EBITDA Phapros (PEHA) Melejit 869% Semester I 2025: Strategi Fokus, Efisiensi, dan Inovasi Jadi Kunci
Di tengah ketatnya persaingan industri farmasi dan tekanan ekonomi global, PT Phapros Tbk (PEHA) mencatat lompatan kinerja keuangan yang signifikan pada paruh pertama tahun 2025.
Emiten farmasi yang merupakan bagian dari Holding BUMN Farmasi Biofarma ini berhasil mendongkrak EBITDA sebesar 869% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kinerja ini tak hanya mencerminkan pemulihan, tapi juga hasil dari restrukturisasi menyeluruh yang digerakkan oleh efisiensi, fokus pada produk bermargin tinggi, serta dorongan inovasi yang terukur.
Plt Direktur Utama Phapros, Ida Rahmi Kurniasih, mengungkapkan bahwa strategi konsisten dalam menyederhanakan portofolio dan memperkuat distribusi mulai menunjukkan hasil. Dari sekitar 200 Nomor Izin Edar (NIE) yang dimiliki, perusahaan memilih untuk memprioritaskan penjualan hanya pada 54 produk unggulan.
Menurut Ida, strategi ini berjalan baik, sehingga biaya riset, marketing, dan modal kerja menjadi lebih efisien dan efektif, yang berdampak langsung pada peningkatan EBITDA dan laba bersih PEHA di Semester I tahun ini.
Hasilnya terlihat konkret: penjualan konsolidasian perusahaan tumbuh 25% secara year-on-year, ditopang oleh peningkatan tajam dari dua segmen utama. Obat bebas atau OTC menyumbang Rp93 miliar, sementara obat resep bermerek (etikal branded) berkontribusi Rp112 miliar.
“Kontribusi terbesar untuk pertumbuhan penjualan obat resep bermerek disumbangkan oleh segmen pasar Modern Outlet serta Rumah Sakit yang tumbuh di atas 30 persen, sedangkan untuk segmen obat jual bebas, disokong oleh segmen Retail dan Tender,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Senin (28/7/2025).
Strategi cost restructuring yang dijalankan sejak awal tahun memberikan pengaruh nyata terhadap efisiensi biaya operasional. Harga Pokok Produksi berhasil ditekan agar pertumbuhannya tetap sejalan dengan penjualan. Beban usaha berkurang 7,3% menjadi Rp181 miliar, dan biaya pemasaran serta distribusi turun 13,5%.
Perusahaan pun mencatatkan laba usaha sebesar Rp39 miliar, melonjak 219% dari periode sebelumnya yang masih mencatatkan kerugian.
Di level bottom line, laba bersih PEHA berbalik positif menjadi Rp2,5 miliar, dari posisi rugi bersih Rp49 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Selain itu, liabilitas jangka pendek perusahaan berhasil dipangkas hingga 27%.
Kinerja ini tak lepas dari penguatan fundamental yang digenjot sejak 2024, saat perusahaan mulai menyusun strategi selektif terhadap lini produk. Dengan hanya menjual obat-obatan yang memiliki margin tinggi, struktur biaya dapat dikendalikan tanpa mengorbankan daya saing.
Ida menegaskan bahwa transformasi ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga tentang kemampuan beradaptasi terhadap dinamika pasar yang kian kompetitif.
“Seluruh insan Phapros tengah bekerja keras menghadapi berbagai tantangan eksternal dan internal. Di saat pasar agak melemah dan harga obat-obatan makin kompetitif, PEHA terus beradaptasi dan berbenah agar operasional lebih efisien dan mampu bersaing di pasar. Kami juga terus berinovasi melalui produk dan desain baru agar tetap relevan,” ujarnya.
Salah satu wujud inovasi datang dari peluncuran produk baru berbasis hasil riset internal, seperti obat anti-TBC (OAT) Kategori 1 Dosis Harian yang telah lulus uji klinis dan mendapatkan izin dari Badan POM. Produk ini sudah mulai digunakan dalam program tender pemerintah dan akan segera dipasarkan untuk pasar reguler.
Sepanjang Januari hingga Juni 2025, Phapros telah meluncurkan tiga produk baru dari enam yang ditargetkan tahun ini, mayoritas berasal dari kelas terapi antibiotik dan terapi TB.
“Ke depannya diharapkan produk-produk ini menjadi ‘amunisi baru’ bagi pertumbuhan Perseroan yang berkelanjutan. Oleh karena itu kami optimistis kinerja PEHA akan makin baik dengan target pertumbuhan penjualan minimal 18% di tahun 2025 ini,” tegas Ida.
Untuk menjaga momentum kinerja hingga akhir tahun, Phapros menjalankan lima strategi utama transformasi bisnis. Apa saja?
Pertama, memperkuat kesehatan keuangan melalui efisiensi dan restrukturisasi utang.
Kedua, meningkatkan kepuasan pelanggan dengan penguatan komersialisasi dan distribusi.
Ketiga, memperluas portofolio dan pasar melalui kemitraan strategis serta ekspansi ekspor.
Keempat, mentransformasi proses bisnis melalui penguatan supply chain dan digitalisasi.
Dan kelima, memperkuat human capital melalui pengembangan talenta.
“Kelima strategi utama tersebut telah berjalan sejak tahun lalu dan tetap difokuskan lagi pada tahun 2025 untuk memperkuat fundamental bisnis dan meningkatkan penjualan sehingga dapat mencetak profitabilitas berkelanjutan sebagaimana terlihat di sepanjang semester I 2025 ini,” tutup Ida.
Transformasi yang dijalankan Phapros selama setahun terakhir menunjukkan hasil yang nyata, setidaknya dalam laporan semester pertama 2025. Kombinasi strategi efisiensi biaya, penyederhanaan portofolio, dan pengembangan produk baru menjadi fondasi utama kinerja positif ini.
Di tengah dinamika industri farmasi yang terus berubah dan persaingan yang makin ketat, Phapros kini menghadapi tantangan menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memastikan keberlanjutan profitabilitas di paruh kedua tahun ini. Saham Phapros sendiri berada di posisi Rp338 per lembar pada perdagangan Senin, 28/7/2025. (*)