Sang Penyulam The New York Times

Ia memimpin transformasi lewat strategi berlangganan yang membangun kedekatan harian dengan pembaca. Dengan tekun, ia menjahit ulang masa depan media ini di tengah gelombang keraguan.

Diangkat di Tengah Kekacauan

Pada pagi yang sunyi, 8 September 2020, dunia masih terkurung dalam cemas panjang akibat pandemi. Di sudut sebuah rumah di Calabasas, California — di tengah ruang tamu yang menjelma ruang kerja dan sekolah daring anaknya — Meredith Kopit Levien duduk menghadap layar laptop.

Cahaya biru pucat dari layar menyinari wajahnya, membuka gerbang ke ruang-ruang virtual tempat para editor, engineer, dan pemasar The New York Times (biasa disebut Times) berkumpul. Tak ada rapat fisik, tak ada koridor sibuk atau lift yang berdenting, hanya rumah yang menjadi panggung dunia baru.

Namun di hari Selasa itu, dalam kesunyian yang tak biasa, Meredith resmi menjadi CEO The New York Times Company, memimpin institusi berusia 170 tahun di tengah dunia yang sedang terombang-ambing.

“Saya butuh waktu setidaknya satu tahun — mungkin dua — untuk punya keyakinan bahwa saya bisa melakukan pekerjaan ini,” katanya suatu hari.

Dunia yang ia hadapi saat itu bukan panggung yang jinak: pandemi yang menelan napas, gelombang protes sosial yang membakar jalan-jalan Amerika usai kematian George Floyd, kepercayaan publik pada pers yang mengabur, serta industri media yang terus merosot dan kehilangan pijakan. Dunia yang kacau.

Melihat Sesuatu yang Berbeda

Bagi sebagian orang, penunjukan perempuan kelahiran 1971 ini terasa seperti kejutan di tengah kekacauan dunia. Tapi bagi yang mengenalnya secara mendalam, momen itu adalah sebuah keniscayaan dari perjalanan panjang yang tenang namun gigih.

Stamina serta ketekunan adalah nadi dalam hidup Meredith. David G. Bradley, pemilik The Atlantic, pernah menyaksikannya bekerja tanpa henti di dalam kereta larut malam Acela dari Washington ke New York. “Kalau saya tidak terus bertemu dengannya setelah itu,” ujarnya, “mungkin saya akan percaya bahwa di salah satu gerbong Amtrak ada seorang perempuan yang masih mengetik hingga hari ini.”

David G. Bradley (Foto: newamerica.org)
David G. Bradley (Foto: newamerica.org)

Ketekunan itu tidak datang seketika. Di masa kuliahnya di University of Virginia, Meredith memulai langkah sebagai reporter di The Cavalier Daily. Tapi ketika uang menjadi kebutuhan, ia pindah ke bagian iklan. “Karena itu dibayar,” katanya lugas.

Dari langkah praktis itu, ia menemukan bakat tersembunyi: membaca audiens, merasakan irama bisnis, dan menjahit keduanya dalam strategi yang tajam serta bernyawa.

Setelah menyelesaikan kuliah, Meredith menapaki awal kariernya di The Advisory Board Company, sebuah firma konsultan yang didirikan oleh David G. Bradley. Dari sana, ia berpindah ke dunia digital di i33/AppNet — sebuah transisi yang mencerminkan nalurinya untuk terus belajar dan bergerak.

Ketika Bradley mengakuisisi Atlantic Media, penerbit The Atlantic, ia mengajak Meredith bergabung pada 2003 sebagai Direktur Periklanan. Tiga tahun kemudian, perempuan ini dipercaya menjadi penerbit pertama untuk 02138 , majalah milik Atlantic Media yang ditujukan bagi alumni Harvard. Usianya belum genap 35 tahun.

