Penyaluran Kredit di Bali Naik 6,65%, Tembus Rp113 Triliun

null
Kepala OJK Provinsi Bali, Kristrianti Puji Rahayu. (Foto : Istimewa).

Penyaluran kredit di Bali pada April tahun ini senilai Rp113,72 triliun atau naik sebesar 6,65% jika dibandingkan periode yang sama di 2024. Pertumbuhan kredit ini didorong oleh peningkatan kredit investasi senilai Rp5,14 triliun atau melonjak sebesar 18,64%.

"Tingginya pertumbuhan kredit investasi ini menggambarkan masih tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap prospek kondisi perekonomian di Bali," ujar Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali, Kristrianti Puji Rahayu, dalam keterangannya yang ditulis SWA.co.id di Denpasar, Bali, pada Sabtu (5/7/2025).

Berdasarkan kategori debitur, sebesar 51,83% dari penyaluran kredit di Bali pada April tahun ini disalurkan kepada UMKM. Penyaluran kreditnya naik sebesar 4,28%.

Penyaluran kredit UMKM di Bali ini lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional dari porsi kredit maupun pertumbuhan penyaluran kredit yang masing-masing melonjak sebesar 19,50% dan 2,65%.

Berdasarkan sektornya, porsi penyaluran kredit di Pulau Dewata ini didominasi oleh sektor konsumtif sebesar 33,87%. Kemudian, porsi sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 28,34%.

Sedangkan pertumbuhan kredit disumbangkan oleh peningkatan nominal penyaluran di sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum sebesar Rp2,31 triliun atau tumbuh 20,50% dan sektor penerima kredit konsumtif yang tumbuh 5,96%.

Kualitas kredit perbankan di Bali, menurut Puji, tetap terjaga apik. Hal ini tecermin dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross sebesar 3,21% lebih rendah dibandingkan April 2024 sebesar 3,25%.

Sementara itu, NPL net berada di posisi 2,23%, sedikit meningkat dibandingkan April 2024 yang sebesar 2,10% namun masih jauh di bawah ambang batas (threshold).

Penyelesaian kredit restrukturisasi dan ekspansi kredit berdampak positif terhadap penurunan rasio loan at risk (LaR) yang turun menjadi 11,48%. Raihan ini lebih rendah dibandingkan LaR di April 2024 sebesar 16,01%.

"OJK akan terus mendukung perbankan melalui langkah kebijakan yang diperlukan sehingga perbankan terus bertumbuh berkelanjutan namun tetap prudent dalam aspek manajemen risiko" tambah Puji.

OJK Bali mencatat penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) di April tahun ini senilai Rp194,63 triliun dan melanjutkan catatan double digit growth yaitu 10,22%, berada di atas pertumbuhan DPK nasional yang sebesar 4,55%. Berdasarkan jenisnya, peningkatan DPK ditopang oleh kenaikan nominal tabungan sebesar Rp10,35 triliun.

Fungsi intermediasi masih menunjukkan tingkat yang positif tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) sebesar 58,43%. Adapun kecukupan modal BPR (cash ratio/CR) dan capital adequacy ratio (CAR) terjaga di atas threshold. Angkanya berturut-turut sebesar 14,01% dan 34,64%.

"Tingginya permodalan perbankan diyakini mampu menyerap potensi risiko yang dihadapi dan OJK akan terus mendorong kinerja intermediasi dengan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan terjaganya likuiditas," pungkas Puji. (*)

# Tag