Di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, Sribu Tawarkan Solusi Bisnis Bebas Risiko

null
Jajaran manajemen Sribu saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (6/8/2025). (Foto: Ubaidillah/SWA)

Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, platform freelancer Sribu hadir sebagai alternatif strategis bagi pelaku usaha yang ingin tetap tumbuh tanpa menanggung risiko besar. Para pemilik bisnis kini tak lagi hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga berusaha menghindari kesalahan yang bisa berujung pada kerugian fatal.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 hanya mencapai 4,87%, menjadi yang terendah dalam tiga tahun terakhir.

Konsumsi rumah tangga yang biasanya menjadi motor penggerak utama ekonomi nasional juga melambat ke 4,89%. Sementara itu, lebih dari 42.000 pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) hanya dalam enam bulan pertama tahun ini—naik 32% dibandingkan tahun sebelumnya.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha semakin berhati-hati. “Bisnis tahu bahwa mereka harus jalan, tapi takut salah langkah,” ujar Ryan Gondokusumo, CEO & Founder Sribu, Rabu (6/8/2025).

“Makanya, Sribu hadir sebagai peta jalan untuk bisnis bergerak cepat, tapi tetap aman,” tegasnya.

Sribu mengusung sistem kerja berbasis proyek yang dikolaborasikan dengan talenta lokal terkurasi. Ryan menyebut pendekatan ini memungkinkan bisnis melakukan transformasi digital dengan cara yang lebih fleksibel, hemat, dan minim risiko. Ia menggarisbawahi bahwa digitalisasi tetap menjadi kebutuhan utama banyak bisnis, tetapi sering kali terbentur oleh besarnya biaya awal dan ketidakpastian hasil.

"Sribu menghadirkan sistem kerja yang fleksibel, cepat, dan terukur melalui kolaborasi dengan freelancer terkurasi," kata Ryan dalam keterangan resmi.

Sribu sendiri menawarkan model kerja berbasis proyek dengan tiga layanan utama, yakni:

  • Kontes Desain, untuk mendapatkan banyak pilihan desain dari berbagai talenta lokal.

  • Jasa Freelancer, berupa marketplace jasa online siap pakai.

  • JobPost, fitur rekrutmen freelancer berbasis kebutuhan spesifik.

Selama 14 tahun beroperasi, Sribu telah membantu lebih dari 50.000 bisnis di seluruh Indonesia. Tak hanya perusahaan besar, pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) pun banyak yang terbantu dalam proses digitalisasi.

Salah satu contohnya adalah Tridaya Travel, yang berhasil memperluas jaringan usahanya dari satu menjadi 30 cabang dalam lima tahun terakhir dengan dukungan layanan Sribu.

Tak hanya mendorong efisiensi bisnis, Sribu juga menciptakan peluang ekonomi bagi individu di berbagai daerah. Seorang freelancer asal Pasuruan, Khafid, misalnya, berhasil memperoleh lebih dari Rp150 juta dari berbagai proyek melalui Sribu sepanjang tahun 2025. Ini menunjukkan bahwa ekosistem Sribu memberikan manfaat nyata, baik bagi pengguna jasa maupun para penyedia layanan.

“Kami percaya bahwa pertumbuhan tidak harus berisiko. Dengan sistem kerja berbasis proyek dan dukungan jaringan freelancer lokal, kami ingin menciptakan ekosistem kerja yang menguntungkan bagi semua pihak,” ujar Ryan.

Di tengah gejolak ekonomi yang penuh ketidakpastian, pendekatan seperti yang ditawarkan Sribu menjadi relevan: menumbuhkan bisnis dengan hati-hati, memanfaatkan talenta lokal, dan tetap menjaga kecepatan eksekusi tanpa harus membangun tim permanen atau mengeluarkan biaya besar di awal. (*)

# Tag