Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono: Kinerja SBN Tetap Kuat di Tengah Gejolak Pasar Global

Penerimaan Surat Berharga. (Foto: Tangkapan Layar Audrey Aulivia Wiranto/SWA)
Penerimaan Surat Berharga. (Foto: Tangkapan Layar Audrey Aulivia Wiranto/SWA)

Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono menegaskan bahwa kinerja Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tetap solid meskipun pasar global sedang diliputi ketidakpastian dan volatilitas yang tinggi.

“Walaupun volatilitas pasar tinggi dan kondisi global kurang mendukung, obligasi pemerintah kita tetap menunjukkan performa yang baik. Ini mencerminkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap perekonomian Indonesia,” ujarnya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2025 di Jakarta, Selasa (18/6/2025).

Thomas menyampaikan bahwa hasil lelang SBN di pasar perdana masih menunjukkan minat yang kuat dari investor. Dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) pada 3 Juni 2025, rasio bid to cover tercatat sebesar 2,76. Sementara pada lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) tanggal 10 Juni 2025, rasionya lebih tinggi, yakni 3,69.

“Pada lelang terakhir, total penawaran yang masuk mencapai Rp81,03 triliun, sementara pemerintah hanya menyerap Rp30 triliun, sehingga menghasilkan bid to cover ratio sekitar 2,7. Sepanjang tahun ini, rata-rata bid to cover tetap sehat, yaitu 2,57 untuk SUN dan 2,52 untuk SBSN,” tambahnya.

Ia juga menekankan bahwa dukungan dari investor asing masih sangat kuat. Hal ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas makroekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia yang terus dijaga.

Dari sisi imbal hasil, yield SBN tenor 10 tahun per 13 Juni 2025 tercatat sebesar 6,72 persen, turun 25 basis poin dibandingkan posisi awal tahun. Selisih yield (spread) terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) berada di level 231 basis poin—lebih rendah dibandingkan negara-negara lain dengan peringkat kredit sejenis.

Aliran dana asing juga menunjukkan tren positif. Hingga pertengahan Juni 2025, investor non-residen mencatatkan net buy sebesar Rp53,91 triliun di pasar SBN domestik.

“Ini menunjukkan bahwa SBN Indonesia masih menjadi pilihan investasi yang menarik di tengah ketidakpastian global,” tutup Thomas. (*)

# Tag