Langkahnya semakin mantap ketika bergabung dengan Forbes pada 2008. Di sana, ia memimpin Forbes Life dan menjadi motor BrandVoice, sebuah format native advertising yang kala itu memicu kontroversi lantaran mengaburkan batas antara konten editorial dan iklan. Namun justru inovasi itulah yang menyelamatkan Forbes dari kebuntuan bisnis yang lama membayangi.

Pengalaman itu menjadi bekal penting pada 2013, saat The New York Times Company datang mengetuk. Banyak yang menganggap tawaran itu sebagai misi bunuh diri. Konon, masa keemasan Times telah berlalu. Transformasi digitalnya terseok, dan para raksasa teknologi telah menguasai lanskap berita daring.

Tapi Meredith melihat sesuatu yang berbeda. Ia melihat sebuah merek yang agung, warisan jurnalisme yang dalam, dan pembaca yang setia — modal yang tak ternilai, hanya belum disentuh dengan strategi yang tepat.

Dengan keyakinan itu, dalam 18 bulan pertamanya sebagai Kepala Bisnis Iklan Times, Meredith pun membongkar ulang sistem kerja. Ia menyusun strategi digital yang segar, mengubah pendekatan pada pengiklan, dan membangun ulang jembatan antara redaksi dan bisnis dengan hati-hati.

Namun dari upaya itu, tertancap keyakinan mendalam pada dirinya: bahkan strategi iklan digital paling canggih pun tak mampu menandingi dominasi Google dan Facebook. “Platform seperti Google dan Facebook sudah menguasai medan pertempuran,” katanya.

Maka ia berpaling pada fondasi yang lebih kokoh: pembaca. Bukan hanya sebagai konsumen, melainkan sebagai mitra. Ia yakin, masa depan terletak pada hubungan ini. Dan itu berarti: beralih ke model langganan (subscription), menjadikan jurnalisme sebagai sesuatu yang layak untuk dibayar.

"Buat Jurnalisme Layak untuk Dibayar"

Pada 2015, keyakinan itu mendapat momentum: Meredith diangkat menjadi Chief Revenue Officer. Dari posisi inilah, ia mulai mengubah DNA perusahaan dari dalam. Ia tidak hanya menjual iklan atau produk; ia menanamkan filosofi. “Strategi bisnis kami hanya lima kata,” katanya. Apa itu?

“Buat jurnalisme layak untuk dibayar.”

Kalimat yang sederhana tapi menggetarkan, sekaligus menjadi kompas bagi setiap langkah besar yang diambil Times setelahnya.

Di tangan Meredith, prinsip itu bukan sekadar semboyan. Ia menjelma menjadi arah dan jiwa dari transformasi. Ia percaya: keberlanjutan jurnalisme hanya mungkin terjadi bila orang bersedia membayar atau berlangganan (subscription): bukan karena keharusan, tapi karena percaya. Karena cinta. Karena merasa jurnalisme itu menyentuh hidup mereka, dan patut dipelihara bersama.

Markas besar The New York Times. (Wikipedia)
Markas besar The New York Times. (Wikipedia)

Seperti Selai Kacang dan Cokelat

Perlahan, tapi pasti, jejak Meredith di Times makin terasa. Di bawah kepemimpinannya, produk-produk seperti Cooking, Games, dan Wirecutter tak lagi dipandang sebagai embel-embel editorial.

Ia memosisikan mereka sebagai entitas digital utuh — berdiri sendiri sebagai aplikasi, layanan, dan kanal dengan jiwa serta nilai yang khas. Mereka bukan sekadar kolom pelengkap di bawah berita utama, melainkan pintu masuk baru yang memperluas jangkauan serta kedalaman media ini di era digital.

Cooking, yang diluncurkan pada 2014, misalnya, berakar dari arsip kuliner milik Times, lalu menjelma aplikasi berlangganan yang menyajikan ribuan resep dan panduan dapur harian.

Games — bermula dari warisan teka-teki silang Times sejak 1942 — berkembang menjadi aplikasi tersendiri yang menghadirkan permainan seperti Spelling Bee dan Wordle .

