Kiat Gaudi Clothing Menjadi Merek Fashion Kebanggaan Negeri

Kiat Gaudi Clothing Menjadi Merek Fashion Kebanggaan Negeri
Duet Janet Dana dan Nathalia Napitupulu (ki-ka) membesarkan Gaudi Clothing. (Ist)

Di antara merek-merek fashion lokal yang hingga saat ini masih cemerlang, ada Gaudi Clothing. Merek ini mulai diorbitkan oleh dua sekawan Janet Dana dan Nathalia Napitupulu pada 2003, di bawah bendera PT Gaudi Dwi Laras.

Idenya bermula ketika Janet masih kuliah di Australia. Ia melihat di negara itu merek-merek fashion lokalnya disukai konsumen dalam negeri. Adapun di Indonesia, ia melihat belum ada merek pakaian lokal yang cukup disukai masyarakat. Produk fashion merek luar pun — misalnya Zara, H&M, dan Pull & Bear — belum masuk ke Indonesia.

“Saat itu, konsep belanja pakaian di Indonesia umumnya masih pergi ke mall atau department store,” katanya.

Setelah tamat kuliah, Janet mengajak Nathalia, sahabatnya, mengibarkan merek fashion sendiri, yakni Gaudi Clothing. Kebetulan, orang tua Nathalia sudah lama berbisnis grosir pakaian.

Awalnya, dengan bermodal feeling, ia mengambil produk pakaian jadi. Produk yang sudah melewati kurasinya ia jual di tokonya. “Kami mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda dari yang ditawarkan di mal-mal,” kata CEO Gaudi Clothing ini. Rupanya, merek Gaudi diminati konsumen.

Tak cukup puas dengan mengambil barang jadi, ia merasa tertantang untuk mendesain dan memproduksi sendiri produk fashion-nya. “Kami mencoba menciptakan koleksi, satu tema untuk setiap session-nya,” kata perempuan berusia 45 tahun ini.

Hingga saat ini, semua urusan bisnis fashion ini sudah ditangani sendiri oleh Gaudi, mulai dari konsep desain produk hingga pemasarannya.

Nathalia Napitupulu dan Janet Dana (ki-ka) menyatukan visi untuk Gaudi Clothing. (Ist)
Nathalia Napitupulu dan Janet Dana (ki-ka) menyatukan visi untuk Gaudi Clothing. (Ist)

Yang menarik, Gaudi mengusung konsep Proudly Local. “Kami merupakan salah satu pionir merek fashion lokal,” Janet menandaskan.

Ia mengaku sekarang Gaudi bisa mengatakan dengan bangga, semua produk fashion-nya produksi lokal, yang dijahit oleh para penjahit lokal di Indonesia. Ia mengakui ada bahan katun yang diambil dari negara lain karena Indonesia belum bisa swasembada, tapi ia memastikan pemasoknya dari Indonesia juga.

Sourcing kami dari pemasok-pemasok lokal. Jadi, kami benar-benar bisa ikut mendukung pertumbuhan ekonomi negara kita,” katanya dengan bangga.

Ia mengungkapkan bahwa menerapkan standar mutu cukup tinggi pada para penjahit lokal itu merupakan tantangan tersendiri. Mulanya, banyak yang maunya mengerjakan desain yang mudah, dan gampang mengeluh bila diminta mengerjakan desain yang unik.

“Kami mengarahkan dari segi mindset,” ujarnya. Ia mencoba meyakinkan mereka bahwa dengan meng-upgrade keterampilan mereka, mereka akan sanggup mengerjakan order dari luar negeri.

Seiring dengan program pembinaan mindset dan upskilling, kini Janet mengaku sudah memiiliki barisan penjahit yang benar-benar bisa dibanggakan. “Memang prosesnya cukup lama, tapi kami sudah di titik yang sangat puas dengan kumpulan penjahit tersebut,” ungkapnya.

“Hasil kerja mereka sudah sangat rapi, dan bisa bersaing dengan hasil produksi dari luar negeri,” ia menambahkan. Para penjahit mitra Gaudi tersebar di Bogor, Ciawi, juga Malang.

Gaudi terus melangkah ke ritel modern, salah satunya Supermal Karawaci. (supermalkarawaci.co.id)
Gaudi terus melangkah ke ritel modern, salah satunya Supermal Karawaci. (supermalkarawaci.co.id)

Toko atau gerai fisik (offline) pertama Gaudi berada di Plaza Semanggi, Jakarta, yang dibuka pada 2004. Hingga saat ini sudah ada 30 toko offline. Toko-toko ini tersebar di Jakarta, Bogor, Cibubur, Tangerang, Malang, Yogyakarta, Palembang, Lampung, dan Makassar. “Kami masih menjajaki wilayah Aceh dan Ambon,” ungkapnya.

