ASSA Melompat Tinggi: Dari Laba Tipis ke Dividen Jumbo Rp184 Miliar

null
Jajaran Direksi PT Adi Sarana Armada Tbk. (Foto: ASSA)

Tak banyak perusahaan yang mampu membalik tekanan menjadi peluang, apalagi dalam sektor logistik dan mobilitas yang dikenal volatil. Tapi PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menunjukkan bahwa lompatan bukan sekadar jargon manajemen — melainkan keputusan-keputusan konkret yang berbuah hasil.

Tahun 2024 menjadi lompatan tinggi itu. Emiten yang bergerak di ekosistem mobilitas orang dan barang ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp243,74 miliar. Pada tahun 2023, laba bersih ASSA sebesar Rp19,4 miliar. Sementara pada tahun 2022, laba bersih ASSA tercatat sebesar Rp3,7 miliar.

Kinerja 2024 ini mengantar perusahaan pada keputusan strategis untuk membagikan dividen sebesar Rp184,55 miliar atau Rp50 per saham, setara dengan sekitar 75,6% dari laba bersih.

Bagi para pemegang saham, ini bukan sekadar angka. Sebanyak Rp73,8 miliar di antaranya telah lebih dulu dibagikan sebagai dividen interim (Rp20 per saham) pada 22 November 2024. Kini, perusahaan bersiap menyalurkan dividen final sebesar Rp110,7 miliar atau Rp30 per saham.

“Keberhasilan turnaround ini membuktikan kerja keras tim ASSA dan strategi tepat dalam mengoptimalkan setiap lini bisnis. Kenaikan laba yang signifikan memungkinkan kami memberikan apresiasi lebih besar kepada pemegang saham melalui dividen ini,” ujar Direktur Utama ASSA, Prodjo Sunarjanto, dalam RUPS, Rabu (25/6/2025).

Namun bukan hanya dividen yang menjadi buah dari pemulihan ini. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), perusahaan juga meresmikan pergantian komisaris: Hindra Tanujaya masuk menggantikan Hertanto Mangkusasono yang mengundurkan diri. Perubahan ini menandai fase baru dalam tata kelola ASSA.

Raihan laba bersih sebesar Rp243,74 miliar yang digunakan sebagai basis pembagian dividen ini mencerminkan penguatan kinerja di seluruh lini usaha yang dimiliki. Katalis pertumbuhan utama datang dari efisiensi operasional dan perluasan portofolio di segmen logistik, lelang, dan mobilitas.

Tapi lebih dalam dari itu, keberhasilan ASSA juga dibangun di atas penguatan ekosistem logistik end-to-end. Perusahaan berhasil mengintegrasikan layanan dari first mile, mid mile, hingga last mile secara terpadu — bukan hanya untuk efisiensi internal, tetapi juga demi menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi pelanggan.

“Dengan strategi ini, ASSA tidak hanya meningkatkan efisiensi dan jangkauan layanannya, tetapi juga menciptakan sinergi yang kuat antarlini bisnis, menjadikannya pemain kunci dalam industri logistik nasional,” tutup Prodjo.

Meski demikian, pertanyaan berikutnya tetap menggantung: mampukah ASSA mempertahankan momentum ini di tengah kompetisi ketat, tekanan infrastruktur, dan percepatan digital yang belum menunjukkan tanda melambat? Dividen jumbo tahun ini memang menjanjikan, tapi keberlanjutan adalah ujian bagi kinerja yang ciamik. (*)

# Tag