Bagaimana No Void Minds Tumbuh Menjadi "Uniqlo-nya" Indonesia

null
Produk-produk No Void Minds. (Ist)

Di sudut sebuah gudang produksi di Bandung, seorang pria muda berusia 25 tahun bernama Verrell Gunawan memerhatikan deretan kaos yang baru saja keluar dari proses quality control.

Di hadapannya, tangan-tangan telaten menyusun pakaian satu per satu kaos merek No Void Minds itu, memastikan tidak ada benang menyimpang atau jahitan renggang.

Verrell bukan sekadar pemilik merek No Void Minds, tapi juga penggagas dari setiap ide yang menjelma menjadi potongan kain siap pakai. Ia bukan anak dari keluarga desainer (orang tuanya berbisnis otomotif), bukan pula lulusan sekolah mode ternama. Tapi satu hal yang tak terbantahkan: sejak kecil, ia sudah tahu ingin menjadi pengusaha.

“Saya tuh, tiap nulis cita-cita, di situ saya mau jadi pengusaha,” kenangnya dengan aksen Sunda, tentang masa sekolah dasar, ketika teman-temannya masih bercita-cita menjadi astronot atau dokter.

Dalam buku binder yang dulu jadi ajang tukar-menukar biodata, ia sudah menulis “pengusaha” sebagai impian jangka panjangnya. Keteguhan itu bukan omong kosong. Saat masih SMA, Verrell sudah menjajakan kaos kelas untuk proyek karya wisata sekolah. Ia mengatur jaringan pemesanan lintas angkatan, seperti seorang MLM bermental CEO.

Gagal

Namun membangun merek yang mampu bersaing di pasar yang padat seperti Indonesia tak semudah menjual kaos untuk anak SMA. Tahun 2019, saat masih kuliah di Universitas Pelita Harapan, Verrell dan rekannya meluncurkan No Void, cikal bakal No Void Minds. Kala itu, mereka menjual kaos bergrafis dengan cerita visual.

“Cuma di situ kami belum mengerti brand, belum ada brand proposition,” ujar Verrell. Hasilnya?

Seperti banyak usaha yang dimulai tanpa fondasi kuat, No Void pun ambruk. Selama dua tahun, Verrell menutup operasional merek itu dan memilih fokus menyelesaikan kuliah.

Tapi diam-diam, di sela-sela menyusun skripsi dan menghadiri kelas online, ia mulai menyusun ulang seluruh pendekatannya. Ia mengevaluasi apa yang salah, apa yang hilang, dan apa yang harus diubah.

Dari kegagalan tersebut, lahirlah ide baru yang menjadi fondasi No Void Minds — versi lebih matang dengan filosofi berbeda: bukan sekadar menjual desain visual, tapi menciptakan kenyamanan berbasis riset dan teknologi.

Pada 2021, meluncurlah No Void Minds. Penambahan kata “Minds” bukan sekadar estetika. Di baliknya tersimpan filosofi baru: tidak ada pikiran yang hampa.

Pergeseran ini tak hanya sebatas perubahan nama, tetapi juga transformasi menyeluruh dalam cara pandang bisnis. Dari sekadar mendesain kaos penuh grafis, Verrell beralih ke pakaian sederhana yang dibuat dengan riset bahan, potongan, dan struktur yang diperhitungkan secara teliti. Filosofi ini ia sebut sebagai tech life wear — pakaian sehari-hari yang menyatu dengan kebutuhan fungsional manusia modern.

Perbedaan utama No Void Minds dengan produk lainnya terletak pada fokusnya: bukan pada grafis, melainkan pada material. Di tengah pasar fesyen lokal yang gemar bermain di visual, Verrell menawarkan kesederhanaan yang berpijak pada kualitas kain dan kenyamanan. “Karena hal itu yang kami jual,” ungkapnya.

Pilihan ini memang berisiko. Konsumen jadi lebih kritis terhadap potongan, jenis benang, dan detail teknis. Tapi celah ini juga menjadi peluang pasar yang belum banyak dijelajahi merek lokal.

Visi No Void Minds dibangun bukan dari ketenaran instan, melainkan dari pertarungan sunyi yang panjang melawan keraguan, termasuk dari lingkaran terdekatnya. Orang tua Verrell awalnya tak menganggap serius proyek bisnis ini. Bahkan dari keluarga besar muncul pertanyaan skeptis: mengapa tidak saja meneruskan bisnis otomotif keluarga?

Namun seperti banyak entrepreneur generasi pertama, Verrell memilih jalan yang tak mudah dijelaskan — kecuali dengan hasil. “Gimana cara buktiinnya sih, kayaknya nggak ada cara lain selain data dan angka ya,” katanya tegas.

null
Verrell Gunawan membuat kaos yang tidak kusut karena selalu ingin rapi. (Foto: Prio Santoso/SWA)

Rebranding

Ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil. Setelah rebranding pada 2021, No Void Minds tak lagi menjual kaos dengan motif semata, melainkan menghadirkan tech life wear — pakaian sehari-hari yang ditenun dengan teknologi.

Konsep ini bukan jargon belaka. Salah satu produk andalan mereka adalah kaos berbahan teknologi AEZY yang tidak mudah kusut dan cepat kering. Sebuah solusi dari masalah sehari-hari yang tampak sepele, tapi sangat mengganggu: kebiasaan malas menyetrika. “Jadi kusut. Itu karena itu. Karena kusut itu, saya mikir, oh oke, berarti saya harus bisa bikin baju yang cuci, cepat kering, sedah kering, langsung nggak usah setrika, langsung rapi,” ungkapnya.

Verrell tidak hanya berpikir sebagai produsen, tapi juga sebagai konsumen. Ia membayangkan dirinya sendiri yang tak suka ribet, tak mau mengenakan pakaian yang membuat tubuh terasa tidak nyaman seharian.

Maka dari itu, ia terobsesi pada kenyamanan — mulai dari pemilihan bahan, teknik potong, hingga sensasi saat menyentuh kulit. No Void Minds menjual pengalaman, bukan hanya benda. Dan pengalaman itu dimulai dari produk yang terasa 'benar' sejak pertama disentuh.

Sebagai bagian dari strategi bertahap, mereka memulai dengan kaos, lalu memperluas ke sweater. Kemudian, pada Agustus 2025, Verrell dan timnya berencana meluncurkan lini lengkap menswear — dari celana pendek hingga jeans. Ia menyebut ada dua teknologi khusus yang dikembangkan hanya untuk celana, dan itu akan menjadi game changer berikutnya.

“Salah satu filosofi yang saya selalu tekanin pun, terutama untuk product development, kita harus punya produk yang selalu beda dibanding yang lain,” katanya.

Menariknya, seluruh lini produksi mereka — mulai dari kain, penjahitan, hingga distribusi — masih sepenuhnya berbasis di Indonesia. Sebuah keputusan yang tak hanya ekonomis, tetapi juga strategis.

“Kita 100% lokal,” tegas Verrell, menunjukkan bahwa keunggulan bisa dibangun tanpa harus bergantung pada impor. Bandung sebagai salah satu pusat tekstil dunia memberikan keunggulan logistik dan akses bahan yang kompetitif. Yang dibutuhkan hanyalah keinginan untuk mencari—dan kecermatan untuk membedakan kualitas.

Konsistensi

Dengan pertumbuhan yang konsisten, No Void Minds yang berawal dari 2 orang (Verrel dan rekannya), kini mempekerjakan sekitar 130 orang, jauh dari masa-masa awal ketika Verrell dan rekannya hanya berdua, merangkap semua peran dari customer service hingga packing.

Divisi terbanyak adalah QC (quality control), mencerminkan perhatian serius mereka terhadap kualitas produk. Skala tim ini menjadi indikator transformasi No Void Minds dari startup pinggiran menjadi brand nasional yang mulai mencuri perhatian pasar lifestyle urban.

Salah satu strategi yang mendorong pertumbuhan mereka secara eksponensial adalah adaptasi terhadap live shopping. Tidak sekadar ikut tren, No Void Minds menjalankan sesi live 24 jam nonstop, menjadikannya pionir di platform e-commerce tertentu.

“Karena dulu salah satu e-commerce yang kita masuk sekarang, mereka mengajarkan kita untuk lakuin live 24 jam,” ungkap Verrell. Awalnya penuh keraguan: apakah ada orang yang belanja jam 3 pagi? Namun hasilnya membuktikan, ada lonjakan transaksi justru di waktu-waktu tak terduga seperti pukul 12 hingga 3 dini hari.

Investasi untuk live shopping 24 jam ini tidak kecil. Biaya SDM, infrastruktur studio, dan jadwal yang harus terus dijaga menjadi beban operasional tersendiri. Tapi Verrell memilih menjalani semuanya dengan satu kata kunci: konsistensi.