Untuk di Jakarta, gerai-gerai toko itu termasuk yang ada di beberapa mal besar, seperti Grand Indonesia dan Pondok Indah Mall. Namun, pihaknya akan mengevaluasi ulang gerai-gerai Gaudi, disusul dengan langkah repositioning dan rezoning. Itulah yang menyebabkan ada peralihan lokasi toko dari beberapa mal.

Toko-toko tersebut dikelola oleh satu manajemen di kantor pusat. Tidak bermitra dengan pihak lain. “Kami membangunnya dari nol sampai sekarang dan menciptakan sistemnya, sehingga kami tahu detailnya,” kata Janet.

Mulai dari lima orang di masa perintisan, hingga kini diperkuat sekitar 300 karyawan. Sistem yang dibuat pihaknya sudah terinci dan terorganisasi sehingga bisa menjadi modul untuk pembukaan gerai di seluruh Indonesia.

Karena didesain dan diproduksi sendiri, produk fashion Gaudi dapat menawarkan kelebihan tersendiri, yakni bisa mengisi kebutuhan masyarakat Indonesia yang sangat beragam, dengan mengikuti tren dan tema tertentu.

Hingga 21 tahun beroperasi, menurut Janet, dibandingkan merek lokal lain, pihaknya selalu bisa menyediakan koleksi produk untuk pelanggannya, misalnya koleksi Lebaran, Tahun Baru China, dan Natal.

Ia menjelaskan, target pasar Gaudi adalah masyarakat Indonesia dengan segmen usia mulai dari awal 20-an tahun hingga awal 40-an tahun. Gaudi punya tim desainer yang memahami kebutuhan setiap segmen tersebut, dan harus mengerti apa karakteristik khas atau DNA produk Gaudi.

“DNA Gaudi itu harus casual, user-friendly, comfortable, dan mudah di-mix and match,” ungkap Janet.

Karenanya, ia mencontohkan, satu produk baju dari Gaudi bisa dipakai untuk pergi ke urusan resmi, santai, ataupun untuk pergi makan, tapi tetap terkesan trendi. Kesan yang juga ingin ditampilkan Gaudi ialah produknya high-end, tapi dengan harga yang affordable.

Hingga saat ini, kontribusi penjualan kanal offline masih sangat dominan, yakni 70%-80%, karena Gaudi memang memulai dari penjualan offline. “Tapi, setahun belakangan ini penjualan online sangat berkembang,” ujar Janet.

Baginya, upaya pemasaran (marketing) saat ini lebih menantang dibandingkan masa-masa awal Gaudi. Pasalnya, di masa lalu yang penting suatu merek bisa kelihatan displainya, termasuk dengan visual merchandise. Saat itu juga belum ada media sosial.

null
Beberapa produk Gaudi Clothing yang diminati masyarakat. (www.gaudi-clothing.com)

“Sekarang, marketing bukan tentang visual saja, tapi bagaimana kita bisa menceritakan sesuatu yang tidak tangible (terlihat),” katanya. “Marketing di masa sekarang itu about feeling and emotion juga,” ia menambahkan.

Ke depan, menurut Janet, Gaudi masih akan menggencarkan langkah rebranding-nya, dengan tujuan positioning-nya di mata masyarakat lebih meningkat. Selain itu, Gaudi pun masih akan membuka gerai-gerai offline di lokasi yang lebih tepat, sembari terus menggencarkan kampanye pemasaran yang kreatif.

Hingga saat ini, Gaudi belum menjalankan penjualan ekspor, walaupun untuk penjualan melalui e-commerce (online) sudah ada yang ke Malaysia dan Singapura. Alasannya, wilayah Indonesia masih sangat luas untuk dieksplorasi. “Masih banyak pulau yang belum kami eksplor,” ungkapnya.

Namun, Janet mengakui ada keinginan untuk suatu ketika ekspansi ke luar negeri. “Karena, ini bisa menjadi kebanggaan bagi merek lokal dari Indonesia,” ujarnya.

Apalagi, sekarang sejumlah merek dari Singapura dan Thailand sudah memasuki pasar Indonesia. “Ke depannya, memang kami mau ke luar negeri, kami mau break the barriers,” ia menandaskan. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag