Buah Transformasi Dahana: Pendapatan Meningkat, Laba Meroket
PT Dahana merupakan satu-satunya BUMN yang bergerak di bidang produksi bahan peledak, baik untuk kepentingan pertahanan (militer) maupun untuk segmen komersial (pertambangan).
Saat ini Dahana tergabung dalam holding BUMN industri pertahanan DEFEND ID bersama empat BUMN lainnya: PT Len Industri (Persero), PT Pindad (Persero), PT Dirgantara Indonesia, dan PT PAL Indonesia.
Penurunan Kinerja Binsis
Sebagai produsen bahan peledak tertua di Indonesia, Dahana yang bermarkas di Subang, Jawa Barat, mempunyai keunggulan berupa fasilitas industri yang paling lengkap dibandingkan pabrikan bahan peledak lainnya.
Untuk pasar komersial, misalnya, Dahana memiliki fasilitas pabrik untuk enam jenis bahan peledak, antara lain cartridged emulsion (bahan peledak kemasan berbahan emulsi) dengan kapasitas 5.000 ton per tahun; pentolite booster dengan kapasitas 3 juta pcs per tahun; dan bulk emulsion dengan kapasitas 60 ribu ton per tahun.
Sementara itu, untuk keperluan militer, Dahana mengoperasikan pabrik nitroglycerin dengan kapasitas 200 ton per tahun serta pabrik pengisian bahan peledak untuk bom pesawat Sukhoi dan NATO dengan kapasitas 1.000-3.000 pcs per tahun.
Dahana juga telah memperkuat rantai pasok bahan baku dengan mendirikan pabrik asam nitrat dengan kapasitas 60 ribu ton per tahun dan amonium nitrat berkapasitas 75 ribu ton per tahun.
Saat ini Dahana menempati peringkat dua sebagai pemasok bahan peledak di pasar Indonesia, sedangkan peringkat satu masih ditempati pemain dari multinational company.
Sebelum melakukan transformasi, tantangan yang dihadapi Dahana ialah terjadinya penurunan kinerja bisnis sejak 2018 yang ditandai oleh pertumbuhan pendapatan yang stagnan dengan perolehan laba bersih yang terus menurun.
Pada 2018, perusahaan dengan lebih dari 1.000 karyawan ini masih membukukan laba bersih Rp134 miliar. Tahun-tahun berikutnya, terus menurun menjadi Rp74 miliar (2019), Rp60 miliar (2020), dan bahkan mencapai titik paling rendah pada 2021 dengan laba bersih hanya Rp25 miliar.
Kinerja keuangan yang sangat mengkhawatirkan pada 2021 salah satunya dipicu oleh pandemi Covid-19 yang secara drastis menurunkan permintaan batu bara di pasar global yang juga diikuti dengan penurunan harga sangat drastis.
Kondisi ini langsung berimbas pada penurunan bisnis Dahana yang memasok bahan peledak ke lokasi-lokasi pertambangan batu bara di sejumlah wilayah di Indonesia.
Tantangan lain, seperti dijelaskan Mohamad Nur Sodiq, Director of Finance Risk Management and Human Capital Dahana, ialah adanya persaingan yang semakin ketat.
“Saat ini terdapat 10 perusahaan bahan peledak lokal di Indonesia dan masih ada potensi terus bertambah seiring dengan kemudahan regulasi yang diberikan oleh pemerintah,” katanya saat mempresentasikan program transformasi Dahana di hadapan Dewan Juri Indonesia Best Business Transformation 2025.
Enam Pilar
Menghadapi sejumlah dinamika di atas, pilihan yang diambil tim manajemen Dahana ialah melakukan transformasi secara menyeluruh. Transformasi yang dilakukan mencakup enam pilar, yaitu transformasi bisnis dan penjualan, transformasi teknologi, transformasi keuangan, transformasi operasional, tranformasi tata kelola dan budaya perusahaan, serta transformasi human capital.
Untuk transformasi bisnis dan penjualan, yang pertama dilakukan: menyesuaikan kontrak dan harga jual serta skema penjualan untuk memperbaiki profitabilitas.
Kedua, melakukan pemisahan penjualan amonium nitrat dengan jasa-jasa lainnya guna mengurangi risiko akibat fluktuasi harga yang pada saat itu cukup tinggi.
Ketiga, mengkaji diversifikasi usaha ke arah hulu. Dan keempat, membangun bisnis loading dan hauling serta quarry management sebagai engine baru pertumbuhan bisnis di masa depan.
Hasil dari transformasi cukup mengesankan, yang ditunjukkan oleh peningkatan penjualan dan laba bersih yang sangat signifikan. Pada 2022, setahun setelah transformasi berjalan, terjadi peningkatan penjualan sebesar 74% dari Rp1,903 triliun pada 2021 menjadi Rp3,322 triliun pada 2022. Sementara laba bersihnya meroket 948% dari Rp25 miliar menjadi Rp262 miliar.
Pada tahun-tahun berikutnya kinerja keuangan terus meningkat. Pada 2024 pendapatan mencapai Rp4,239 triliun dengan laba bersih Rp502 miliar. “Ini capaian laba bersih terbesar yang pernah dicapai sepanjang masa Dahana,” Nur Sodiq menandaskan. Dan tahun 2024 itu juga, Dahana mulai menyumbangkan dividen sebesar Rp105 miliar kepada negara.
Untuk langkah berikutnya, Dahana telah mencanangkan program transformasi berkelanjutan untuk mewujudkan goal menjadi kiblat ekosistem industri bahan peledak nasional yang memiliki predikat sehat Aᶧ dengan capaian laba bersih di atas Rp1 triliun pada 2029. (*)