Sejauh Mata Memandang, Tulus, dan Pasar Kita: Dari Sketsa ke Slow Fashion Berkelanjutan
Di tengah riuh Grand Indonesia East Mall yang sesak dengan etalase gemerlap, Pasar Kita berdiri sebagai ruang bernapas yang mengundang orang berhenti, merenung, dan melihat kembali apa makna membeli dan memakai pakaian. Dinding kayu modular, perca kain, motif ayam di ubin kasir — semuanya menghidupkan narasi yang lebih dalam daripada sekadar tren musim ini.
Sejauh Mata Memandang (SMM), brand yang sedari awal mengusung konsep slow fashion dan sirkularitas, kali ini menggandeng Tulus — musisi dengan lirik yang selalu menawarkan cara pandang penuh empati terhadap manusia, alam, dan kehidupan sehari-hari. Bersama-sama, mereka mempersembahkan Pasar Kita, yang berlangsung 18 Juli–31 Agustus 2025 di Grand Indonesia East Mall, Jakarta.
Pameran ini, kata Chitra Subyakto, Pendiri dan Direktur Kreatif SMM, lahir dari inspirasi nilai-nilai budaya dan tradisi Indonesia, khususnya pasar rakyat — ruang interaksi sosial yang egaliter, penuh cerita dan kehidupan. Tapi bukan hanya itu: Pasar Kita juga muncul sebagai respons atas kondisi ekonomi yang kian menantang.
"Sektor padat karya seperti tekstil dan fesyen menghadapi tekanan akibat turunnya daya beli, tingginya biaya bahan baku, hingga ketatnya persaingan global," ucap Chitra, dikutip Minggu (20/7/2025).
Berawal dari Keresahan
Memasuki area pameran, pengunjung langsung merasakan konsistensi gagasan. Instalasi Pasar Kita dirancang dengan prinsip sirkular: 90% bahannya hasil reuse dan upcycle.
Panel kayu modular yang dulunya sudah menjadi latar acara lain SMM kembali dipakai; kain perca bekas produksi diolah jadi ornamen dekoratif; ubin Tegel Kunci bermotif ayam menghiasi kasir Warung Pop-Up Sejauh — detail kecil yang penuh makna sekaligus menjadi penanda visual khas SMM.
Lebih dari sekadar pameran, Pasar Kita menjadi wadah kolaborasi dengan pelaku UMKM dan artisan lokal seperti Cusia by Shibiru, Craft Denim, Gekiori, Sakombu, Toja Indonesia, Kait Handmade, dan Vitarlenology. Semua hadir membawa karya, ketrampilan, dan jejak tangan kreatif anak bangsa.
Di jantung pameran adalah koleksi hasil kolaborasi visual SMM dan Tulus: motif kain bernuansa hitam dan biru tua, yang memadukan sketsa tangan Tulus dengan motif khas SMM.
Setiap motif bukan sekadar gambar, tapi cerita tentang emosi, keseimbangan alam dan kemanusiaan, disusun dalam pola geometris kotak positif-negatif menyerupai kain poleng Bali. Ada stilasi ombak laut, awan, matahari, dan bulan — simbol sumber kehidupan yang menyelipkan pesan menjaga alam.
Motif ini hidup di atas kain katun dan Tencel dengan teknik cetak saring tangan oleh UMKM di Desa Duri Puri Kauh, Denpasar, Bali, juga lewat teknik batik cap dari artisan mitra SMM di Pekalongan, Jawa Tengah. Koleksi lengkapnya: pakaian pria, wanita, anak-anak, scarf, outerwear, hingga aksesori. Uniknya, setiap pembelian satu pakaian berarti menanam satu pohon di Kawasan Ekosistem Leuser, Aceh Timur.
Chitra memulai SMM dengan keresahan personal: ingin mengenakan pakaian yang relevan dengan iklim tropis Indonesia, namun punya keunikan dibanding busana tradisional yang dipakai generasi sebelumnya.
Visi itu tetap terjaga hingga sekarang: menciptakan fesyen yang bukan cuma cantik, tetapi juga bertanggung jawab. “Yang paling penting adalah menciptakan dampak yang bermakna,” ungkap Chitra.
Namun idealisme selalu diuji. Harga menjadi tantangan besar bagi SMM. Produksi fesyen berkelanjutan memang butuh proses panjang dan teliti — mulai dari pemilihan bahan hingga memastikan pekerja menerima upah layak. “Setiap produk memiliki ceritanya masing-masing, dan harga tersebut termasuk ke dalam nilai dari cerita dan proses yang berkelanjutan itu sendiri,” jelasnya.
Menjual Nilai, Bukan Sekadar Pakaian
Dalam praktik bisnisnya, SMM punya program daur ulang yang sangat konkret: Mereka mengumpulkan pakaian yang tidak lagi dipakai, mencacahnya hingga menjadi serat, lalu dipintal kembali menjadi benang dan ditenun menjadi kain baru. Untuk menjaga kualitas produk, SMM sangat ketat soal bahan baku. “Kami menghindari penggunaan poliester karena akan menjadi sampah abadi,” ungkapnya.
Strategi edukatif juga dijalankan lewat berbagai kanal: media sosial menampilkan behind the scenes produksi, dari pengumpulan bahan hingga menjadi busana siap pakai; pameran dan kolaborasi mengangkat isu sampah tekstil, bahan berbahaya, serta urgensi keberlanjutan.
Chitra mengaku dirinya ingin konsumen menyadari bahwa di balik setiap produk yang mereka beli, ada banyak tangan yang terlibat dan dampak lingkungan yang harus dipertimbangkan.
Inovasi desain pun tidak berhenti. Mereka membuat motif-motif terinspirasi budaya lokal seperti relief Candi Borobudur dan mangkuk mi — detail yang bukan hanya estetik tapi juga sarat narasi. SMM memang selalu mencari cara baru untuk membuat produk yang lebih bertanggung jawab, tanpa mengorbankan keindahan dan kenyamanan.
Kolaborasi dengan komunitas lokal menjadi salah satu kekuatan SMM: mulai dari petani kapas hingga pengrajin tenun diberdayakan, bukan sekadar dilibatkan sebagai vendor. Tren fesyen berkelanjutan sendiri mulai tumbuh di Indonesia, meski perlahan.
“Kami tidak hanya menjual pakaian, tetapi juga menjual nilai. Ketika konsumen memahami nilai tersebut, mereka akan lebih menghargai produk kami,” ujar Chitra.
Studio Sejauh menjadi salah satu langkah strategis berikutnya: platform belajar bagi desainer muda untuk bereksperimen dan berkolaborasi menciptakan produk yang lebih ramah lingkungan. Bagi Chitra, dirinya ingin lebih banyak orang bangga memakai produk lokal yang bertanggung jawab. "Itu adalah kemenangan bagi kita semua,” ujarnya.
Dalam perjalanan yang sudah berlangsung satu dekade ini, dukungan komunitas menjadi fondasi penting. “Industri fesyen bukan hanya tentang desain dan brand, tetapi juga tentang komunitas yang saling mendukung. Saya beruntung memiliki teman-teman yang selalu mendukung perjalanan kami,” katanya. Dukungan itulah yang membuat SMM tetap bertahan dan berkembang selama 10 tahun terakhir.
Pada akhirnya, bagi Chitra, masa depan fesyen hanya bisa ditempuh dengan keberlanjutan sebagai pijakan utama. Dengan suara penuh semangat, ia menutup: “Mari kita bersama-sama menjadi bagian dari solusi, bukan polusi.” (*)