Perluas Layanan, Amar Bank Sasar Pembiayaan di Sektor Ekraf Perfilman
Industri film Indonesia tengah menapaki jalur yang menggembirakan. Sepanjang tahun 2024, lebih dari 80 juta penonton tercatat menyaksikan film di layar lebar. Hingga Mei 2025, jumlah penonton telah melampaui 35 juta orang.
Angka ini bukan hanya statistik; ia menandai geliat besar yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar film terbesar di dunia—dan bukti nyata bahwa antusiasme terhadap karya lokal sedang berada di titik tinggi.
Namun di balik pencapaian itu, tersimpan tantangan mendasar. Ekosistem perfilman tanah air belum sepenuhnya matang. Infrastruktur pendukung masih perlu diperkuat, pola kerja berbasis proyek menciptakan ketidakpastian, dan ketergantungan terhadap kekayaan intelektual membuat tiap produksi menjadi taruhan besar. Ditambah lagi, kompleksitas proses produksi film memerlukan kolaborasi lintas sektor—sebuah pendekatan yang belum lazim di industri konvensional.
Dalam laporan bertajuk Dampak Ekonomi Industri Layar di Indonesia – Sebuah Peluang yang disusun PwC Indonesia bersama LPEM FEB UI, tergambar jelas bahwa akses pendanaan masih terkonsentrasi di rumah produksi besar. Ini menghambat pembuat film independen untuk berkembang. Laporan tersebut menyebut perlunya “skema pendanaan berbasis IP yang lebih inklusif serta pemahaman lintas sektor tentang penciptaan nilai dalam industri kreatif”.
Tanda-tanda perubahan mulai muncul. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui program Infinity 2.0, menetapkan ekonomi kreatif — termasuk industri film — sebagai sektor prioritas dalam pengembangan sistem keuangan inovatif. Kebijakan ini membuka peluang baru bagi kolaborasi antara pelaku kreatif dan sektor keuangan digital dalam membangun ekosistem yang adaptif dan berkelanjutan.
Salah satu pihak yang merespons dinamika ini adalah PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank). Bank digital tersebut menyatakan komitmennya untuk menjembatani dunia kreatif dengan teknologi finansial, dengan menjadi mitra utama JAFF Market 2025 powered by Amar Bank, sebuah program pendukung ekosistem perfilman yang akan digelar pada 29 November hingga 1 Desember mendatang.
Presiden Direktur Amar Bank, Vishal Tulsian, melihat film sebagai sektor dengan daya ungkit besar dalam ekonomi kreatif. Menurutnya, industri kreatif, terutama perfilman, merupakan sektor strategis dengan potensi pertumbuhan yang besar.
Namun ia juga menyoroti keterbatasan yang masih membayangi. Sektor ini, katanya, belum mendapat perhatian yang proporsional dari pelaku industri keuangan, padahal ini bisa membuka peluang yang besar untuk berinovasi.
Menurut Vishal, keterlibatan Amar Bank dalam industri film bukan sekadar ekspansi layanan, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang. “Keterlibatan Amar Bank di sektor ini bukan semata soal ekspansi layanan, tapi bagian dari komitmen untuk mendekatkan teknologi finansial dengan ekosistem kreatif secara utuh. Kami percaya, pertumbuhan industri seperti film akan jauh lebih berkelanjutan jika didukung oleh sistem yang memahami ritme kerjanya,” jelasnya, Kamis (3/7/2025).
JAFF Market 2025 sendiri dinilai sebagai forum strategis untuk menjalin dialog langsung antara institusi keuangan dan para pelaku film. Amar Bank berharap dapat memetakan kebutuhan riil industri dari hulu ke hilir. Hal ini lah yang mendorong Amar Bank untuk menyasar sektor potensial seperti sektor industri kreatif dan perfilman ini.
Fokus Amar Bank adalah menciptakan ekosistem dukungan yang lebih adaptif melalui inovasi berbasis teknologi dan data, sekaligus memperkuat peran bank sebagai mitra strategis pengembangan ekonomi kreatif nasional. Dalam praktiknya, pendekatan ini menekankan integrasi antara layanan keuangan dan kebutuhan proyek kreatif.
Josua Sloane, Senior Vice President MSME Amar Bank, menambahkan bahwa teknologi dan data menjadi fondasi baru dalam mendukung sektor kreatif. “Kami melihat potensi besar dalam penerapan sistem penilaian berbasis performa IP, manajemen cash flow proyek, hingga pemanfaatan analitik untuk membantu proses kreatif berjalan lebih efisien dan terukur,” ujarnya.
Sebagai institusi keuangan digital, Amar Bank telah mengalokasikan lebih dari 50 persen portofolio pembiayaannya pada sektor UMKM, dengan mayoritas disalurkan ke bidang produktif.
Kini, mereka mulai mengarahkan perhatian ke ekonomi kreatif sebagai fokus selanjutnya. Strategi yang ditempuh mengedepankan pemanfaatan data, teknologi, serta kolaborasi terbuka untuk memperluas dampak secara sistemik.
Dalam lanskap baru ekonomi kreatif Indonesia, film bukan lagi sekadar hiburan, tetapi juga ladang tumbuhnya inovasi, kerja lintas disiplin, dan peluang ekonomi. Tantangannya nyata, namun dengan dukungan tepat dari sektor keuangan dan regulator, layar Indonesia punya potensi menyala lebih terang. (*)