Neraca Perdagangan Indonesia Surplus US$4,30 Miliar Pada Mei 2025

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus US$4,30 Miliar Pada Mei 2025

Neraca perdagangan Indonesia pada Mei tahun ini mencetak surplus senilai US$4,30 miliar. Surplus perdagangan Indonesia pada Januari–Mei 2025 mencapai US$15,38 miliar atau naik sebesar 13,08% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$13,06 miliar.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengatakan capaian surplus ini tercatat selama 61 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Adapun faktor penyumbang surplus Mei 2025 adalah sektor non-migas US$5,83 miliar.

Kemudian ekspor Indonesia pada bulan lalu itu sebesar US$24,61 miliar atau tumbuh 9,68% dibandingkan periode yang sama di 2024. Kenaikan ini terutama didorong ekspor nonmigas yang naik 20,07%, meskipun ekspor migas turun 4,99%.

“Kinerja ekspor membaik seiring meningkatnya harga komoditas utama seperti besi baja, logam mulia, dan nikel, serta naiknya permintaan ekspor minyak kelapa sawit (CPO) dan nikel. Normalisasi perdagangan pascalibur Idul Fitri juga turut mendorong ekspor,” ucap Budi dalam siaran pers yang dikutip pada Jumat (4/7/2025).

Tiga komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi pada Mei 2025 yakni logam mulia dan perhiasan/permata yang naik 86,30%; lemak dan minyak hewan/nabati 42,08%; serta mesin dan peralatan mekanis 39,35%.

Secara kumulatif, total ekspor Indonesia Januari–Mei 2025 tercatat US$111,98 miliar atau tumbuh 6,98%. Peningkatan ditopang oleh ekspor non-migas yang naik 8,22%, menjadi US$106,06 miliar sedangkan ekspor migas turun 11,26% atau menjadi US$5,92 miliar.

Adapun impor Indonesia pada Mei 2025 sebesar US$20,31 miliar atau naik 4,14%. Peningkatan ini dipicu kenaikan impor non-migas sebesar 5,44%. Sedangkan, impor migas turun 3,80%. Impor pada periode ini, dikontribusikan dari impor bahan baku dan penolong yang sebesar 69,15%, diikuti barang modal 21,86%, dan barang konsumsi 8,99%.

Produk bahan baku yang mengalami penurunan terdalam meliputi emas batangan non-moneter, bensin, dan biji kakao. Sementara itu, produk barang modal yang mengalami lonjakan impor adalah instrumen navigasi, ponsel, dan perangkat transmisi telekomunikasi. Untuk barang konsumsi, peningkatan terbesar tercatat pada daging beku tanpa tulang, buah anggur, dan mobil listrik.

Secara kumulatif, impor Indonesia sepanjang Januari–Mei 2025 mencapai US$96,60 miliar, tumbuh 5,45%. Peningkatan ini didorong oleh impor non-migas yang naik 7,92%, meskipun impor migas turun 7,44%. (*)

# Tag