Palo Alto Networks: Adopsi GenAI Melonjak 890%, Risiko Keamanan Mengintai

Palo Alto Networks: Adopsi GenAI Melonjak 890%, Risiko Keamanan Mengintai
Ilustrasi perusahaan keamanan siber global Palo Alto Networks. Foto Palo Alto Networks

Palo Alto Networks merilis laporan State of Generative AI 2025 yang mengungkap lonjakan lalu lintas Generative AI (GenAI) hingga 890% sepanjang 2024. Peningkatan pesat ini didorong oleh adopsi berbagai tools GenAI di lingkungan perusahaan.

Meski demikian, laporan tersebut juga memperingatkan bahwa penggunaan tools GenAI yang tidak disetujui, ancaman baru, serta kurangnya tata kelola telah memperluas attack surface yang dihadapi organisasi, terutama di kawasan Asia-Pasifik dan Jepang.

"Pengawasan proaktif dan kontrol keamanan yang adaptif sangat penting untuk memastikan manfaat AI dapat direalisasikan sepenuhnya tanpa mengorbankan keamanan nasional, kepercayaan publik, atau integritas operasional," ujar Tom Scully, Director and Principal Architect for Government and Critical Industries, Asia Pacific & Japan, Palo Alto Networks, dalam siaran pers Rabu (9/7/2025).

Sektor teknologi dan manufaktur tercatat menyumbang 39% dari transaksi coding AI, sehingga menciptakan risiko tambahan bagi industri yang bergantung pada kekayaan intelektual.

Risiko ini semakin meningkat setelah peluncuran DeepSeek-R1 pada Januari 2025, di mana penggunaan DeepSeek melonjak hingga 1.800% hanya dalam dua bulan.

Perusahaan kini dengan cepat memanfaatkan GenAI untuk berbagai fungsi mulai dari asisten penulisan, platform coding, customer support, hingga alat pencarian.

Namun, adopsi yang meluas ini melampaui kemampuan banyak organisasi dalam menerapkan kontrol keamanan yang memadai. Rata-rata, organisasi saat ini mengelola 66 aplikasi GenAI di lingkungannya, dengan 10% di antaranya diklasifikasikan sebagai berisiko tinggi.

Di Indonesia, menurut laporan Oliver Wyman, 50% karyawan menggunakan GenAI setiap pekan dan 21% menggunakannya setiap hari, terutama untuk membuat konten, layanan pelanggan, dan tugas-tugas riset.

Selain itu, pemerintah telah menetapkan target ambisius: AI diharapkan berkontribusi sebesar USD 366 miliar (sekitar Rp5.939 triliun) terhadap PDB nasional pada 2030. (*)

# Tag