Begini Jurus Kemenperin Mencetak Technopreneur Muda

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen menumbuhkan berbagai wirausaha industri baru di Indonesia. Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar, menjadi saksi nyata komitmen yang diambil. Balai ini fokus untuk berkontribusi menghasilkan sumber daya manusia (SDM) industri dan technopreneur muda yang siap bersaing di era digital.

Kepala BDI Denpasar, Arga Mahendra menuturkan pihaknya menginisiasi program pelatihan Deep Dive Corporate Master Class: Branding. Program ini kolaborasi BDI Denpasar bersama Starfindo, Kinaya dan Indogo. Dengan begitu, para peserta dapat mendapatkan ilmu langsung dari para ahlinya.

"Kami siapkan ruang kreatif, tempat bertemu bagi para wirausahawan serta pelaku industri digital dan visual branding, yang akan terus kami dukung untuk melahirkan talenta dan karya unggulan dari Bali," ujarnya dalam siaran pers dikutip Minggu (20/7/2025).

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemeperin, Masrokhan, mengapresiasi segala inisiasi yang dilakukan oleh BDI Denpasar. Dia meyakini pelatihan berbasis kompetensi dan pendampingan intensif ini berdampak terhadap pertumbuhan wirausaha industri yang berkontribusi terhadap ekonomi lokal dan nasional.

Terlebih lagi, ada tantangan yang datang. Para pemilik usaha terutama wirausaha pemula semakin berat. Mulai dari perubahan pola konsumsi, gaya hidup, dan fluktasi perekonomian yang sangat dinamis. Semua itu ditopang oleh pesatnya pertumbuhan teknologi informasi, mengakibatkan persaingan usaha semakin ketat.

Masrokhan pun merujuk data dari McKinsey (2024) yang menunjukkan, 73% konsumen milenial dan Gen Z mengatakan lebih memilih membeli brand yang senilai dengan mereka, meski harganya lebih tinggi.

“Ini berarti, dalam dunia industri modern, produk yang bagus saja tidak cukup, harus dibungkus dengan cerita dan nilai yang kuat," tuturnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, sektor ekonomi kreatif menyumbang 7,44% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menyerap lebih dari 14% tenaga kerja, dan memberi kontribusi hampir 13,8% terhadap ekspor nasional. Meski begitu, kurang dari sepertiga pelaku industri kreatif di Indonesia memiliki strategi branding yang terarah. (*)

# Tag