Valuasi Bisnis Rp108 Triliun Meski Peringkat 15: Kisah Manchester United dan Daya Tahan Merek
Pada musim 2024/2025, malam-malam di Old Trafford semakin sering ditutup dengan sunyi. Saat tribun mulai kosong dan langit Manchester menggigit tulang, papan skor tetap tak bersahabat. Manchester United tampak makin akrab dengan kekalahan. Bukan kekalahan tragis yang akan dikenang sejarah, melainkan kekalahan-kekalahan biasa. Skor yang datar. Emosi yang tumpul. Kekalahan yang begitu sering datang hingga kehilangan rasa.
Ketika Kekalahan tak Berarti
Musim ini, MU mengakhiri Premier League di peringkat ke-15 (hanya mencetak 11 kemenangan, 9 seri, dan menelan 18 kekalahan). Tanpa trofi. Tanpa tiket Liga Champions.
Bagi banyak klub, apalagi klub besar, itu adalah musim yang layak dilupakan. Bahkan memalukan. Tapi bagi MU, ada yang menarik. Dalam dunia yang semakin memperlakukan sepak bola sebagai bisnis hiburan global, kekalahan di lapangan, ternyata tak serta merta berarti kemerosotan.
Forbes baru saja (30/5/2025) merilis daftar tahunan klub sepak bola paling bernilai di dunia. Dan hasilnya mengejutkan: MU menduduki posisi kedua dengan valuasi fantastis, US$6,6 miliar (sekitar Rp108 triliun), hanya kalah tipis dari Real Madrid (US$6,75 miliar). Menariknya, MU mengungguli Manchester City yang secara performa jauh lebih superior selama beberapa musim terakhir.
Berikut 10 besar klub sepak bola paling bernilai versi Forbes 2025:
-
Real Madrid – US$6,75 miliar
-
Manchester United – US$6,6 miliar
-
Barcelona – US$5,65 miliar
-
Liverpool – US$5,4 miliar
-
Manchester City – US$5,3 miliar
-
Bayern Munich – US$5,1 miliar
-
Paris Saint-Germain – US$4,6 miliar
-
Arsenal – US$3,4 miliar
-
Tottenham Hotspur – US$3,3 miliar
-
Chelsea – US$3,25 miliar
Mengapa ini disebut mengejutkan?
Menurut The Athletic, pencapaian ini menjadi anomali mencolok. MU menyelesaikan dua musim terakhir dengan performa buruk: peringkat delapan pada 2023/2024 dan turun drastis ke peringkat lima belas pada 2024/2025. Namun, di tengah keterpurukan performa tersebut, valuasi bisnis mereka justru meningkat.
Kok bisa?
Mitos yang Menjual
Jika hanya melihat tabel liga atau hasil pertandingan, pencapaian MU musim ini nyaris tragis dan membuat fansnya menangis. Tapi valuasi klub tidak ditentukan oleh skor semata. Forbes menghitung nilai klub berdasarkan empat pilar utama: pendapatan hari pertandingan, pendapatan siaran, pendapatan komersial, dan kekuatan merek. Dan di sinilah, menurut The Athletic, MU justru tetap unggul.
Brand MU adalah warisan. Ia bukan hanya tentang siapa yang mencetak gol, tapi tentang siapa yang pernah menjadi bagian dari cerita besar. Dari Sir Alex Ferguson hingga Ronaldo, dari Busby Babes hingga Class of '92, MU adalah mitologi yang hidup.
Klub berjuluk Setan Merah ini telah menjelma dari klub sepak bola menjadi simbol budaya global. Bahkan di tengah performa mengecewakan, MU tetap menjual tiket, jersey, dan pengalaman. Di Jakarta, Lagos, Mumbai, hingga New York, stadion bisa kosong tapi toko merchandise tetap penuh.
Menurut David A. Aaker dalam Managing Brand Equity (1991), kekuatan sebuah brand dibentuk oleh lima pilar utama: brand awareness, perceived quality, brand associations, brand loyalty, dan proprietary brand assets. MU unggul hampir di semua lini ini. Meski performa menurun, kesadaran merek dan loyalitas tetap tinggi. Brand equity mereka masih utuh, bahkan ketika tim keok.
Forbes mencatat bahwa Real Madrid memang mencetak rekor pendapatan tahunan sebesar US$1,13 miliar, menjadi klub pertama yang menembus angka tersebut. Tapi MU tetap jadi klub dengan brand paling tangguh, bahkan ketika ia sedang tersungkur. Karena perhatian dunia tetap terjaga. Dan dalam ekonomi hiburan, perhatian adalah komoditas yang paling mahal.
Namun ada pertanyaan besar yang tak bisa dihindari: sampai kapan ini bertahan? Sampai kapan brand bisa terus bernilai jika performa tak kunjung membaik?
Antara Nostalgia dan Realitas
Brand, pada akhirnya, adalah tabungan emosi. MU telah menabung kepercayaan selama puluhan tahun. Tapi tabungan pun bisa habis jika terus ditarik tanpa pernah diisi ulang. Dalam dua musim terakhir, MU finish di posisi delapan dan lima belas. Fans mulai kecewa, sponsor mulai berhitung ulang, dan generasi baru tak lagi tumbuh dengan cerita kemenangan.
Konsep Lovemarks dari Kevin Roberts sangat relevan di sini. Dalam buku Lovemarks: The Future Beyond Brands (2004), Roberts menyatakan bahwa untuk melampaui status “brand”, sebuah merek harus menjadi Lovemark, yakni merek yang tidak hanya dihormati, tetapi juga dicintai secara emosional oleh konsumennya. Ia menyebut bahwa cinta (love) dan respek (respect) adalah dua sumbu yang membedakan antara produk, merek, dan lovemark. Di sini: MU bukan lagi sekadar brand, tapi objek cinta.
