Iran-Israel Saling Adu Kuat, Pertamina Berencana Menempuh Rute Alternatif Kapal Tanker
Konflik Iran dan Israel kian memanas dalam beberapa hari terakhir ini. Ketegangan itu berawal dari Israel yang meluncurkan rudal ke Iran pada Jumat (13/6/2025). Tak lama setelahnya, Iran melakukan melakukan serangan balik.Hal ini tentunya menjadi keringat dingin bagi PT Pertamina (Persero) yang fokusnya bergerak di bidang minyak dan gas.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso mengatakan sejauh ini pasokan minyak mentah dari perusahaan plat merah itu masih tergolong aman. Meski begitu, pihaknya terus melakukan pemantauan yang intens terkait perang Iran-Israel dan pendistribusian minyak mentah yang diangkut melalui kapal tanker."Kami pastikan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah dan sekitarnya masih aman ke Indonesia," tegasnya saat ditemui awak media di Jakarta, Senin (16/6/2025).
Fadjar menuturkan bahwa harga minyak menang sangat fluktuatif tergantung kondisi yang terjadi. Meski begitu, perseroan menyiapkan berbagai siasat untuk memitigasi dampak perang tersebut. Rencananya, Pertamina melakukan reroute atau pengambilan jalur alternatif lainnya. Seperti perairan Oman yang tergolong relatif aman untuk dilewati kapal tanker minyak mentah.
"Kami juga akan pertimbangan untuk melakukan reroute atau mencari jalur alternatif pelayaran untuk kapal-kapal tanker kami, supaya dapat berlayar dengan aman sehingga pasokan tidak terganggu," ucap Fadjar.
Sebagai tambahan informasi, perang Iran-Israel membuat jalur distribusi melalui Selat Hormuz menjadi terganggu. Ini berdampak pada 20% pasokan minyak dunia yang melewati selat tersebut.Negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan UEA sangat bergantung pada jalur ini untuk mengekspor minyak mentah ke pasar global di Asia, Eropa, dan Amerika.
Saat Iran dan Amerika Serikat bersitegang pada 2019 dan 2020, harga minyak sempat melonjak hingga lebih dari 10% dalam waktu singkat karena ancaman Iran menutup Selat Hormuz. (*)