Peluang di Tengah Tarif Resiprokal 19%, Ini Pandangan Kiwoom Sekuritas Indonesia
Setelah diumumkannya tarif resiprokal 19% antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia, Kiwoom Sekuritas Indonesia melihat sejumlah peluang bagi sektor-sektor yang menjadi pemasok ekspor ke AS.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa tarif resiprokal 19% tersebut menjadi salah satu yang terendah dibandingkan negara lain.
Secara kompetitif, tarif Indonesia lebih rendah dibandingkan Vietnam (20%), China yang mengenakan tarif lebih dari 50% untuk banyak kategori, serta India dengan tarif sekitar 23–25% untuk produk tekstil dan alas kaki.
“Dalam praktiknya, kenaikan tarif akan mendorong importir menaikkan harga jual atau mencari pemasok dari negara dengan tarif lebih rendah,” jelas Liza dalam riset harian tertulisnya, Rabu (16/7/2025).
Liza juga menilai, meskipun tarif turun signifikan menjadi 19%, Indonesia memiliki “sedikit ruang napas” dalam mempertahankan pangsa pasar ekspor ke AS.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor dominan ekspor Indonesia ke AS pada kuartal I/2025 meliputi tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, furnitur dan kerajinan kayu, produk perikanan — termasuk udang dan tuna, karet beserta turunannya, kelapa sawit olahan, hingga komponen elektronik dan kabel.
Dari sisi persaingan, Vietnam, Bangladesh, dan India menjadi pesaing utama di sektor TPT. Sementara Malaysia menjadi pesaing kuat di sektor kelapa sawit olahan dan produk minyak nabati.
Untuk sektor elektronik, Thailand, Filipina, dan Vietnam menjadi kompetitor utama Indonesia, bahkan Thailand dan Filipina juga bersaing di sektor produk perikanan.
Meski begitu, Indonesia tetap berpotensi kehilangan pangsa pasar ekspor jika tarif resiprokal yang dikenakan tetap tinggi. Kondisi tersebut dapat terjadi apabila produk-produk Indonesia tidak mampu bersaing dari sisi harga, kualitas, maupun efisiensi logistik.
“Meski tarif kita saat ini 19% dan lebih rendah dari beberapa pesaing, importir AS tetap akan mempertimbangkan total landed cost, bukan sekadar tarif,” tambah Liza.
Selain itu, menurutnya, produk buatan Indonesia juga harus terus meningkatkan sertifikasi dan kepatuhan terhadap standar AS untuk memperbesar peluang ekspor ke negeri Paman Sam.
Apa arti ini semua?
Dengan tarif resiprokal 19% yang relatif lebih rendah, Indonesia memiliki peluang untuk mempertahankan bahkan memperluas pangsa pasarnya di AS, khususnya pada sektor tekstil, alas kaki, furnitur, produk perikanan, kelapa sawit olahan, dan elektronik.
Namun, peluang ini tidak bisa hanya bergantung pada tarif saja. Indonesia tetap perlu meningkatkan daya saing melalui harga yang kompetitif, kualitas produk yang baik, efisiensi logistik, serta kepatuhan terhadap standar dan sertifikasi yang berlaku di AS.
Pada akhirnya, bukan sekadar tarif yang menentukan, melainkan seberapa siap produk Indonesia bersaing secara menyeluruh di pasar global.
Sementara itu, berdasarkan data aplikasi IDX Mobile pada 16 Juli 2025, indeks sektor siklikal (IDXCYCLIC) — yang meliputi sektor tekstil dan produk tekstil, alas kaki, furnitur, dan kerajinan kayu — ditutup melemah.
Sebaliknya, indeks sektor teknologi (IDXTECHNO) — yang mencakup komponen elektronik dan kabel — serta indeks sektor barang konsumen primer (IDXNONCYC), yang mencakup produksi kelapa sawit, produk perikanan, pertanian, dan peternakan, ditutup menguat.
Secara detail, IDXCYCLIC melemah 0,57 poin atau 0,08% menjadi 712,53. IDXNONCYC menguat 0,10 poin atau 0,01% ke level 677,12. Adapun IDXTECHNO menguat signifikan 399,81 poin atau 6,09% menjadi 6.965,26. (*)