Wink, Mendorong Potensi Belajar Anak Sejak Usia Dini
Otak anak sudah berkembang hingga 90% pada masa usia dini. Pada periode ini, jenis stimulasi yang diberikan akan menentukan kemampuan belajar dan berpikir mereka sepanjang hidup.”
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dr. Oggy Frayoga, seorang dokter umum yang belakangan ini menarik perhatian publik di dunia maya. Berdasarkan kurva perkembangan terkenal dari Scammon, ia menegaskan bahwa masa usia dini (3–7 tahun) adalah golden time bagi perkembangan otak.
Menurutnya, usia tersebut perlu dimanfaatkan sebagai periode investasi pendidikan utama untuk membangun daya saing di masa depan. Ia juga mengutip riset dari peraih Nobel bidang Ekonomi, Profesor James Heckman, yang menekankan bahwa semakin awal investasi dalam pendidikan dilakukan, hasilnya bisa tujuh kali lipat lebih besar. Pendidikan usia dini adalah fondasi krusial untuk kemampuan belajar anak.
Namun, mengingat anak masih berada dalam masa bermain, pendekatan seperti apa yang sebaiknya digunakan?
Menurut Dr. Oggy, tentu saja usia dini adalah tahap perkembangan yang berpusat pada bermain. Jika anak dipaksa belajar dengan cara duduk diam di depan meja, hal ini justru bisa memadamkan minat mereka dan menimbulkan penolakan terhadap proses belajar.
Menanggapi fenomena anak-anak zaman sekarang yang tumbuh bersama perangkat digital sejak lahir, ia menyarankan agar penggunaan gadget tidak dilarang sepenuhnya, melainkan diarahkan untuk mengakses konten yang aman dan berkualitas.
Menurutnya, dengan memanfaatkan alat belajar interaktif dan konten edukatif yang sudah terverifikasi, anak bisa menikmati proses belajar layaknya bermain, seru namun tetap fokus belajar secara natural.
Ia pun menyoroti salah satu inovasi pendidikan dari Korea, yaitu sistem belajar smart, Wink. Program ini bukan sekadar menayangkan video, melainkan sistem pembelajaran interaktif yang melibatkan penglihatan, pendengaran, dan sentuhan anak.
Wink menjadi salah satu metode belajar terlaris nomor satu di Korea. Khususnya, dengan alat belajar yang telah dipatenkan, anak dapat belajar dengan aman tanpa koneksi internet. Program ini menggabungkan pelajaran Bahasa Inggris, phonics, Matematika, hingga Bahasa Indonesia secara terpadu, menjadikannya solusi belajar yang efisien.
Saskhya, seorang psikolog yang juga menggunakan Wink, menambahkan, “Akar dari rasa cemas terhadap Matematika berasal dari pengalaman pertama belajar yang negatif,” ujarnya.
Ia pun memilih Wink karena ingin anaknya belajar Matematika dengan cara yang menyenangkan, dan secara aktif merekomendasikan metode ini. Saat ini, Wink Smart Learning tengah menawarkan benefit uji coba gratis melalui Instagram dan situs resminya. (*)