Walau IHSG di Tren Positif, Waspada Aksi Profit Taking

Walau IHSG di Tren Positif, Waspada Aksi Profit Taking
Suasana ruang temu publik di Mainhall Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada 15 Mei 2025. Gedung tersebut menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) beserta saham-saham perusahaan dari berbagai sektor. Foto Nadia K. Putri/SWA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren kenaikannya pada hari perdagangan pertama minggu ini, naik 0,9% dan ditutup di 7.614,8 poin. Saham-saham unggulan antara lain BREN naik 2,9% ke Rp7.875, BBRI (1,3%) ke Rp3.930, dan SMMA (3,5%) ke Rp23.500. Sementara itu, Rupiah melemah ke 16.364 terhadap Dolar AS, seiring Indeks Dolar yang naik ke 98,11. Dolar menguat terhadap mata uang utama lainnya, didukung sentimen dari kesepakatan dagang antara AS dan Uni Eropa.

Kepala Riset dan Ekonom PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan setelah tercapainya kesepakatan antara AS dan Jepang pada 22 Juli 2025, yang menerapkan tarif timbal balik sebesar 15% untuk seluruh barang Jepang yang diekspor ke AS, pada 27 Juli 2025 juga telah dicapai kesepakatan antara AS dan Uni Eropa.

Kesepakatan dagang berskala besar ini berhasil mencegah perang tarif penuh yang sebelumnya direncanakan akan berlaku pada 1 Agustus. Ketentuan utama antara lain pemberlakuan tarif 15% untuk hampir semua barang Uni Eropa yang diekspor ke AS, menyamai tarif yang telah diberlakukan untuk Jepang. Kesepakatan perdagangan terbaru antara AS dan para mitra dagang utamanya ini mendukung tren positif di Wall Street, dengan S&P 500 kembali mencatat rekor tertinggi selama enam hari berturut-turut kemarin, ditutup di 6.389,8.

Tasrul Tanar, analis Mirae Asset Sekuritas, menjabarkan IHSG pada perdagangan hari ini berpotensi overheat di puncak tren zona hijau. "Waspadai koreksi jangka pendek. IHSG menunjukkan kecenderungan bullish dalam jangka pendek dengan slope positif sebesar 13.02 dan nilai r-squared 0.676 yang mengindikasikan tren cukup solid," ucap Tasrul pada risetnya di Jakarta, Selasa (29/7/2025).

Dia pada analisa teknikalnya menjabarkan pergerakan indeks masih dalam batas volatilitas wajar dengan standar deviasi sebesar 0.98, mencerminkan stabilitas relatif meskipun terdapat kenaikan harga yang signifikan. Indikator teknikal mengonfirmasi kondisi overbought ekstrem. MFI dan RSI masing-masing berada di 100.00 dan 98.94, menunjukkan arus dana dan momentum beli yang sangat tinggi, namun berisiko terhadap koreksi teknikal dalam waktu dekat.

CMO yang menyentuh 97.89 serta W%R di -31.72 juga menegaskan kondisi pasar yang sangat jenuh beli. Level resistance IHSG berada di 7.678 dan 7.724 poin, dengan peluang pengujian level tersebut dalam waktu dekat apabila tekanan beli masih berlanjut. "Namun, waspadai potensi profit taking yang bisa menarik indeks kembali ke area support di level 7.582 hingga 7.530 poin. Secara keseluruhan, IHSG masih berada dalam tren naik, namun perlu kehati-hatian karena sinyal jenuh beli semakin menguat," tuturnya. (*)

# Tag