Michelin Indonesia (Multistrada): Tingkatkan Efisiensi Operasional secara Lokal dan Global

Ichayut Kanittasoontorn, Presiden Direktur Michelin Indonesia. (Foto: LinkedIn)
Ichayut Kanittasoontorn, Presiden Direktur Michelin Indonesia. (Foto: LinkedIn)

Dalam lima tahun terakhir, industri ban di lingkup dunia (global) dihadapkan pada serangkaian tantangan yang kompleks. Mulai dari fluktuasi ekonomi global, harga komoditas yang tidak stabil, hingga perubahan pola permintaan secara global, termasuk percepatan transisi menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Semua dinamika itu, ditambah gangguan rantai pasok dan ketidakpastian geopolitik akibat kecamuk perang di beberapa wilayah dunia, berdampak pada stabilitas industri dan nilai saham pemain di industri ini secara keseluruhan. Termasuk PT Michelin Indonesia.

Bangun Fondasi

Michelin Indonesia adalah produsen ban di Indonesia, yang merupakan bagian dari perusahaan multinasional Michelin Group. Bisnis yang dikelola oleh Michelin Indonesia adalah bisnis yang ditekuni PT Multistrada Arah Sarana Tbk. (MASA), yang memproduksi ban merek Achilles dan Corsa. Pada 2019, Michelin Group mengakuisisi mayoritas saham Multistrada.

Produsen ban ini telah mengalami berbagai fase dari tahun 2020 hingga 2024. Kinerjanya secara signifikan dipengaruhi pandemi, gangguan rantai pasokan, dan perlambatan di sektor otomotif nasional.

Meskipun menghadapi tantangan tersebut, perusahaan ini tetap berfokus pada upayanya membangun fondasi yang kokoh melalui optimasi biaya, efisiensi produksi, dan penetrasi pasar yang lebih kuat, baik di pasar domestik maupun ekspor.

Area fokusnya ke depan meliputi: peningkatan utilisasi kapasitas pabrik; percepatan adaptasi terhadap pasar kendaraan listrik, terutama dalam hal edukasi pasar; dan perluasan penawaran produk yang kompatibel dengan EV.

Di tengah gelombang perubahan ini, Michelin hadir dengan pendekatan strategis bertema “All-Sustainable”, yang berarti menyeimbangkan antara kepentingan manusia (people), lingkungan (planet), dan keuntungan (profit).

Upaya ini mencakup investasi berkelanjutan pada produk ban berperforma tinggi dan ramah lingkungan, digitalisasi proses operasional untuk efisiensi, serta kolaborasi strategis untuk memperkuat rantai pasok dan jaringan distribusi.

Di Indonesia, komitmen ini tecermin pada langkah strategis Michelin melalui Multistrada. Sejak 2019, Multistrada menjadi bagian dari Grup Michelin setelah La Compagnie Générale des Établissement Michelin (Michelin) mengakuisisi 99,64 persen saham perusahaan.

Privatisasi

Untuk mendukung efisiensi operasional dan daya saing, Multistrada kini ditransisikan menjadi perusahaan swasta (privatisasi). Proses perubahan statusnya menjadi perusahaan privat ini sudah hampir selesai.

Tujuannya, untuk menghasilkan fleksibilitas strategis yang lebih besar, yang memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan integrasi internal, baik dalam hal efisiensi, inovasi, maupun kemampuan riset dan pengembangan (R&D) yang lebih selaras ke dalam operasi global Michelin Group.

Ichayut Kanittasoontorn, Presiden Direktur Michelin Indonesia, menjelaskan bahwa dari 2020 hingga 2024, Michelin terus meningkatkan efisiensi operasional, baik secara lokal maupun global.

“Dengan investasi di bidang otomasi, manufaktur cerdas, dan simulasi digital untuk pengembangan produk, Michelin berhasil meningkatkan efisiensi biaya, mengurangi limbah, dan mempercepat waktu peluncuran produk ke pasar,” kata Kanittasoontorn.

Inisiatif yang dilakukan antara lain penyederhanaan proses produksi, optimalisasi manajemen inventory, serta pemanfaatan data analytics untuk pengambilan keputusan yang lebih tepat.

