Pembelajaran Teaching Factory, Cara Djarum Foundation dan SMBC Indonesia Tingkatkan Kualitas Lulusan SMK di Kudus

null
Pembelajaran Teaching Factory pada bidang fabrikasi logam. (Foto: Djarum Foundation).

Seiring meningkatnya kebutuhan dunia industri, upaya peningkatan kualitas Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terus mengalami kemajuan. Salah satu indikator penting dari kualitas SMK adalah penerapan sistem pembelajaran Teaching Factory — model pembelajaran berbasis produksi nyata yang meniru praktik dunia kerja secara langsung. Salah satu sekolah yang telah menerapkannya secara konsisten adalah SMK NU Ma’arif Kudus.

Sekolah ini telah mengembangkan Teaching Factory di bidang fabrikasi logam, di mana siswa dan guru dari berbagai kompetensi keahlian terlibat langsung dalam praktik penyelesaian pekerjaan yang berasal dari dunia industri.

Pembelajaran ini dirancang agar para siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbiasa dengan tantangan riil yang akan mereka hadapi di dunia kerja.

Program Teaching Factory di SMK NU Ma’arif Kudus merupakan hasil kolaborasi antara Djarum Foundation dan SMBC Indonesia melalui inisiatif Program Daya yang dimulai sejak 2019. Inisiatif ini bertujuan memperkuat kompetensi guru sekaligus membangun infrastruktur pendukung yang sesuai dengan standar industri internasional.

Meski baru berjalan kurang dari enam tahun, program ini telah menunjukkan hasil nyata. Setiap tahun, sekitar 425 siswa lulus dari program fabrikasi logam dengan tingkat keterserapan tenaga kerja di atas 85%. Hingga Mei 2025, Program Daya tercatat telah menjangkau lebih dari 4,4 juta penerima manfaat melalui 3.856 kegiatan.

Tak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, Teaching Factory juga memberi dampak positif terhadap pendapatan sekolah. Dari hasil penjualan produk yang dihasilkan para siswa, sekolah mampu mengumpulkan pemasukan hingga Rp7 miliar per tahun.

Dana ini dimanfaatkan untuk mendukung operasional sekolah, meningkatkan kesejahteraan guru, serta menyediakan beasiswa bagi siswa yang aktif dalam kegiatan produksi.

Henoch Munandar, Direktur Utama SMBC Indonesia, menyebut bahwa keberhasilan inisiatif ini mendorong SMBC Indonesia dan Djarum Foundation untuk menambah kapasitas Teaching Factory melalui pembangunan fasilitas powder coating.

Fasilitas tersebut terdiri dari pre-treatment plant, powder coating booth, spray tools, drying oven, hingga high pressure air compressor — semuanya bertujuan melengkapi proses produksi logam agar makin kompetitif.

“Dengan adanya fasilitas powder coating ini, SMK NU Ma’arif Kudus diharapkan dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan pendapatan lulusan, baik di industri dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Primadi Serad, Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation.

Lewat Teaching Factory, siswa tidak hanya mengasah keterampilan teknis (hardskill) tapi juga keterampilan lunak (softskill) seperti disiplin, komunikasi, dan tanggung jawab. Semua itu diperoleh dalam konteks penyelesaian pekerjaan nyata dari dunia industri.

Untuk menciptakan Teaching Factory yang unggul, diperlukan kemitraan erat dengan industri. Kerja sama ini menjadi landasan dalam penyelarasan kurikulum, peningkatan kompetensi guru dan kepala sekolah, serta penyediaan sarana prasarana yang sesuai standar industri.

Kemitraan dengan dunia usaha juga berperan penting dalam membuka akses pemasaran produk hasil karya siswa, sekaligus memperluas peluang kerja bagi lulusan.

Produk yang dihasilkan pun tercatat sebagai bagian dari portofolio siswa, yang sangat berguna untuk menapaki dunia karir setelah mereka lulus dari sekolah kejuruan. (*)

# Tag