TEDxUPJ 2025 : Industri Fesyen Dipacu Mengkreasikan Ekonomi Sirkular

nullDino Augustino, Fashion Design Lecturer, Lasalle College & Sustainability Consultant. Foto: Syifa/SWA

Berdasarkan Ellen MacArthur Foundation, industri fesyen bertanggung jawab atas 10% emisi karbon global. Industri fesyen juga menjadi konsumen dengan pasokan air terbesar kedua di dunia. Selain itu, industri ini menghasilkan 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun.

Dino Augustino, Fashion Design Lecturer, Lasalle College & Sustainability Consultant, mengungkapkan industri fesyen saat ini berkembang sangat cepat. Saking cepatnya, justru membuat sampah fesyen kian membukit.

Pakaian dengan campuran bahan polyester lebih dari 50%, hanya bisa terurai 100-200 tahun ke depan. Sementara produksi fesyen sampai hari ini, masih terus berjalan sekitar 92 juta ton di dunia dan 3-4 juta ton atau 0,3% di antaranya berada di Indonesia.

"3 dari 10 orang Indonesia membuang pakaian yang tidak lagi diinginkan setelah memakainya satu kali," ucap Dino dalam acara TEDxUPJ 2025 brtemakan Sustainable Urban Living, pada Kamis (5/6/2025). Mode sekali pakai atau mode cepat, imbuh Dino, merujuk pada praktik memproduksi pakaian murah yang dirancang untuk dikenakan beberapa kali sebelum dibuang.

Mode ini mengutamakan kecepatan dan biaya rendah daripada daya tahan dan kualitas, mengakibatkan banyaknya pergantian model baru dan aliran limbah tekstil yang terus-menerus. Mode cepat dikritik karena dampak negatifnya terhadap lingkungan dan praktik ketenagakerjaan.

Pada akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an, pelaku bisnis seperti Zara dan H&M telah menguasai dunia mode dengan model bisnis mode cepat mereka. Mereka berhasil membangun koleksi baru dengan cepat dan memahami tren mode lebih cepat daripada pelaku bisnis tradisional.

Kemudian, siklus produksi dipersingkat menjadi 2-3 minggu dibandingkan siklus produksi pemain/pesaing tradisional yang memakan waktu lebih dari enam bulan. Dari produksi yang cepat itu, pelaku bisnis lalu menyediakan pakaian dari gudang pusat ke toko-toko utama dalam waktu 24-48 jam.

Alhasil, perputaran pakaian tinggi. Gaya dan desain fesyen berubah setiap minggu, sehingga konsumen dapat memiliki variasi yang luas alias terus-menerus membeli fesyen.Dino menyarankan untuk mengurangi limbah dalam produksi melalui penggunaan sumber daya yang lebih efisien. Contohnya adalah melacak dan mengontrol suhu pipa uap dan mengatur rasio udara-bahan bakar di boiler.

Selain itu, penggunaan kembali produk juga bisa menjadi opsi. Tujuannya untuk mengubah proposisi nilai konsumen yang awalnya model Jeg'servitisation menjadi penyewaan.

Penggunaan bahan ramah lingkungan juga mesti didorong. "Kain tenun khas Indonesia yang Anda pakai, benang berbahan cotton-nya masih berasal dari India. Di Indonesia, cotton kita belum cukup, belum berdaulat," ungkap Dino.

Sejatinya, membeli fesyen baru merupakan opsi terakhir bagi konsumen untuk menjaga perputaran limbah tekstil tak semakin menumpuk. Sementara, menggunakan kembali fesyen yang sudah dimiliki menjadi puncak kesadaran konsumen untuk mengurangi limbah tekstil.

"Ketika mau belanja, tanya dulu 300 kali di dalam kepalanya, apakah pakaian baru akan dipakai 5-10 tahun lagi. Fokus pada kualitas, timeless dan kecocokan pada diri penggunanya," pungkas Dino.(*)

# Tag