Misi Satu Juta Sapi Perah: Langkah Besar Menuju Swasembada Susu 2029
Hari Susu Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap manfaat susu bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor peternakan sapi perah di Indonesia. Susu menyimpan beragam manfaat — kaya akan protein, kalsium, vitamin D, asam amino, dan berbagai nutrisi lainnya yang dibutuhkan tubuh untuk mendukung kecerdasan, pertumbuhan, serta kesehatan secara keseluruhan.
Dalam sesi talkshow di Institut Pertanian Bogor, Senin (2/6/2025), Nuraini Zainuddin, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian, menegaskan pentingnya pemilihan susu yang baik untuk semua kalangan usia. “Untuk lansia, disarankan meminum empat gelas susu saja,” ungkapnya.
Namun, di balik ajakan minum susu, Indonesia masih menghadapi tantangan besar di sektor hulu. Berdasarkan data internal Kementerian Pertanian, populasi sapi perah di tahun 2025 diperkirakan sekitar 540.657 ekor, dengan rata-rata produksi susu 16 liter per ekor per hari. Angka ini masih tergolong rendah dibandingkan kebutuhan nasional.
“Produksi susu masih cukup rendah karena keterbatasan input daripada produksi, khususnya pemberian pakan yang berkualitas. Kemudian yang kedua, kurangnya minat generasi muda yang tidak mau menjadi peternak,” jelas Nuraini.
Untuk menjawab tantangan tersebut dan mencapai target swasembada susu pada tahun 2029, pemerintah telah merancang langkah besar: mengimpor satu juta ekor sapi perah dalam waktu lima tahun.
“Perlu adanya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, tenaga kesehatan, peternak, masyarakat luas menjadi kunci di dalam meningkatkan konsumsi susu nasional tahun 2025 sampai tahun 2029,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa penambahan satu juta ekor sapi perah akan dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah dan swasta. Hingga saat ini, sudah ada 196 peternak yang berkomitmen untuk menjadi pemasok sapi perah sebanyak 998.065 ekor.
Tantangan lain datang dari sisi hilir. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah di kawasan Asia Tenggara.
Brunei Darussalam menempati posisi pertama dengan konsumsi 70 kilogram per kapita per tahun, disusul oleh Myanmar, Thailand, Malaysia, dan Vietnam dengan angka konsumsi sekitar 25 kilogram per kapita per tahun. Sementara itu, konsumsi susu di Indonesia masih jauh di bawah angka tersebut.
Menjawab kenyataan ini, Nuraini kembali menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. “Perlu adanya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, tenaga kesehatan, peternak, masyarakat luas menjadi kunci di dalam meningkatkan konsumsi susu nasional,” ujarnya menegaskan kembali.
Ia juga menyebutkan sejumlah langkah strategis yang sedang diupayakan Kementerian Pertanian. Di antaranya adalah memperkuat posisi peternak rakyat, mendorong lahirnya Peraturan Presiden tentang Persusuan Nasional, serta merealisasikan program pembagian susu gratis bagi siswa sekolah.
“Kementan berkomitmen penuh menyukseskan Hari Susu Sedunia, bukan hanya di Jakarta tapi juga di daerah-daerah. Kami ingin peternak tidak hanya jadi pelengkap, tapi pilar utama dalam pembangunan gizi nasional,” tandas Nuraini. (*)