Sementara itu Wirecutter menempuh jalur berbeda: lahir sebagai situs independen pada 2011, digagas Brian Lam, dan dikenal karena ulasannya yang teliti serta jujur. Pada 2016, Times mengakuisisinya, menjadikannya bagian penting dari ekosistem produk.

null
Berakar dari arsip kuliner milik Times, Cooking menjadi aplikasi yang disenangi pembaca. (nyto.com)

Meredith tak menciptakan mereka. Tapi ia melihat potensi yang tersembunyi, membacanya dengan cermat. Ia bukan penjahit yang membawa kain baru, melainkan penganyam yang mengikat helai-helai yang telah ada menjadi pola yang utuh: sebuah ekosistem digital yang hidup serta menyatu dalam ritme harian pembaca: merencanakan makan malam lewat Cooking, melepas lelah dengan Games, atau mencari rekomendasi produk terbaik melalui Wirecutter.

Pada 2017, sewaktu Chief Product Officer Kinsey Wilson mengundurkan diri, Meredith ditunjuk sebagai Chief Operating Officer. Ia pun memegang kendali atas hampir semua aspek strategis: pendapatan, produk, teknologi, desain, hingga pengalaman pengguna.

Dari kursi inilah, ia mulai menjahit ulang struktur organisasi , menyatukan ruang-ruang kerja yang sebelumnya terpisah. Kini, engineer duduk berdampingan dengan editor, desainer berkolaborasi dengan pemasar, ilmuwan data berdiskusi dengan reporter. Harmoni lintas fungsi pun lahir dari semangat kebersamaan baru.

Sebagai COO, Meredith memperkenalkan budaya eksperimen cepat — uji, ukur, perbaiki — yang mengalir ke seluruh tubuh organisasi. Birokrasi yang dulu lamban, perlahan berubah menjadi mesin digital yang lincah serta adaptif.

Dan hasilnya nyata: pada pertengahan 2020, untuk pertama kalinya dalam sejarah media ini, pendapatan dari langganan digital melampaui versi cetak. Sebuah titik balik penting, yang menegaskan satu hal: pusat gravitasi bisnis bukan lagi iklan, tapi pembaca.

Ketika Meredith akhirnya diangkat menjadi CEO pada September 2020, Times telah memiliki lebih dari 7,5 juta pelanggan digital dan pendapatan langganan yang melampaui US$800 juta. Lompatan besar yang satu dekade sebelumnya nyaris tak terbayangkan.

Tapi Meredith belum selesai. Baginya, Times tak hanya harus sehat sebagai perusahaan media digital. Ia harus menjadi bagian dari kehidupan harian pembacanya. Dan Cooking, Games, serta Wirecutter hanyalah awal. Pada Januari 2022, ia mengambil langkah berani: mengakuisisi The Athletic senilai US$550 juta.

Banyak yang mencibir langkah ini karena media olahraga digital ini belum mencetak untung. Tapi Sang CEO ini melihat lebih jauh. “Berita dan olahraga itu seperti selai kacang dan cokelat. Mereka memang diciptakan untuk bersama,” katanya. Ia memandang The Athletic sebagai jembatan emosional yang akan memperluas pelukan Times ke komunitas-komunitas yang belum tergarap.

null
The Athletic, diakuisisi Meredith, yang percaya potensi media olahraga ini akan memperkuat New York Times. (glassdoor.co.uk)

Stategi Bundling

Sebulan kemudian, langkah berani itu berlanjut. Wordle — permainan kata sederhana yang meledak secara global — diakuisisi pada Februari 2022. Di mata Meredith, ini bukan sekadar permainan viral. Itu adalah pintu.

“Puluhan juta orang baru datang ke Times karena Wordle ,” jelasnya kepada investor. Strateginya tajam: buat mereka datang untuk bermain, lalu tinggal untuk Spelling Bee, mencoba Cooking, membaca berita, dan akhirnya menjadi pelanggan.