“Itu biaya investasi yang… apalagi di awal-awal kita... sales belum sebesar itu 24 jam itu... Kadang kita mikir, ini worth it gak ya?” katanya. Tetapi sebagaimana ia diajarkan oleh ayahnya sejak kecil, kegigihan tak diukur dari hasil instan, melainkan dari kesanggupan untuk terus mencoba.

Model distribusi No Void Minds sejauh ini masih full online, tanpa satu pun toko fisik. Mereka bahkan belum pernah mengikuti bazar atau pameran.

Tapi bukan berarti Verrell tidak punya visi ke sana. Justru ia tengah merancang sebuah experience store yang akan berbeda dari toko fesyen konvensional. “Kita pengen jaga experience toko kita. Bahkan saya punya planning untuk membuat store. Bukan store offline biasa tapi pengen saya bikin experience store,” ujarnya. Konsepnya lebih menyerupai museum: ruang yang bercerita, bukan sekadar menjual.

No Void Minds menyasar pria sebagai target utama, meski Verrell menyadari pasar perempuan jauh lebih besar. Namun ia memilih tidak terburu-buru. Fokus menjadi strategi pertahanan di tengah pasar yang mudah tergoda ekspansi.

Verrell tahu betul: di balik kaos yang terlihat sederhana, ada arsitektur bisnis yang kompleks. Itulah sebabnya ia masih memegang penuh kendali atas riset dan pengembangan produk, memastikan setiap inovasi lahir dari kebutuhan riil konsumen, bukan sekadar eksperimen acak.

Tech Life Wear

Salah satu pelajaran terbesar yang Verrell petik dari perjalanan sejak 2019 adalah pentingnya mengenali masalah lebih cepat daripada pesaing. “Cari problem secepat mungkin. Itu salah satu langkah yang saya selalu tekanin ke tim saya,” katanya.

Di dalam setiap rapat, pertanyaan pertama yang ia lontarkan bukan tentang target penjualan atau kampanye pemasaran, melainkan: apa masalah hari ini? Bagi Verrell, bisnis adalah seni mendeteksi gejala sebelum berubah jadi krisis — dan solusi lahir dari kesadaran penuh terhadap dinamika tersebut.

Di usianya yang muda, Verrell telah menjalani siklus penuh dari kegagalan ke kelahiran ulang, dari intuisi ke sistem, dari semangat ke struktur. Ia tidak memiliki mentor besar, tidak pula menyandang nama keluarga dari dinasti mode.

Tapi mungkin justru karena itu ia belajar membangun dari nol dengan pendekatan yang jauh lebih tangguh. “Meskipun sekarang market lagi penuh ketidakpastian...,” ucapnya, sebelum jeda, seolah mengakui bahwa tantangan tak akan pernah selesai.

null
Verrell Gunawan (kiri) dalam satu acara berama Tokopedia. (kirani.id)

Masa depan No Void Minds masih panjang dan belum sepenuhnya ditulis. Ekspansi ke pasar ekspor masih berupa mimpi, tetapi bukan ilusi. Yang sudah pasti, mereka tengah bersiap meluncurkan lima teknologi baru sepanjang tahun ini. Di tengah tren cepat mode, Verrell justru memilih bergerak dengan fondasi yang dalam — mendesain teknologi, membangun tim, dan menyusun kanal distribusi yang terukur. “Karena kita pengen punya banyak teknologi untuk specific market tertentu,” katanya.

Jika ada satu hal yang membedakan No Void Minds dari ratusan merek lokal yang bermunculan tiap tahun, itu bukan pada kualitas sablon atau harga diskon, tapi pada cara brand ini menanam nilai.

Di balik setiap potong pakaian, tersembunyi refleksi mendalam tentang hidup yang nyaman, efisien, dan sadar fungsi. Filosofi tech life wear bukan sekadar tagline, melainkan prinsip desain dan produksi yang melekat di setiap tahap bisnisnya.

Dan mungkin, seperti halnya setiap kaos No Void Minds yang tidak mudah kusut, semangat Verrell Gunawan juga terbuat dari bahan serupa — tahan guncangan, lentur, dan selalu kembali ke bentuknya. Dalam dunia fashion yang cepat dan penuh gemerlap, ia memilih jalur sunyi namun kokoh: membangun sesuatu yang bertahan, dimulai dari kesadaran akan masalah sehari-hari, hingga menjelma jadi solusi yang bisa dikenakan. (*)

# Tag