Boy Lukito dan Jalan Sunyi Pizza Hut Indonesia (Bagian 3 — Jeda Kecil, Harapan Panjang)
Dari Super Supreme hingga Musang King, dari BYOD hingga konsolidasi gerai, Boy yakin bahwa dalam bisnis makanan, yang paling bertahan bukan yang paling viral — tapi yang paling tulus.
Konsolidasi di Tengah Luka
Namun tak semua hal bisa diselamatkan. Ada hal-hal yang, sekeras apa pun diupayakan, tetap harus dilepas.
Tahun 2024 menjadi saksi. Sedikitnya 20 gerai harus ditutup. Bukan karena menyerah, tapi lantaran memilih untuk tak lagi bertahan di tempat yang telah kehilangan denyutnya.
Boy menyebut langkah yang realistis itu sebagai bentuk konsolidasi. Baginya, tak perlu memaksakan diri berdiri di atas tanah yang tak lagi subur. Tak perlu pula membiarkan karyawan berdiri di balik etalase kosong, hanya demi mempertahankan simbol eksistensi yang hampa makna.
Namun sebagai CEO, ia juga sepenuhnya menyadari, di balik keputusan strategis itu, tersimpan beban, perasaan tak nyaman, dan kegelisahan, yang tak tercatat dalam neraca. Yang tak bisa dilihat, hanya bisa dirasa. Sebab di balik angka, ada manusia. Di ekosistem Sarimelati, sebelas ribu jiwa menggantungkan harap — sebagian besar pekerja paruh waktu, sebagian lainnya tulang punggung keluarga.
Tahun 2024 pun menorehkan dirinya sebagai babak yang tak ringan. Laporan keuangan PZZA kembali memuat luka. Penjualan bersih tergerus cukup dalam, dari Rp3,54 triliun menjadi Rp2,79 triliun. Ini bukan sekadar selisih angka, tapi jarak emosional antara masa lalu dan kenyataan: meja-meja makan yang dulunya riuh kini menyisakan sunyi.
Kerugian bersih pun masih menghantui: Rp72,83 miliar tercatat sebagai angka akhir tahun. Nilai kerugian ini memang mengecil dari tahun sebelumnya yang menyentuh Rp96,22 miliar, namun tetap meninggalkan rasa pahit yang sulit ditelan.
Dan pasar modal, seperti cermin yang tak bisa berdusta, memantulkan segalanya. Per 30 Desember 2024, saham PZZA terjun bebas ke titik nadir: Rp113 per lembar. Sebuah angka yang tak hanya menunjukkan penurunan valuasi, tapi juga kepercayaan yang terkikis oleh waktu dan keadaan. Sebab per 29 Desember 2023, harganya masih Rp370 per lembar. Merosot 69,46% dalam setahun.
Toh Boy tetap menatap ke depan. Dia merasa strategi MORE tetap layak dijalankan. Apalagi dia melihat, hasil yang telah dijalankan tidak sepenuhnya buruk.
Di berbagai kota, kegiatan komunitas yang sempat terhenti mulai kembali. Dapur komunitas dibuka lagi. Forum ibu-ibu PKK kembali menyambut. Anak-anak kembali datang dalam acara Pizza Maker Junior, membuat adonan, menaburkan keju, dan memanggil pizza dengan nama mereka sendiri. Di sana, kehangatan hadir kembali, tanpa perlu narasi pembelaan.
Sebuah Jeda
Berbekal keyakinan yang tak lekang oleh riuh, Boy menapaki tahun 2025 dengan langkah mantap namun penuh kesadaran. Ia tetap tak memilih jalan gaduh. Tak tergoda untuk membalas atau menjelaskan terlalu banyak.
Alih-alih bersilat kata, ia lebih memilih menyusun bukti: lewat strategi yang dijalankan dengan konsistensi, inovasi yang terus menyala, dan operasional resto yang terus dipoles agar efisien dan produktif.
Di balik layar, ia terus menyulam cerita-cerita kecil yang baik — cerita yang tak minta sorak-sorai, hanya butuh waktu untuk tumbuh dan dikenal.
Dan waktu pun mulai berbicara...