Menurut The Athletic, kesenjangan antara performa dan valuasi ini mencerminkan pergeseran industri olahraga. Klub tak lagi sekadar dinilai dari trofi, tapi dari kapasitas mereka membangun komunitas global dan menjual emosi secara konsisten.
Douglas Holt dalam How Brands Become Icons (2004) menyebutnya sebagai brand as cultural narrative, di mana merek hidup karena kisah yang dipercaya banyak orang. MU tampak masih menjual narasi kejayaan, bahkan ketika kenyataan berkata sebaliknya.
Ya, kenyataan di sisi finansial telah bicara...
Realitas finansial Manchester United tidak semanis laporan valuasi. Menurut The Guardian, klub mencatatkan kerugian bersih sebesar £113,2 juta untuk tahun fiskal yang berakhir Juni 2024. Ini menjadi tahun kelima berturut-turut MU membukukan kerugian, dengan total akumulasi melebihi £370 juta selama lima tahun terakhir.
Kekalahan dari Tottenham Hotspur di final Liga Europa turut memperburuk situasi. Saham MU anjlok sekitar 7,8% setelah kekalahan tersebut, menghapus nilai pasar sebesar £160 juta. Selain kehilangan trofi, klub juga gagal lolos ke Liga Champions musim depan. Sebuah pukulan besar yang diperkirakan menghilangkan potensi pendapatan lebih dari £100 juta dari tiket, hak siar, dan sponsor.
Tak berhenti di situ, MU juga harus menanggung penalti sebesar £10 juta dari Adidas akibat gagal tampil di Liga Champions selama dua musim berturut-turut, sebagaimana diungkapkan The Times. Ini menunjukkan bahwa bahkan klub dengan brand paling kuat pun tidak kebal terhadap konsekuensi dari krisis performa di lapangan.
Untuk merespons tekanan itu, manajemen melakukan pemangkasan biaya operasional, termasuk memberhentikan sekitar 250 staf. Di tengah kondisi tersebut, mereka tetap melakukan investasi besar dengan mendatangkan Matheus Cunha dari Wolverhampton seharga £62,5 juta.
Sementara itu, proyek ambisius pembangunan stadion baru berkapasitas 100.000 penonton telah diumumkan, sebagai bagian dari strategi jangka panjang membangun kembali kebesaran klub.
MU juga menghadapi risiko pelanggaran regulasi Profitabilitas dan Keberlanjutan Liga Premier, dengan akumulasi kerugian tiga tahun melebihi £300 juta.
Di sisi lain, Sir Jim Ratcliffe, melalui INEOS, kini telah memiliki 27,7% saham klub dan mengambil alih kendali operasional sepak bola, memberi harapan pada arah baru yang lebih terkendali.
Narasi Baru
Manajemen boleh bergerak cepat. Tim boleh merekrut pemain baru. Bahkan menjadwalkan tur ke berbagai negara demi menyentuh pasar global dan menyulut kembali antusiasme fans.
Tapi dalam dunia yang diatur oleh logika attention economy, semua itu hanya berarti jika berhasil merebut dan mempertahankan perhatian.
Herbert Simon pernah mengingatkan, di zaman sekarang, yang paling bernilai bukan lagi produk, tapi perhatian. Manchester United menguasai panggung itu. Mereka punya sekitar 225 juta pengikut global di media sosial, menjadi konten abadi di media sosial, dan tetap mendominasi percakapan global meski terus kalah. Bahkan, di Tanah Air ada celetukan, "Nggak MU, nggak makan" karena banyaknya content creator yang membuat konten seputar MU: entah memuji, tapi lebih banyak memancing netizen agar mem-bully.
Namun, spotlight pun punya batas waktu. Pertanyaannya: berapa lama sorotan itu bertahan jika panggung tak lagi menyuguhkan cerita baru?
Kekuatan sebuah brand tak bisa hidup abadi dari nostalgia. Ia butuh aktualisasi. Butuh narasi baru. Kemenangan baru. Momen baru yang bisa dirayakan bersama, bukan sekadar dikenang.
Ketika klub-klub seperti Manchester City, Inter Miami, bahkan Los Angeles FC membangun masa depan dengan agresif, baik dari sisi talenta, infrastruktur, maupun strategi digital, MU masih sibuk menjual potongan masa lalu. Mereka menjajakan ingatan, sementara kompetitor menciptakan pengalaman. Dan meski valuasi mereka tetap tinggi, nilai sejati sebuah merek tidak ditentukan oleh laporan Forbes, melainkan oleh seberapa kuat ikatan emosional itu bisa bertahan di hati penggemar.
Manchester United adalah pengingat bagi siapa saja yang membangun merek: bahwa kejayaan masa lalu adalah modal, bukan jaminan. Bahwa brand besar bisa menahan badai sesaat, tapi tanpa arah baru, bahkan raksasa pun bisa menjadi mitos yang ditinggalkan zaman.
Musim 2025/2026 akan menjadi panggung ujian sebenarnya. Sebuah musim yang akan dijalani klub sekelas MU hanya di kompetisi domestik. Tidak ada Liga Champions. Tidak ada Liga Europa. Hanya kebisingan di rumah sendiri. Dan mungkin, saat itulah dunia akan melihat: apakah merek ini masih hidup, atau hanya gema dari kejayaan yang sama-samar. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.