Kinerja Melambat, Laba Bersih Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Anjlok 63,72% di Kuartal II/2025
Emiten barang konsumen non-primer yang bergerak di sektor pariwisata dan rekreasi, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA), mencatatkan penurunan kinerja keuangan pada kuartal II/2025.
Berdasarkan laporan yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 25 Juli 2025, laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hanya sebesar Rp21,69 miliar.
Angka ini anjlok 63,72% dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp59,82 miliar.
Kinerja bottom line yang menurun ini sejalan dengan turunnya pendapatan bersih perusahaan. Pada kuartal II/2025, PJAA mencatatkan pendapatan sebesar Rp495,46 miliar, lebih rendah dibandingkan kuartal II/2024 yang sebesar Rp567,95 miliar.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya pendapatan dari sektor penjualan tiket, yang menjadi kontributor terbesar.
Pada periode ini, pendapatan tiket tercatat sebesar Rp332,58 miliar, terdiri dari pendapatan wahana wisata sebesar Rp207,75 miliar dan pintu gerbang Rp124,82 miliar. Padahal, pada kuartal II tahun sebelumnya, total pendapatan dari tiket mencapai Rp401,83 miliar, dengan kontribusi wahana wisata Rp204,74 miliar dan pintu gerbang Rp197,09 miliar.
Lini usaha hotel dan restoran juga mencatat penurunan. Pada kuartal II/2025, pendapatan dari sektor ini tercatat Rp32,11 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp37,40 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Rinciannya, pendapatan restoran turun menjadi Rp20,02 miliar dan pendapatan dari kamar hotel menjadi Rp12,09 miliar, masing-masing lebih rendah dari Rp21,59 miliar dan Rp15,80 miliar pada tahun sebelumnya.
Bahkan, lini bisnis real estat yang mencakup penjualan tanah dan bangunan tidak mencatat pendapatan sama sekali pada kuartal ini, setelah pada periode yang sama tahun lalu masih menyumbang Rp5,67 miliar.
Meski sebagian besar sektor mencatat kontraksi, beberapa lini usaha PJAA masih menunjukkan pertumbuhan. Pendapatan dari penyewaan kios, lahan, dan gedung naik menjadi Rp75,05 miliar, dari sebelumnya Rp65,25 miliar.
Lini pengelolaan perumahan juga tumbuh menjadi Rp17,89 miliar, naik dari Rp13,67 miliar. Begitu pula dengan lini logistik acara yang mengalami peningkatan pendapatan dari Rp2,44 miliar menjadi Rp3,92 miliar.
Sejumlah pos beban juga berhasil ditekan. Beban pokok pendapatan turun signifikan 26,46% menjadi Rp14,60 miliar, dari sebelumnya Rp19,85 miliar. Beban langsung turun 1,71% menjadi Rp268,74 miliar dari Rp273,41 miliar.
Secara keseluruhan, beban pokok pendapatan dan beban langsung berkurang 3,38% menjadi Rp283,34 miliar dibandingkan Rp293,26 miliar pada kuartal II/2024.
Meski efisiensi beban berhasil dilakukan, tekanan pada sisi pendapatan membuat laba bruto ikut turun. Pada kuartal II/2025, PJAA hanya mencetak laba bruto sebesar Rp212,11 miliar, turun 22,78% dibandingkan Rp274,68 miliar pada kuartal II/2024.
Gross profit margin tercatat sebesar 48,46%, sementara net profit margin berada di level 11,55%. Laba usaha tercatat sebesar Rp85,80 miliar, lebih rendah dibandingkan kuartal II/2024 yang mencapai Rp139,36 miliar. Dampaknya, laba per saham dasar ikut merosot dari Rp37 menjadi hanya Rp14 per saham.
Dari sisi neraca, total aset PJAA per akhir Juni 2025 tercatat sebesar Rp3,60 triliun, meningkat tipis 0,29% dari Rp3,59 triliun pada kuartal II/2024. Namun, liabilitas perusahaan naik 1,47% menjadi Rp1,88 triliun, sementara ekuitas turun 0,97% menjadi Rp1,71 triliun dari sebelumnya Rp1,73 triliun.
Saat ini, PJAA membawahi sejumlah entitas anak seperti PT Taman Impian Jaya Ancol, PT Seabreez Indonesia, PT Jaya Ancol, PT Sarana Tirta Utama, PT Jaya Ancol Pratama Tol, PT Taman Impian, dan PT Genggam Anugerah Lumbung Kuliner.
Perusahaan juga mengelola berbagai destinasi wisata unggulan di Jakarta, mulai dari Taman Impian Jaya Ancol, Dunia Fantasi (Dufan), Sea World Indonesia, Atlantis Adventures Ancol, Pantai Ancol, Samudra Ancol, Ecopark Ancol, hingga Jakarta Bird Land. (*)