Di tangannya, sesuatu yang sederhana bisa menjadi jembatan. Ia membangun kebiasaan, bukan sekadar klik. Ia membentuk kedekatan, bukan sekadar angka. Ia membuat Times hadir, menyapa, serta tinggal lebih lama di keseharian pembacanya.

Semua langkah ini berpijak pada satu prinsip yang sejak awal ditanamkannya: jangan hanya kejar perhatian; tanamkan kebiasaan. Bagi perempuan berambut panjang ini, loyalitas pembaca tidak lahir dari diskon atau godaan sesaat, tetapi dari hubungan yang konsisten, relevan, dan berarti: dari pagi ke malam, dari berita ke olahraga, dari teka-teki silang hingga resep makan malam. Inilah inti dari strategi bundling yang ia bangun: menciptakan kehadiran yang setia dalam rutinitas pembaca.

Dan strategi ini membuahkan hasil. Di akhir 2022, laporan keuangan menunjukkan bahwa basis pelanggan digital Times telah menembus angka 10 juta, jauh melampaui target awal yang dulu terasa ambisius.

Namun bagi Meredith, angka itu bukan sekadar kemenangan bisnis. Itu adalah penanda bahwa media ini telah menemukan kembali relevansinya — bukan hanya sebagai surat kabar ternama, tetapi sebagai langganan yang tak tergantikan dalam hidup modern: tempat orang mencari pemahaman, kejelasan, serta kenyamanan.

“Apa yang bisa kami lakukan adalah mengingatkan orang pada nilai yang bisa mereka dapatkan setiap hari,” ujarnya kepada Stratechery. Baginya, membuat Times jadi produk langganan esensial bukan hanya soal konten, tetapi soal momen-momen kecil yang bermakna: membuka Wordle saat sarapan, mencari resep makan malam dari Cooking, atau membaca analisis tajam tentang pemilu Amerika sebelum tidur.

Dalam membangun ekosistem ini, Meredith menunjukkan bakatnya yang khas: mengelola tim lintas disiplin tanpa kehilangan arah pada misi utama. Ia memimpin unit produk, teknologi, desain, pemasaran, tetapi tetap menjaga jarak yang sakral dari ruang redaksi.

Lantas, siapa yang menentukan halaman depan?

Ia menjawab tenang, “Itu sepenuhnya dilakukan oleh editor. Independen dari kepentingan bisnis, dan harus tetap begitu.”

Batas antara editorial dan komersial memang tetap dijaga ketat, bahkan ketika strategi pertumbuhan menuntut koordinasi lintas tim. Prinsip itu diuji secara nyata pada 2023, ketika Times kembali menjadi pusat pusaran perdebatan publik. Polarisasi politik karena Pemilu AS kian mengeras, dan tekanan untuk berpihak semakin besar.

Tapi Meredith berdiri tegak. “Kami tidak akan menyesuaikan jurnalisme kami untuk menyenangkan satu partai atau memenangkan satu segmen audiens. Tugas kami adalah mengejar kebenaran,” tegasnya kepada Fortune (Juni/Juli 2025).

null
Meredith: "Tugas kami adalah mengejar kebenaran." (The New York Times)

Sikap pada AI

Di tengah badai politik, badai lain datang dari langit digital: kecerdasan buatan generatif. Pada akhir 2023, Times menjadi organisasi berita besar pertama yang menggugat OpenAI dan Microsoft, menuding keduanya menggunakan konten tanpa izin untuk melatih model bahasa besar.

Ia tak ragu bersuara. “Kami tegas dalam menegakkan hak kekayaan intelektual. Bukan hanya untuk kami, tetapi demi prinsip bahwa jurnalisme berkualitas layak dilindungi — dan layak mendapat imbalan,” katanya.

Namun, Meredith tidak melihat AI sebagai ancaman belaka. Ia melihat potensi. Di ruang redaksi, teknologi itu mulai digunakan secara bijak dan selektif: untuk mempercepat verifikasi data visual, memperkuat peliputan investigatif, termasuk dalam laporan serangan udara di Gaza yang kemudian memenangkan Pulitzer Prize.

