telah muncul sebagai solusi transformatif, menawarkan jalur yang layak untuk menjembatani kesenjangan ini dan mempercepat transformasi digital Indonesia.

Menurutnya, dengan ambisi yang digariskan dalam Visi Indonesia Emas 2045 — peta jalan untuk menjadi pemimpin ekonomi global — negara ini mengakui teknologi satelit sebagai landasan strategi konektivitasnya.

APSAT 2025, lanjut Sigit, bertujuan menjadi platform penciptaan nilai. Konferensi ini akan mempertemukan para pemangku kepentingan untuk mencari dan mengembangkan solusi berbasis teknologi satelit guna menjembatani kesenjangan digital yang masih lebar.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa industri satelit Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Kerangka regulasi masih terfragmentasi, yang membutuhkan penyelarasan antara kebijakan domestik dan standar internasional untuk mendorong inovasi sekaligus menjaga kepentingan nasional.

Di samping itu, pembiayaan proyek satelit juga menjadi isu krusial karena tingginya investasi awal yang dibutuhkan, termasuk biaya penyebaran, pemeliharaan, serta infrastruktur pendukung di darat. Kekhawatiran keberlanjutan menambah lapisan kompleksitas lainnya: industri luar angkasa global bergulat dengan puing-puing luar angkasa, konsumsi energi, dan jejak lingkungan dari peluncuran roket.

Sementara itu, kemajuan teknologi satelit — mulai dari konstelasi satelit orbit rendah (LEO) hingga integrasi dengan analitik berbasis AI — sedang membentuk ulang lanskap industri ini secara cepat. Untuk itu, dibutuhkan kemampuan adaptasi yang gesit dan pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, demi membangun ekosistem satelit yang tangguh, berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan masa depan. (*)

# Tag