Dalam tiga bulan pertama 2025, angka-angka mencatatkan harapan. Sarimelati bangkit, meski masih tertatih. Laba bersih Rp419 juta menghapus luka lama dari kerugian Rp59 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan bersih pada tiga bulan pertama 2025 juga tumbuh 10,8% secara tahunan, mencapai Rp707 miliar. Sementara itu, laba bruto meningkat menjadi Rp495 miliar dari Rp433 miliar di periode sebelumnya, dengan marjin laba bruto yang melesat ke 69,9%.
EBITDA bahkan tumbuh 149,2% menjadi Rp111 miliar, dengan marjin yang membaik dari 7% menjadi 15,7%. Sementara dari dapur operasional, laba Rp12 miliar menggantikan nestapa kerugian Rp60 miliar yang dulu menghantui.
Apa yang terjadi?
Menurut Boy, pertumbuhan kinerja ini didorong oleh strategi peluncuran produk-produk baru yang inovatif serta respons positif dari pasar. Salah satunya adalah “Menu Seriously Musangking” dan dua menu andalan yang diperbarui: Pizza L1MO dan QU4RTZA. Keduanya hadir dengan topping baru Dip n Crunch yang berhasil mendongkrak penjualan dan memicu antrean di berbagai gerai.
Begitu pun di sisi operasional. Transformasi digital lewat BYOD memberikan hasil. Semua meja yang telah dilengkapi QR code memungkinkan pelanggan memesan langsung lewat ponsel pintar mereka.
Bukan cuma itu, pada kuartal I 2025 ini, Boy juga memperluas jaringan dengan membuka dua outlet baru: Pizza Hut Restaurant di Gianyar, Bali, dan Pizza Hut Ristorante di Pakuwon Mall, Bekasi. Ekspansi ini menyasar wilayah-wilayah dengan potensi pertumbuhan tinggi, sejalan dengan strategi jangka panjang perusahaan.
Apakah ini kemenangan?
Ia hanya tersenyum kecil. “Belum,” katanya pelan. Seperti atlet triathlon, olahraga yang ditekuninya. Ini tak ubahnya baru jeda dalam perjalanan panjang. "Ini maraton," katanya. "Dalam bisnis makanan, yang penting bukan siapa yang viral hari ini, tapi siapa yang masih buka gerai sepuluh tahun dari sekarang."
Rasanya, marathon memang kata yang tepat. Di lantai bursa pun, investor masih memantau dengan waspada. Penutupan bursa 20 Juni 2025, saham PZZA masih bertengger di posisi Rp156 per lembar. Masih jauh dibanding awal pandemi. Namun, setidaknya ada sinyal positif karena per 1 April, saham di posisi Rp101 per lembar.
Kembali ke Inti
Ketika percakapan kami hampir selesai dan langit di luar mulai membuka celah cahaya, Boy menata kembali buku kerja berwarna hitam dan tabletnya yang tergeletak di meja. Ia tidak menjanjikan pemulihan cepat, tidak juga memamerkan angka. Tapi keteguhan yang terpahat di wajahnya seolah menyiratkan sebuah keinginan yang lebih tahan lama dari semua itu.
“Kami di sini bukan untuk satu-dua tahun,” katanya perlahan. “Kami ingin bertahan 40 tahun lagi.”
Ia menatap ke luar jendela. Jakarta masih menyisakan genangan, tapi langit mulai berubah warna. Dalam perbincangan hampir dua jam itu, tak ada kesimpulan besar. Tak ada deklarasi dramatis. Hanya satu keyakinan yang mengendap dari seluruh kisah ini: bahwa kesabaran, bila dijalani dengan utuh, bisa lebih radikal daripada reaksi.
Melihat apa yang terjadi, tampaknya benar bahwa perusahaan itu seperti manusia. Pernah muda, pernah kuat, pernah jatuh. Tapi jika kita tahu mengapa kita berdiri, maka kita akan terus mencari cara untuk melangkah.
Di penghujung percakapan, satu pertanyaan diajukan padanya: Apa hal positif yang Anda rasakan sejak memimpin Pizza Hut Indonesia? Sesuatu yang mungkin dulu belum ada, tapi kini terasa tumbuh kembali?
Boy diam sejenak, lalu menjawab dengan pelan tapi pasti, “Inovasinya. Tapi bukan sekadar banyak-banyakan inovasi. Justru sekarang kami kembali ke inti. Kembali ke core kami.”
