Arif Gobel: Jalan Sunyi Seorang Pewaris yang Membawa Filosofi Pohon Pisang
Di dalam studio podcast BizzComm, di gedung LSPR, Mohammad Arif Gobel duduk dengan gestur tenang yang lebih menyerupai pewaris nilai ketimbang pewaris jabatan.
Tak ada upaya untuk membesarkan nama sendiri, apalagi menjual narasi kepemimpinan penuh gebrakan. Direktur PT Panasonic Gobel ini tampil sebagai diri yang dibentuk oleh sejarah panjang dan keheningan berpikir.
Bagi Arif, setiap langkah hari ini adalah gema dari masa lalu, warisan yang tidak hanya harus dipertahankan, tapi juga diarahkan ulang menuju masa depan.
Warisan yang Bergerak
Gobel Group, yang berdiri sejak zaman radio transistor masih menjadi barang langka, telah menjelma menjadi sebuah lembaga nilai. Di dalamnya, transformasi bukan sekadar proyek digitalisasi, melainkan proses menerjemahkan kembali semangat pendiri perusahaan ke dalam konteks hari ini.
Arif datang sebagai generasi ketiga, dan itu berarti tanggung jawabnya bukan membesarkan yang sudah besar, tapi menyambungkan yang dulu dengan yang kini.
Yang ia warisi bukan hanya pabrik, gudang, atau portofolio bisnis, tapi serangkaian prinsip hidup yang ditulis dengan tangan. Salah satu prinsip itu berbunyi sederhana namun keras dalam makna: “Utamakan menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman.”
Prinsip ini, yang digariskan oleh sang kakek, Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel, bukan sekadar kutipan motivasional, melainkan instruksi hidup. Arif mengakui bahwa prinsip itu telah menjadi peta jalan dari banyak keputusan yang ia buat hari ini.
Meski demikian, tak mudah membuat sebuah korporasi mapan menyesuaikan diri dengan perubahan yang bersifat eksponensial. Apalagi jika organisasi tersebut dibentuk dalam lanskap bisnis yang berbeda dari hari ini: lebih tertib, lebih hierarkis, lebih lambat.
Arif paham betul bahwa tantangan terbesar dari transformasi bukanlah teknologi, melainkan cara berpikir. Mengubah sistem mudah, mengubah kebiasaan jauh lebih pelik. Maka pendekatannya pun bukan dengan memaksa, tetapi dengan mengajak: membangun kesadaran perlahan-lahan agar perubahan tidak sekadar terjadi, tapi diterima.
Ia menyebut tantangan ini sebagai bagian dari amanah. “Jadi kita harus mengutamakan diri kita, ataupun pekerjaan kita dengan perubahan-perubahan yang ada sekarang,” katanya, dengan nada yang tidak terdengar seperti jargon, melainkan kesadaran yang dipikul setiap hari. Kalimat itu lahir dari proses panjang, bukan dari sesi pelatihan manajemen.
Filosofi Pohon Pisang
Arif tidak terburu-buru menghapus tradisi demi pembaruan. Ia justru membongkar ulang nilai-nilai lama untuk melihat apa yang masih relevan. Baginya, banyak hal dalam perusahaan keluarga bukan perlu diganti, tapi dipahami kembali. Ia tumbuh bersama tujuh prinsip hidup yang ditanamkan oleh pendiri perusahaan.
Prinsip-prinsip itu, yang setiap paginya diucapkan dalam apel karyawan, bukan sekadar ritual korporat, melainkan pengingat bahwa bisnis Gobel dibangun dari akar yang lebih dalam dari sekadar laba rugi.
Salah satu prinsip yang paling mengakar adalah pengabdian pada negara melalui industri. Dalam pandangan keluarga Gobel, membangun usaha berarti membangun bangsa.
Itulah sebabnya mengapa perusahaan ini tak hanya hadir dalam wujud pabrik elektronik, tapi juga dalam bentuk lapangan kerja, kemitraan dengan UMKM, dan berbagai bisnis turunan lain yang menopang aktivitas utama mereka. Dari usaha manufaktur lahirlah kebutuhan akan katering, yang pada mulanya hanya untuk karyawan, tapi berkembang menjadi lini bisnis tersendiri.
Di tengah ekspansi itu, Arif tetap memegang teguh esensi dari setiap unit usaha yang dibentuk: bukan untuk menumpuk diversifikasi, tapi untuk menciptakan ekosistem yang saling menopang. Ia melihat bahwa kekuatan Gobel bukan pada apa yang dimiliki, tetapi bagaimana semua itu saling terhubung dan saling menghidupi.
