Tanoto Foundation Danai Riset Kesehatan Asia: Fokus pada Kanker dan Diabetes Usia Muda
Di tengah kemajuan pesat dunia kedokteran global, Asia masih menyimpan paradoks. Wilayah ini menghadapi lonjakan kasus kanker dan diabetes yang tak kunjung reda — dua penyakit yang secara biologis dan klinis memiliki karakter berbeda pada populasi Asia, namun selama ini terabaikan dalam peta besar riset dunia. Kurangnya data spesifik kawasan menjadi penghalang utama dalam memahami dan mengantisipasi laju penyebarannya.
Di sinilah Tanoto Foundation memilih mengambil peran strategis. Lewat dukungan pembiayaan multiyear untuk dua proyek riset medis berbasis di Singapura, organisasi ini berupaya mengisi kekosongan data dan pendekatan lokal. Fokusnya jelas: kanker agresif yang umum terjadi di Asia, dan diabetes tipe 2 pada usia muda: dua penyakit yang diam-diam merusak masa depan kesehatan masyarakat Asia.
“Singapura punya keunggulan sebagai pusat riset yang representatif untuk Asia. Kami percaya, mendukung para peneliti di sini adalah langkah nyata untuk menciptakan dampak lintas batas,” ujar Imelda Tanoto, Anggota Dewan Pengawas Tanoto Foundation (27/6/2025).
“Kami ingin riset ini tidak hanya mengubah peta penanganan medis di Singapura, tapi juga menjadi referensi penting bagi seluruh kawasan,” dia menambahkan.
Didukung infrastruktur riset yang solid dan populasi yang mencerminkan keragaman Asia, dua institusi medis terkemuka, yakni National Cancer Centre Singapore (NCCS) dan Singapore General Hospital (SGH), menjadi ujung tombak dari proyek ini. Riset yang mereka jalankan tak sekadar menargetkan hasil ilmiah, tapi juga pergeseran kebijakan kesehatan publik yang lebih tepat sasaran.
Menyasar Kanker yang Umum Terjadi pada Populasi Asia
Proyek pertama dipimpin oleh Dr Jason Chan, Dokter Onkologi Medis di National Cancer Centre Singapore. Penelitian ini akan menyasar empat jenis kanker yang memiliki prevalensi tinggi dan hasil pengobatan yang buruk di Asia, yaitu:
-
Kanker payudara pada perempuan Asia, yang cenderung muncul lebih awal dan memiliki karakter biologis berbeda dibandingkan populasi Barat
-
Limfoma sel T/NK, kanker darah agresif yang umum pada populasi Asia Timur dan memiliki opsi pengobatan terbatas
-
Kanker saluran empedu (kolangiokarsinoma), yang semakin dikaitkan dengan paparan lingkungan spesifik Asia
-
Kanker langka di Asia, yang selama ini terabaikan namun secara kolektif mencakup hingga 25% dari semua kasus di kawasan
“Kanker-kanker ini sangat menghancurkan, tapi masih belum dipahami dengan baik karena sebagian besar riset selama ini fokus pada populasi Barat,” ujar Dr Chan. “Dengan memetakan lanskap molekuler dan genomik pada pasien Asia, kami ingin menemukan peluang baru untuk diagnosis dan terapi yang lebih efektif.”
Salah satu fitur utama proyek ini adalah komitmen akses terbuka. Data yang telah dianonimkan akan tersedia secara bebas untuk komunitas riset global guna mempercepat kolaborasi dan penemuan lanjutan.
Membuka Risiko Diabetes Tipe 2 pada Usia Muda di Singapura
Proyek riset kedua dipimpin oleh Dr. Daphne Gardner, Dokter Endokrinologi di Singapore General Hospital. Fokusnya adalah meningkatnya insiden diabetes tipe 2 pada orang dewasa muda di Singapura — di mana 1 dari 5 orang dewasa muda telah mengalami pradiabetes atau diabetes, meskipun memiliki berat badan normal.
Berbeda dari metode penilaian tradisional yang mengandalkan Indeks Massa Tubuh (BMI) dan riwayat keluarga, proyek ini akan mengembangkan alat prediksi risiko generasi berikutnya dengan memasukkan indikator non-tradisional seperti distribusi lemak tubuh, pemantauan glukosa secara kontinu, dan perilaku mencari layanan kesehatan.
“Banyak anak muda Asia yang mengidap diabetes tidak sesuai dengan profil risiko klasik. Mereka kurus, tidak mengalami hipertensi, dan karenanya sering luput dari sistem skrining saat ini,” ujar Dr Gardner.
“Kami ingin mengubah kondisi ini dengan mengidentifikasi sinyal risiko baru dan mengembangkan alat yang lebih sesuai dengan karakteristik populasi di Singapura dan Asia,” imbuhnya.
Hasil dari studi ini ditargetkan untuk menjadi rujukan dalam pedoman skrining nasional, serta memicu intervensi lebih awal guna mencegah komplikasi jangka panjang.
Singapura sebagai Pusat Inovasi Riset Medis Asia
Selain proyek-proyek riset yang telah didukung sebelumnya, dua inisiatif ini mencerminkan pengakuan yang semakin besar terhadap peran Singapura dalam mendorong pengembangan pengobatan presisi untuk populasi Asia. Hal ini didorong oleh infrastruktur klinis yang kuat, kemampuan genomik yang maju, dan kemitraan lintas sektor publik-swasta yang solid.
“Kami percaya bahwa kesehatan presisi dapat mengubah cara kita mendiagnosis, mengobati, dan mencegah penyakit,” ujar Imelda Tanoto.
“Kami mendukung para peneliti yang tidak hanya membuat terobosan ilmiah, tetapi juga memastikan hasil kerja mereka berdampak nyata bagi masyarakat Asia. Ini adalah hal yang sangat personal bagi kami — tentang bagaimana meningkatkan kualitas hidup dengan cara yang inklusif, bermakna, dan berkelanjutan.”
Pengumuman ini menandai tonggak penting dalam komitmen berkelanjutan Tanoto Foundation untuk meningkatkan mutu layanan kesehatan dan standar kesehatan masyarakat, yang pada akhirnya akan memperpanjang dan memperbaiki usia sehat (healthspan) masyarakat. (*)