Ia mengisahkan bagaimana selama bertahun-tahun, Pizza Hut rutin meluncurkan menu baru: ada yang diputar, dicelup, diberi rasa udang, ayam sakura, hingga beragam kombinasi yang terdengar eksotis. Tapi, saat ia bertanya kepada karyawan baru atau teman lama: “Pizza favoritmu yang mana?” jawabannya selalu kembali ke yang klasik — Super Supreme, American Favorite, Meat Lovers, atau Pepperoni.
“Yang original, Pak. Itu kata mereka," ujarnya.
Dan Boy menangkap sesuatu dari situ. Ada kekuatan dalam kesederhanaan. Ada kekuatan dalam ingatan yang melekat. Maka, alih-alih terus mengejar gebrakan baru yang hanya ramai sesaat, ia memilih menguatkan kembali ikon-ikon lama. Back to basic, ujarnya. Tapi bukan sekadar kembali, melainkan menonjolkan yang selama ini dianggap biasa. Memberi panggung baru pada rasa-rasa yang telah menjadi kenangan kolektif jutaan pelanggan.
Ia menyebut soal keju — bukan sembarang keju, melainkan keju asli yang bisa ditarik saat panas, bukan saus keju bubuk yang dicairkan. “Yang kami pakai itu keju betulan. Bukan sekadar kelihatan keju,” katanya tersenyum sambil menyebut dua nama besar pemasoknya: Fonterra dan Leprino.
Ketika krisis logistik akibat blokade Laut Merah pada pertengahan 2024 sempat membuat pengiriman terhambat, mereka tetap punya jalur cadangan. “Kami punya global supply chain. Dan itu bukan hal kecil,” ujarnya.
Keju menjadi satu-satunya bahan impor yand digunakan. Selebihnya — dari ladang hingga dapur — adalah kerja keras anak bangsa. Boy menegaskan lagi, Pizza Hut di Indonesia bukanlah sekadar waralaba luar. Ia tumbuh dari tangan-tangan lokal yang meracik, mengantar, dan menyapa pelanggan saban hari.
Dan di titik itu, narasi yang dibawa Boy menemukan bentuknya. Inovasi bukan tentang hal baru semata. Tapi tentang merawat yang berharga, dan menghidupkannya kembali dengan kesadaran baru.
Pizza bukan sekadar makanan cepat saji. Ia adalah kenangan, kehangatan keluarga, dan rasa yang tak lekang oleh waktu. Dan kini, lewat langkah-langkah senyap tapi pasti, Boy menyatakan ingin berusaha membawa Pizza Hut kembali ke hati orang Indonesia — dengan keju yang asli, topping yang segar, dan rasa yang tak pernah hilang dari ingatan.
Kalimat itu tidak terdengar seperti kutipan. Ia lebih menyerupai doa — bukan untuk publik, tapi untuk dirinya sendiri. Seorang pemimpin yang memilih berdiri dalam badai, bukan karena ingin dipuji, tapi karena tahu banyak orang di belakangnya butuh arah.
Namun, di balik keteguhan dan narasi “kembali ke inti”, tantangan sesungguhnya belum selesai. Bertahan 40 tahun ke depan bukan hanya soal memperkuat ikon lama atau memastikan keju tetap asli.
Dunia berubah cepat. Selera konsumen bergeser. Isu keberlanjutan, digitalisasi, dan tekanan geopolitik tidak akan menunggu Pizza Hut menyempurnakan narasinya.
Maka pertanyaannya bukan hanya “apa yang dihidupkan kembali”, tapi juga: apa yang benar-benar akan dibangun ke depan?
Mengandalkan kekuatan nostalgia bisa memberi napas, tapi tidak menjamin masa depan. Sebab keunggulan sejati tidak hanya datang dari rasa yang dikenang, tapi bisa jadi, juga dari keberanian menciptakan rasa yang belum ada. Pizza durian Musang King adalah contoh.
Dalam dunia yang semakin sinis, niat baik memang adalah bentuk kepemimpinan yang paling berani. Tapi dalam bisnis, niat baik saja tidak cukup. Ia harus diterjemahkan menjadi keputusan yang tepat, keberpihakan yang jelas, dan hasil yang bisa diuji oleh waktu.
Dan itulah ujian berikutnya: bukan hanya untuk Boy Lukito, tapi untuk kita semua yang ingin melihat apakah perusahaan bisa benar-benar bertumbuh — bukan hanya bertahan. (Selesai)
Sebelumnya: