Philips Luncurkan Future Health Index ke-10: Teknologi dan AI Jadi Kunci Masa Depan Layanan Kesehatan
Royal Philips, perusahaan global di bidang teknologi kesehatan, hari ini secara resmi meluncurkan Future Health Index (FHI) edisi ke-10 dalam konferensi pers di Jakarta. Laporan tahunan ini menyoroti transformasi sistem layanan kesehatan global melalui penerapan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).
Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia menjelaskan riset FHI yang dimulai pada 2016 terus berkembang mengikuti tren global. Dari awalnya berfokus pada connected care — integrasi data, layanan medis, dan infrastruktur — kini laporan berfokus pada bagaimana teknologi membantu membentuk masa depan layanan kesehatan.
“Dalam edisi terbaru ini, kami menghimpun pandangan dari lebih dari 1.100 responden, termasuk pasien, tenaga medis, dan pemimpin industri dari 16 negara. Indonesia, bersama Australia dan Korea Selatan, menjadi representasi kawasan Asia Pasifik,” jelas Astri.
Tiga Tantangan Kesehatan Global
Laporan FHI 2025 mengungkap tiga isu utama yang dihadapi sistem kesehatan secara global:
- Permintaan layanan kesehatan yang terus meningkat.
- Kekurangan tenaga medis.
- Meningkatnya biaya layanan kesehatan yang menuntut efisiensi.
Temuan Spesifik dari Indonesia
Di Indonesia, 77% pasien menyebutkan waktu tunggu untuk bertemu dokter spesialis tergolong lama — lebih tinggi dibanding rata-rata Asia Pasifik (66%) dan global (73%). Meski rata-rata waktu tunggu hanya 19 hari (lebih cepat dari rata-rata global), dampaknya cukup serius: 51% pasien mengalami penurunan kondisi kesehatan, dan 45% berujung pada rawat inap.
Selain itu, 62% tenaga kesehatan menyatakan kehilangan waktu karena data pasien tidak lengkap atau sulit diakses. Hanya 13% yang merasa dapat fokus secara optimal pada pasien, sementara 56% masih terbebani oleh tugas administratif yang berulang.
Optimisme terhadap Teknologi dan AI
Mayoritas tenaga kesehatan di Indonesia menunjukkan keyakinan terhadap potensi AI dalam layanan kesehatan:
- 95% percaya AI dapat meningkatkan akurasi data dan efisiensi prosedur medis.
- 92% meyakini AI mampu mempercepat waktu layanan.
- 91% menilai AI dapat mengotomatisasi tugas-tugas administratif.
Sebanyak 85% responden percaya AI dapat menyelamatkan nyawa melalui deteksi dini, dan 73% yakin teknologi seperti remote monitoring dapat mengurangi waktu tunggu pasien.
Kekhawatiran atas Adopsi AI
Namun, riset ini juga mencatat tantangan besar:
- 57% khawatir keterlambatan adopsi AI dapat meningkatkan beban kerja tenaga medis.
- 71% menyoroti kurangnya regulasi terkait tanggung jawab penggunaan AI.
- 73% menyebut potensi bias data AI sebagai isu serius.
Dari sisi pasien, meski 82% menyambut penggunaan teknologi dalam perawatan, 56% masih mengkhawatirkan keamanan data pribadi, dan 54% berharap tetap ada interaksi langsung dengan dokter. Namun secara umum, 95% pasien merasa percaya diri terhadap pemanfaatan AI jika tetap melibatkan tenaga medis.
Rekomendasi untuk Mendorong Adopsi AI di Indonesia
Philips menggarisbawahi tiga hal penting sebagai rekomendasi dari riset ini:
- Membangun kepercayaan (trust) dari semua pihak terhadap manfaat AI dalam kesehatan.
- Menjaga keseimbangan antara teknologi dan sentuhan manusia (human touch).
- Mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah, penyedia layanan kesehatan, profesional medis, dan komunitas.
Tentang Future Health Index (FHI)
Future Health Index merupakan laporan riset global tahunan dari Philips yang bertujuan untuk memahami bagaimana sistem kesehatan di berbagai negara mengadopsi teknologi, khususnya AI dan digital health, guna meningkatkan kualitas perawatan dan efisiensi layanan kesehatan. (*)