Inovasi Panas Bumi PGE Menjadi Penggerak Ekonomi Sirkular di Kamojang
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) telah melahirkan dua inovasi strategis yang mendorong transformasi ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan energi bersih: Geothermal Coffee Process (GCP) dan Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert).
Kedua inisiatif ini dirancang untuk menunjukkan bahwa energi panas bumi tidak hanya bermanfaat dalam bentuk listrik, tetapi juga mampu menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang konkret.
Direktur Utama PGE, Julfi Hadi, menekankan pentingnya energi bersih yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. “Inovasi kami di Kamojang, khususnya dalam hal produksi kopi, membuktikan bahwa pemanfaatan energi bisa memperkuat ketahanan pangan, memperluas peluang usaha, dan mengangkat martabat petani, sambil tetap menjaga lingkungan,” ungkap Julfi dalam keterangan yang diterima SWA.co.id, Sabtu (26/7/2025).
Indonesia, sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia, memiliki jutaan petani yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini. Wilayah Kamojang di Jawa Barat dikenal sebagai penghasil kopi arabika berkualitas tinggi. Namun, tantangan di tahap pascapanen serta biaya produksi yang tinggi kerap menghambat pengembangan potensi petani lokal.
Untuk menjawab persoalan tersebut, GCP memanfaatkan uap buangan dari PLTP Kamojang guna mempercepat proses pengeringan kopi secara efisien. Jika sebelumnya proses ini memakan waktu 30 hingga 45 hari, kini hanya membutuhkan 3 sampai 10 hari.
Teknologi ini tidak hanya menghasilkan kopi dengan rasa yang lebih khas dan proses yang lebih higienis, tetapi juga memungkinkan penetrasi pasar baru, mulai dari Bandung hingga Jepang dan Jerman. GCP telah tercatat sebagai inovasi pertama di dunia dalam pengolahan kopi berbasis panas bumi, dan telah resmi dipatenkan.
GeO-Fert, di sisi lain, mengandalkan suhu uap panas bumi antara 60 hingga 70 derajat Celcius untuk mengolah limbah rumah tangga dan pertanian menjadi pupuk organik. Proses fermentasi yang biasanya membutuhkan waktu lama kini hanya memerlukan 12 jam.
Dalam setahun, teknologi ini mampu memproduksi hingga 28,8 ton pupuk organik kering, yang saat ini dimanfaatkan lebih dari 160 petani di sekitar lokasi. Teknologi ini memperkuat sistem pertanian yang ramah lingkungan, efisien, dan minim limbah.
Penerapan inovasi-inovasi ini menunjukkan hasil yang signifikan. Produksi kopi di Kamojang meningkat tajam dari hanya 5 kuintal pada 2018 menjadi 30 ton pada 2024. Pendapatan dari penjualan green bean melonjak dari Rp250 juta menjadi Rp560 juta per tahun, sedangkan roasted bean bertambah dari Rp120 juta menjadi Rp180 juta. Efisiensi produksi meningkat, pendapatan petani naik, dan akses pasar menjadi lebih luas.
“Dengan adanya dry house, proses pengeringan kopi yang biasanya sampai 30 hari kini bisa hanya 8 sampai 12 hari. Rasanya khas, ada aroma buah-buahan yang beda dari yang lain. Harapannya, panen bersama seperti ini bisa terus berlanjut agar petani lainnya juga ikut senang dan merasakan manfaatnya,” ujar Nono, petani kopi dan mitra binaan GCP Kamojang.
Program ini juga telah melalui penghitungan Social Return on Investment (SROI) yang divalidasi oleh Universitas Gadjah Mada (UGM). Hasilnya menunjukkan rasio SROI sebesar 3,13—yang berarti bahwa setiap Rp1 yang diinvestasikan menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi setara Rp3,13.
Secara nilai, program ini memberikan dampak sekitar Rp367,5 juta per tahun, dan diperkirakan meningkat menjadi Rp6,3 miliar di masa depan.
Tak hanya itu, inisiatif ini turut mendukung pengurangan emisi karbon hingga 20.000 ton CO₂ per tahun serta memungkinkan pemanfaatan ulang lebih dari 1,2 ton sampah organik setiap tahunnya.
Dengan pendekatan berbasis energi bersih dan prinsip zero waste, zero emission, dan zero conflict, PGE menciptakan model ekonomi sirkular yang kuat dan berakar pada pemberdayaan komunitas. (*)