Bahkan lini bisnis seperti logistik, properti, hingga perdagangan bukan muncul dari ambisi, melainkan dari kebutuhan akan kemandirian operasional. Bagi Arif, pertumbuhan yang sejati adalah pertumbuhan yang tetap menyisakan ruang untuk nilai.
Nilai itu pula yang menjadi dasar dari filosofi internal keluarga: filosofi pohon pisang. Ia menjelaskannya dengan tenang, seolah menyampaikan cerita lama yang masih relevan hari ini.
“Itu semuanya, ya semua parts-nya (dari pohon pisang) berguna bagi masyarakat, dan sebelum itu mati, dia sudah menanamkan generasi selanjutnya.” Bagi Arif, itulah bentuk kontribusi yang utuh: tidak hanya memberi hasil, tapi juga menjamin keberlanjutan lewat regenerasi.
Dalam perjalanan kariernya yang baru berjalan empat hingga lima tahun secara resmi, Arif justru mendapat pelajaran dari hal-hal yang kelihatannya remeh. Ia menyebut bahwa banyak dari langkah kecil yang ia ambil justru membuka pintu perubahan yang lebih besar.
Di antaranya adalah hal sederhana yang selama ini tak terpikirkan oleh para senior di perusahaan: keberadaan media sosial resmi. Sampai dua tahun lalu, Gobel bahkan belum memiliki akun Instagram.
“Sampai mungkin dua tahun kebelakang kita nggak punya Instagram Gobel,” ujarnya. Di titik inilah Arif mengerti bahwa transformasi digital kadang dimulai dari keterlambatan menyadari bahwa dunia sudah berubah.
Langkah kecil itu berdampak besar. Ketika tim media sosial mulai aktif, banyak pihak yang baru sadar bahwa Gobel masih ada dan terus bergerak. Di balik keputusan membuka akun Instagram, terselip semangat untuk memperkenalkan ulang identitas perusahaan kepada generasi baru.
“Jadi karena kita memang konvensional sekali ya. Tradisional,” ucap Arif, sambil tersenyum. Kini, eksistensi bukan lagi soal hadir secara fisik di pasar, tapi soal hadir dalam kesadaran publik. Dan itu, menurutnya, sama pentingnya.
Makna Gobel
Transformasi, dalam pemahaman Arif Gobel, tidak hanya tentang digitalisasi dan sistem baru. Ia juga tentang penafsiran ulang terhadap identitas. Dalam banyak kesempatan, nama keluarga sering kali hanya menjadi simbol biologis.
Tapi tidak bagi Arif. Putra Rachmat Gobel ini meyakini bahwa kata “Gobel” memuat misi yang jauh lebih luas dari garis darah. Bukan sekadar nama marga, Gobel, dalam konteks bisnis, adalah singkatan dari "gerakan organisasi bina ekonomi lemah". Sebuah frasa yang terdengar seperti jargon ideologis, namun baginya adalah arah kompas.
Makna itu ditanamkan sejak dini oleh Thayeb Mohammad Gobel dan Rachmat Gobel, dan kini menjadi dasar dari cara Gobel Group melihat perannya dalam masyarakat. Bukan hanya sebagai entitas komersial, melainkan agen yang memperkuat struktur ekonomi dari bawah ke atas.
Itulah sebabnya diversifikasi usaha mereka tak berhenti di pabrik elektronik, tapi meluas ke logistik, hospitality, hingga katering. Bahkan bisnis katering itu sendiri, seperti dikisahkan Arif, bermula dari keprihatinan akan karyawan yang tak sempat sarapan. Dari kantin internal yang dirintis oleh para istri karyawan, lahirlah unit usaha yang kemudian berdiri sendiri.
Namun membangun organisasi yang besar dan kompleks berarti juga harus mengelola spektrum manusia yang tak seragam. Di dalam Gobel Group, Arif menyaksikan benturan ritme dan cara pandang antargenerasi. Ia menyadari bahwa perubahan tak bisa menyenangkan semua pihak. “Untuk pleasing semuanya, itu nggak bisa. Jujur memang itu tidak bisa,” katanya, tanpa menyesal.
Maka, yang ia tawarkan bukanlah kompromi teknis, tetapi penyatuan visi: bahwa semua yang bekerja di dalam Gobel harus memahami arah geraknya, terlepas dari usia atau latar belakang.