“Kami tidak sedang menggantikan jurnalisme manusia. Kami memperkuatnya, membuatnya lebih cepat, lebih akurat, dan lebih dapat diakses.”

Pendekatan yang seimbang itu mencerminkan gaya kepemimpinannya: penuh nuansa, penuh pertimbangan. Di mata para analis, apa yang dilakukan perempuan ini jauh lebih dari sekadar mengelola perusahaan media. Ia mendefinisikan ulang bagaimana lembaga pers bisa bertahan hidup di abad ke-21.

Media lain, baik di AS maupun global, kini mengamati Times bukan hanya sebagai contoh, tetapi sebagai model bisnis yang layak diadaptasi: sebuah ekosistem yang mampu memonetisasi audiens tanpa mengorbankan prinsip editorial.

Pada akhir 2023, lebih dari 10,36 juta pelanggan tercatat — lonjakan hampir 40% sejak 2020. Total pendapatan pun tumbuh menjadi US$2,426 miliar, dengan lebih dari 70% berasal dari langganan. Profitabilitas digital telah mencapai margin operasional dua digit — tidak hanya pertumbuhan, tapi pertumbuhan yang berkelanjutan.

Di kantor pusat Times yang megah di 8th Avenue, New York, suasana pun berubah. Tidak lagi sekadar institusi tua yang penuh sejarah, media ini kini menjadi perusahaan yang dituju oleh talenta muda di bidang teknologi, desain, produk, dan data. Di bawah Meredith, Times menjadi rumah baru: tempat tradisi bertemu inovasi.

Lantas, apakah pekerjaan Meredith sudah selesai?

Bagian Hidup dari Manusia

Saat berbicara kepada investor di awal 2024, ia menegaskan bahwa strategi bundling masih jauh dari selesai. Ia ingin terus menjadikan Times sebagai langganan yang tidak hanya informatif tetapi juga menyenangkan — sesuatu yang hadir dalam keseharian orang, bahkan saat tidak ada breaking news. Menjadi sahabat sehari-hari.

Pergeseran mindset inilah yang membuat Meredith berbeda dari banyak pemimpin media lain. Di saat sebagian besar pesaing terjebak pada siklus berita atau mengejar engagement jangka pendek di media sosial, ia justru memilih jalan yang lebih sulit: membangun loyalitas jangka panjang dengan memperkaya pengalaman pembaca.

Tapi jangan keliru, strategi ini didukung data kuat: pelanggan yang menggunakan lebih dari satu produk Times memiliki retensi yang jauh lebih tinggi.

null
Meredith akan dikenang sebagai arsitek yang menyatukan masa lalu dengan masa depan New York Times. (nationthailand.com)

Selama lebih dari satu abad, Times dijuluki The Gray Lady — lambang institusi serius, elegan, dan penuh wibawa. Tetapi di era Meredith, julukan itu mendapatkan makna baru. Media ini bukan hanya surat kabar lagi; ia telah menjadi platform hidup, yang memayungi berita, resep, permainan, podcast, dan ulasan. Dan yang membentuk semua itu adalah naluri seorang pemimpin yang tidak sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi ingin menjadikan Times bagian dari hidup manusia.

Kini, tak heran jika pujian terus berhamburan. Bahkan tak sedikit yang meyakini: ketika sejarah Times kelak ditulis ulang, nama Meredith Kopit Levien akan tercatat bukan hanya sebagai CEO perempuan kedua di institusi ini.

Ia akan dikenang sebagai arsitek yang menyatukan masa lalu dengan masa depan yang tak pasti, yang menjahit kembali Times menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar surat kabar: menjadi pendamping hidup sehari-hari, menjadi rumah bagi kata-kata yang bermakna, dan menjadi jangkar kebenaran di dunia yang semakin bising.

Dan semua itu ia lakukan dengan ketekunan yang diam-diam tapi gigih: menyulam ulang The New York Times — helai demi helai. (*)

# Tag