Manulife Investment Management Merilis Kajian Peluang Investasi di Semester Kedua 2025
Manulife Investment Management pada hari ini menerbitkan tinjauan pasar untuk semester kedua 2025. Kajian ini membahas kondisi ekonomi makro dan peluang investasi di Asia dan global di tengah ketidakpastian kebijakan, pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, dan perubahan pola perdagangan, Asia tetap menunjukkan prospek jangka panjang yang menjanjikan berkat inovasi, digitalisasi, dan lokalisasi.
Meskipun tekanan inflasi global mulai mereda, ketidakpastian kebijakan dan pertumbuhan yang tidak seimbang masih menjadi tantangan utama. Di Amerika Serikat, ketegangan perdagangan dan perubahan kebijakan fiskal menekan sektor industri dan konsumsi, mendorong The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan pendekatan hati-hati, dengan proyeksi penurunan suku bunga hingga 3,5% pada pertengahan 2026.
Kondisi Global Beragam
Luke Browne, Global Head of Multi-Asset Solutions, menyatakan situasi makro 2025 telah berubah signifikan dalam enam bulan terakhir. Fragmentasi kebijakan, terutama dari AS, telah menciptakan dampak luas di perdagangan dan pasar keuangan. “Arah kebijakan The Fed masih menuju pelonggaran, laju penurunan suku bunga akan sangat tergantung pada ketahanan pertumbuhan ekonomi dan data ketenagakerjaan AS, tanggap Luke dalam keterangan yang diterima swa.co.id di Jakarta, Jumat (11/7/2025).
Di kawasan lain, manufaktur Eropa mulai stabil meskipun pertumbuhannya masih lemah, dan siklus pelonggaran oleh Bank Sentral Eropa hampir selesai. Jepang menunjukkan fase awal investasi yang didorong inflasi upah dan reformasi struktural, meski mulai melambat. Sementara itu, negara berkembang dengan ekonomi domestik kuat tetap tangguh, sedangkan yang bergantung pada ekspor lebih rentan terhadap tarif dan arus modal global.
Instrumen Pendapatan Tetap dan Saham
Murray Collis, Head of Asia ex-Japan Fixed Income, menekankan pasar obligasi Asia menunjukkan kinerja kuat berkat pelemahan dolar AS dan daya tarik imbal hasil yang tinggi. The Fed mempertahankan suku bunga di 4,5% selama paruh pertama 2025 dan diperkirakan akan mulai memangkasnya pada paruh kedua, mendukung pasar obligasi.
Beberapa negara Asia seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina dinilai memiliki ruang untuk penurunan suku bunga, mendorong kinerja obligasi lokal. Obligasi berdenominasi USD tetap diminati berkat imbal hasil menarik dan durasi pendek.
Charlie Dutton, Head of Emerging Market Equities, tetap optimis terhadap prospek jangka panjang Asia, dengan dukungan dari tren seperti AI, konsumsi, dan layanan kesehatan. Ia mencatat bahwa China kini fokus pada transformasi struktural, termasuk percepatan AI lokal, belanja fiskal yang meningkat, dan kerja sama perdagangan dengan ASEAN.
India menonjol berkat kebijakan efektif dan daya konsumsi domestik yang kuat, serta eksposur perdagangan luar negeri yang terbatas. ASEAN juga menarik perhatian karena suku bunga rendah, inflasi terkendali, dan integrasi ekonomi yang semakin dalam. Negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand dinilai memiliki potensi pertumbuhan tinggi di sektor konsumsi, digitalisasi, dan reformasi infrastruktur. (*)