“Dari sisi biaya, kami melokalisasi sumber bahan baku, meningkatkan efisiensi energi di pabrik, dan memperluas kemitraan strategis,” katanya.

Sejalan dengan komitmen keberlanjutan, pengurangan limbah dan sistem daur ulang air juga menjadi prioritas. Selain itu, Michelin mewajibkan setiap karyawan mengikuti jumlah minimum jam pelatihan setiap tahunnya guna meningkatkan keterampilan.

Tindakan korporasi Michelin juga meliputi optimasi internal jaringan distribusi, transformasi digital dalam produksi dan logistik, serta perluasan jejak komersial melalui kemitraan yang lebih kuat dengan dealer dan para produsen otomotif/OEM.

Semua langkah itu, menurut sang Presdir, secara kolektif telah meningkatkan agilitas operasional, jangkauan pelanggan, dan adaptabilitas pasar, yang berkontribusi positif terhadap kinerja keuangan dan merek perusahaan secara keseluruhan.

Dalam kaitannya dengan penggunaan modal kerja, Michelin menerapkan pendekatan yang terstruktur dengan mengoptimalkan persediaan, menyederhanakan proses pengadaan, dan memperbaiki siklus piutang dan utang.

Langkah-langkah ini memastikan ketersediaan likuiditas yang cukup untuk mendukung operasional perusahaan yang sedang berjalan, sambil tetap fleksibel untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan.

Inovasi

Di samping itu, Michelin pun terus mengevaluasi struktur modalnya untuk memastikan keseimbangan yang bijaksana antara ekuitas dan utang. Tujuannya, untuk mempertahankan stabilitas keuangan sambil mendukung investasi strategis.

“Pendekatan ini memungkinkan Michelin untuk tetap tangguh selama fluktuasi pasar dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan tanpa terlalu mengandalkan utang dalam neraca keuangannya,” Kanittasoontorn menjelaskan.

Strategi penting lainnya bagi Michelin adalah inovasi. Dalam beberapa tahun terakhir, Michelin Indonesia telah meluncurkan beberapa produk baru yang mencerminkan fokusnya pada performa dan keberlanjutan, mencakup: Michelin Primacy 5, Michelin Power 6, City Grip 2, dan BFGoodrich KO3.

Setiap produk dirancang untuk memenuhi kebutuhan berkendara yang beragam di kondisi perkotaan dan off-road. Produk-produk tersebut tidak hanya dirancang untuk kendaraan konvensional, tetapi juga dioptimalkan untuk kendaraan listrik, sejalan dengan masa depan mobilitas.

Kanittasoontorn menegaskan, strategi kompetitif Michelin berfokus pada tiga pilar: inovasi, keberlanjutan, dan orientasi pada pelanggan. Karenanya, pihaknya terus berinvestasi dalam R&D untuk menciptakan produk-produk yang punya performa tinggi, tahan lama, dan ramah lingkungan.

Untuk tetap relevan di pasar yang semakin dinamis, Michelin juga bekerjasama erat dengan produsen otomotif (OEM), dealer, dan mitra logistik untuk memperkuat kehadirannya.

Melalui kampanye pemasaran yang ditargetkan, peluncuran produk lokal, dan acara kolaboratif seperti uji coba berkendara dan pameran, Michelin secara aktif berinteraksi dengan konsumen dan mitra untuk membangun loyalitas merek dan kepercayaan.

“Strategi holistik ini memastikan Michelin tetap menjadi pemimpin pasar, tidak hanya dalam inovasi produk tetapi juga dalam nilai pelanggan jangka panjang,” kata Kanittasoontorn.

Ke depan, Michelin akan memperluas jajaran produk inovatif, seperti Michelin Power 6, City Grip 2, dan Primacy 5, yang dirancang untuk memenuhi ekspektasi konsumen yang terus berkembang.

Pertumbuhan ekspornya didorong oleh produksi Uniroyal dan BFGoodrich, sedangkan ekspansi bisnis ke pasar B2B terus berlanjut melalui solusi pertambangan dan dukungan manajemen armada.

“Keberlanjutan tetap menjadi landasan utama, termasuk daur ulang ban hingga tahun 2050 dan program ekosistem karet alam,” Kanittasontorn menandaskan. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag