DBS Lirik Investasi ke Emas dan Surat Utang, Namun Optimistis Pasar Tetap Bullish
Bank DBS memperkirakan kondisi ketidakpastian ekonomi global masih akan berlanjut. Ketidakpastian ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kebijakan tarif era Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang masih membayangi, defisit fiskal negara yang membengkak, pelemahan mata uang global, hingga potensi otomatisasi yang menggantikan tenaga kerja manusia.
Chief Investment Officer (CIO) Bank DBS, Hou Wey Fook, menilai bahwa situasi ini tetap menyimpan peluang investasi, khususnya di aset seperti emas dan surat utang.
“Kondisi ekonomi boleh saja volatil, tetapi kita tidak berpikir bahwa sedang memasuki pasar bearish,” jelas Fook dalam acara daring DBS CIO Insights 2H25 bertajuk “The Global Pivot” pada Senin (7/7/2025).
Dalam paparannya, Fook menekankan bahwa komoditas emas — yang juga merupakan mineral kritis — semakin dipandang sebagai aset strategis nasional. Selain itu, emas dinilai sebagai komoditas yang netral terhadap tekanan politik dan geopolitik.
Lebih lanjut, Fook menyampaikan bahwa emas berpotensi melanjutkan reli harganya dalam kondisi dolar AS melemah dan suku bunga The Fed menurun. Sebaliknya, dalam kondisi dolar AS menguat dan imbal hasil surat utang naik, harga emas cenderung tertekan.
Fook memperkirakan, DBS akan tetap berpandangan konstruktif terhadap komoditas ini karena memberikan imbalan yang asimetris.
Di tengah kondisi pasar yang dinamis, investor dengan dana jumbo — baik institusi maupun ritel — masih cenderung mengalokasikan dana ke instrumen minim risiko seperti deposito dan reksa dana pasar uang.
Menurut Fook, ini mencerminkan adanya koreksi pasar yang tengah berlangsung. Namun ia berharap investor kembali mengucurkan dananya ke instrumen berisiko seperti obligasi dan ekuitas, untuk menangkap peluang jangka menengah-panjang.
Terkait surat utang dan obligasi, DBS melirik peluang di obligasi korporasi maupun pemerintah. Jangka waktu investasi yang disarankan berkisar antara jangka pendek (1–3 tahun) hingga jangka panjang (7–10 tahun), tergantung profil risiko masing-masing investor.
“Namun untuk memanfaatkan imbal hasil, kami menganjurkan agar portofolio Anda mengadopsi pendekatan yang terdiversifikasi daripada hanya memegang beberapa obligasi,” lanjut Fook.
DBS juga tidak hanya menyoroti investasi konservatif seperti emas dan obligasi, tapi turut mengamati peluang di pasar saham, khususnya pada sektor teknologi. Fokus utamanya adalah perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), yang dinilai akan mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Fook menyoroti kelompok saham Magnificent Seven atau Mag 7 — yang mencakup NVIDIA (NVDA), Microsoft (MSFT), Apple (AAPL), Amazon (AMZN), hingga Google (GOOG, GOOGL) — sebagai contoh perusahaan yang berpotensi mencetak pertumbuhan pendapatan dua digit selama lima tahun mendatang.
“Perusahaan-perusahan teknologi top kini tidak menghadapi hambatan belanja modal yang tinggi, karena sebagian besar produksi cip semikonduktor mereka dialihdayakan (outsource),” tutup Fook. (*)