Upaya menyatukan visi itu diwujudkan dalam hal-hal sederhana yang dilakukan terus-menerus. Salah satunya adalah apel pagi. Tradisi ini bukan hanya rutinitas fisik, tapi ruang yang diciptakan untuk menyampaikan nilai secara langsung, tanpa medium formal yang kaku.
Di situ para pemimpin bisa menyuarakan pemikiran, memberi konteks terhadap keputusan, dan mengingatkan ulang akan prinsip-prinsip dasar perusahaan. “Di situ kita menyampaikan juga pemikiran-pemikiran dari semuanya sebetulnya harus maju… nilai-nilai perusahaan, apa yang kurang sekarang, dan apa yang harus diperbaiki.”
Di tengah segala tantangan, Arif tidak tergesa-gesa. Ia tahu bahwa membangun perubahan dalam sistem tua bukan seperti mengganti peranti lunak, melainkan seperti memutar kapal besar di tengah laut.
Saat ditanya sejauh mana transformasi itu berjalan, ia menjawab tanpa perlu sok optimistis: “Kalau sekarang ini apa yang dilakukan, paling baru tiga lah ya. Masih very very early-lah.” Tapi justru dari kejujuran semacam itu, tampak bahwa perubahan di Gobel berjalan dengan akar, bukan hanya dengan gebrakan.
Melintasi Abad
Dalam perjalanan mengubah warisan menjadi gerak yang relevan, Arif Gobel menyadari satu hal: bahwa transformasi tak akan pernah selesai. Setiap langkah kecil yang diambil hari ini, bisa saja jadi fondasi atau justru jadi umpan balik untuk evaluasi esok.
Anak muda kelahiran Jakarta pada 18 April 1995 ini tak membingkai masa depan Gobel Group dengan kalimat-kalimat besar. Sebaliknya, ia bicara soal kesinambungan, tentang membuat organisasi ini tidak hanya bertahan, tapi tetap bernilai dalam konteks apa pun yang akan datang.
Salah satu langkah yang ia ambil untuk menjaga napas panjang itu adalah membangun kesadaran historis di internal perusahaan. Tahun lalu, dalam rangka ulang tahun ke-68 Gobel Group, ia dan tim menyelenggarakan instalasi sejarah. Di sana, dipamerkan perjalanan pendiri perusahaan: dari produk pertama, prinsip hidup, hingga jas-jas tua yang pernah dikenakan.
Menurutnya, instalasi itu bukan sekadar pameran nostalgia, tapi medium bagi karyawan — terutama yang muda — untuk merasa memiliki. Sebuah ikhtiar menjahit sejarah dengan identitas hari ini.
Meski sifatnya sementara, instalasi itu membekas. Banyak karyawan yang untuk pertama kalinya memahami bahwa di balik jam kerja dan sistem SOP, ada cerita hidup yang membentuk dasar dari semua ini. Arif menyebut bahwa efeknya bukan hanya emosional, tapi juga memberi arah.
“Ternyata sejarahnya itu nggak cuma ini aja, ternyata kita punya sejarah yang cukup panjang, dan nilai-nilai yang kita panamkan ataupun yang kita jalankan itu punya apa namanya ya, tujuan yang baik,” katanya dengan nada yang dalam.
Dari titik itu, ia mulai memikirkan cara agar nilai-nilai itu bisa terus hidup: bukan dalam bentuk spanduk atau pelatihan, tapi dalam ruang permanen yang hidup: sebuah museum Gobel.
Namun ia tidak berhenti di sana. Ia memimpikan lebih dari sekadar museum. Ia ingin membawa Gobel melintasi abad. “Kita ingin Gobel bisa jadi perusahaan yang 100 tahun. Kita baru 69 tahun ya sekarang, tapi kita bisa menuju ke sana kalau kita tetap punya value yang kuat,” ujarnya.
Menutup percakapan dalam podcast itu, Arif tidak memberi janji, melainkan ajakan. “Kita dituntut, selalu harus dituntut untuk berubah,” katanya.
Lalu ia menambahkan satu kalimat yang terasa sangat pribadi, sekaligus universal: “Kita juga jangan malu-malu, jangan segan-segan untuk terus belajar.”
Di balik kalimat itu, tersimpan seluruh esensi perjalanan generasi ketiga: warisan bukan beban, melainkan bahan bakar. Dan belajar, adalah bentuk terendah hati dari kepemimpinan yang paling tulus. (*)