Investor Institusi Menjaga Keseimbangan Emiten Teknologi
Sejumlah perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat memiliki investor institusi, melansir dari laman profil perusahaan tercatat BEI pada Selasa (5/8/2025). Praktisi pasar modal, Dipo Satria Ramli, mengatakan investor institusi dapat menjaga keseimbangan pemilik saham, selain investor ritel.
Dipo mencontohkan kinerja perusahaan di sektor teknologi Indonesia masih relatif tidak menggembirakan jikalau dibandingkan emiten teknologi di Amerika Serikat. Hal ini ditunjukkan dengan masuknya perusahaan ke grup Magnificent 7 atau “Mag 7”, seperti Alphabet (GOOG, GOOGL), Amazon (AMZN), Apple (AAPL), Meta Platforms (META), Microsoft (MSFT), NVIDIA (NVDA), dan Tesla (TSLA). Mereka memiliki pertumbuhan perusahaan yang pesat dibandingkan di Indonesia.
Dari laman BEI tersebut, sebagian emiten tercatat memiliki investor institusi. Misalnya adalah grup GoTo (GOTO), yang dinaungi Taobao China Holding Limited, Blibli atau PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) yang dinaungi PT Global Investama Andalan yang merupakan grup Djarum, Bukalapak (BUKA) yang dinaungi Emtek (EMTK). Kelompok usaha Grup Ciputra, melalui PT Ciputra Corpora turut menjadi investor di PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL).
Tidak hanya itu, dari sisi emiten teknologi yang bergerak di infrastruktur internet, Surge atau PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dinaungi PT Investasi Sukses Bersama. Sementara Indointernet (EDGE) dinaungi Digital Edge (Hong Kong) Ltd.
Perusahaan teknologi yang memiliki investor institusi dari perbankan adalah PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX), dengan investor institusi dari Bank of Singapore. Perusahaan ini juga dimiliki oleh PT NFC Indonesia Tbk (NFCX). Bahkan, Bank of Singapore juga merupakan investor NFCX.
Institusi keuangan lainnya yang turut berinvestasi ke perusahaan teknologi adalah PT Quantum Clovera Investama Tbk (KREN) atau grup Kresna. KREN merupakan investor institusi dan pemegang saham di PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS).
Di samping itu, perusahaan teknologi asing juga turut menjadi investor institusi di perusahaan teknologi Indonesia. Misalnya, TIS Inc, merupakan investor institusi asal Jepang yang berinvestasi di PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC). Kemudian, Inditeck Technology Hong Kong Limited menjadi investor PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN).
Sejumlah emiten juga memiliki porsi investor individual atau ritel yang lebih besar daripada investor institusi. Misalnya saja PT DCI Indonesia Tbk (DCII), dimiliki oleh Han Arming Hanafia, Anthoni Salim, Marina Budiman serta Otto Toto Sugiri.
Kemudian, perakit laptop merek Zyrex atau PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRX), dimiliki sejumlah investor individu merangkap direksi perusahaan seperti Timothy Siddik, Shu dan Colleen Siddik, Shu.
“Sebagai sebuah perusahaan yang baik, perlu campuran [investor] ritel untuk transaksi harian, tetapi perlu investor institusi untuk jangka panjang,” jelas Dipo saat dijumpai awak media di Jakarta, pada Selasa (5/8/2025).
Namun, kehadiran investor institusi, termasuk konglomerasi, belum tentu menjaga harga emiten, terlebih usai melantai atau IPO. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Budi Frensidy, menjelaskan hal ini dipengaruhi oleh kinerja fundamental emiten dan aksi transaksi jual-beli saham yang dilakukan oleh investor. Tidak hanya itu, sentimen pasar juga dapat mempengaruhi harga sahamnya.
“Salah satu menjaga adalah, pokoknya dari harga IPO, tidak akan pernah berada di luarga harga IPO. Itu terlalu sulit dari pemegang saham pengendalinya,” jelas Budi.
Pada penutupan bursa Selasa ini, indeks saham teknologi (IDXTechno) ditutup menguat 0,95% atau 90,40 poin menjadi level 9.576, mengutip dari aplikasi IDX Mobile. Sejumlah emiten dari 62 konstituen saham di IDXTechno itu ditutup pada zona hijau.
Saham itu di antaranya PT Era Digital Media Tbk (AWAN), BUKA, PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP), DMMX, EMTK, GOTO, PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDIT), Aviana Sinar Abadi Tbk (IRSX), KREN, MTDL, NINE, RUNS, PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS), ZYRX. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.