Kevin dan Quantum: Teknologi Lokal yang Siap Bersaing di Arena Global
Jakarta tidak pernah menjadi pusat gravitasi teknologi dunia. Namun dari kota ini, sebuah perusahaan rintisan bernama Quantum Teknologi Nusantara sedang membuktikan bahwa inovasi tidak mengenal koordinat. Di balik langkah cepat perusahaan ini, berdiri seorang CEO muda: Kevin Daniel Pantasdo.
“Kami percaya transformasi digital tidak harus datang dari Silicon Valley,” ujar Kevin saat ditanya tentang pesatnya pertumbuhan Quantum dalam ekosistem teknologi nasional (30/5/2025). “Indonesia memiliki kapasitas, talenta dan yang lebih penting yaitu urgensi untuk menciptakan teknologi yang berdampak.”
Sejak awal berdiri, Quantum menanamkan keyakinan penuh pada kemampuan anak bangsa. Bukan sekadar retorika, semua produk dan sistem mereka — mulai dari sistem logistik, platform komando kepolisian, hingga AI app builder — dibangun oleh tim lokal. Tim tersebut dilatih secara intensif dan bekerja dalam kultur kerja yang menekankan kecepatan, kemandirian, dan akurasi.
Bagi Quantum, keunggulan bukan hasil dari bakat semata, melainkan hasil kombinasi dari upskilling, mentalitas positif, dan ekosistem yang mendorong talenta untuk naik kelas.
Dalam waktu kurang dari lima tahun, nama Quantum telah mengisi ruang-ruang penting dalam ekosistem digital Indonesia. Ketika banyak startup masih berada di tahap pitch deck dan prototipe, Quantum sudah menjalankan proyek integrasi 27.000 aplikasi pemerintah ke dalam satu platform nasional.
“Kami percaya bahwa solusi hebat tidak harus rumit,” jelas Kevin. “Kami mulai dari sistem yang sederhana, modular, tapi bisa tumbuh dan beradaptasi sesuai kebutuhan bisnis. Kami percaya pada kecepatan, akurasi, dan keberanian mengeksekusi.”
Langkah besar Quantum tak berhenti di sektor pemerintahan. Mereka turut membangun sistem kecerdasan buatan untuk mengelola lebih dari 1.500 armada distribusi skala nasional, serta mempercepat respons operasional institusi besar seperti POLRI hingga 60% melalui platform operasional terpadu.
Lewat produk andalan seperti QuantumOps dan QuantumByte, perusahaan ini mengukuhkan bahwa teknologi berstandar global tidak melulu harus datang dari luar negeri. QuantumByte kini telah diadopsi oleh pelaku bisnis lokal, institusi pemerintahan, hingga mitra internasional.
Salah satu pencapaian menonjolnya adalah kolaborasi dengan Volkswagen untuk sistem AI forecasting, serta dukungan teknologi bagi brand fashion global Melengo yang menjangkau pasar Amerika Serikat, Asia Tenggara, dan Amerika Latin.
Tak berhenti di sana, teknologi Quantum juga menjadi bagian dari pengembangan sistem autonomous aircraft dalam proyek RAIN Aero, menandai masuknya perusahaan ini ke industri berisiko tinggi berskala global.
“Kami tidak takut bersaing dengan brand global, karena kami tahu kualitas kami bisa bicara,” ujar Kevin. “Kami percaya bahwa jika talenta lokal diberikan ruang dan ritme yang tepat, hasilnya tidak kalah. Justru yang sering kurang adalah keberanian untuk membawa karya kita ke luar.”
Kini, setelah sukses mentransformasi institusi-institusi besar dan mengatasi tantangan birokrasi yang kompleks, Quantum mengalihkan fokusnya pada agenda yang lebih mendasar: demokratisasi teknologi. Visi mereka bukan hanya membangun solusi untuk perusahaan besar, tetapi juga menciptakan akses bagi komunitas lokal, UMKM, hingga individu kreatif.
“Kami sudah buktikan bisa mengubah yang besar dan rumit. Sekarang waktunya membawa teknologi ini ke lebih banyak tangan. Bukan cuma soal efisiensi, tapi soal membebaskan potensi,” tutup Kevin.
Quantum Teknologi Nusantara memang menjanjikan narasi besar tentang kemandirian teknologi nasional. Namun di tengah pujian, tetap penting mengamati bagaimana skala adopsi, keberlanjutan teknologi, dan keberhasilan bisnis perusahaan ini berkembang dalam ekosistem yang semakin kompetitif. Ambisi boleh besar, tapi daya tahan di tengah turbulensi industri akan menjadi ujian sebenarnya. (*)