Kuota Naik 9%: Australia Ingin Lebih Banyak Mahasiswa Indonesia
Australia kembali mengirim sinyal kuat soal komitmennya pada kerja sama pendidikan dengan Asia Tenggara. Tahun depan, pemerintah Negeri Kanguru itu akan meningkatkan jumlah penerimaan mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia, sambil meluncurkan langkah-langkah baru untuk memperkuat relasi akademik di kawasan.
Kuota baru bagi mahasiswa internasional akan naik 9 persen menjadi 295.000 pada 2026, dari 270.000 pada 2025. Sekitar dua pertiga dari jumlah tersebut akan dialokasikan untuk universitas, sementara sepertiganya disediakan bagi sektor vokasi dan pelatihan.
Bagi universitas negeri di Australia, kebijakan ini juga membuka peluang lebih besar. Mereka dapat mengajukan permohonan untuk menambah alokasi mahasiswa internasionalnya, asalkan mampu menunjukkan peningkatan hubungan dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Bentuknya bisa berupa penawaran program pendidikan yang relevan, kemitraan institusional, pembukaan kampus cabang, keterlibatan aktif alumni, atau pemberian beasiswa.
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar soal angka. "Indonesia dan Australia memiliki kemitraan jangka panjang di bidang pendidikan, dan kami menantikan untuk menyambut lebih banyak warga Indonesia belajar di Australia. Mahasiswa Indonesia menambah nilai bagi kampus-kampus kami dan membantu memperkuat hubungan antara kedua negara kita," ujarnya dalam keterangan tertulis (8/8/2025).
Kebijakan baru ini juga mengharuskan universitas menyediakan akomodasi tambahan, demi memastikan mahasiswa domestik maupun internasional memiliki akses ke tempat tinggal yang aman dan terjamin.
Australia selama ini menjadi salah satu tujuan paling populer bagi mahasiswa Indonesia. Pada 2025, tercatat rekor 24.000 mahasiswa Indonesia menempuh studi di sana. Dengan aturan baru yang berlaku mulai tahun depan, peluang bagi generasi muda Indonesia untuk belajar di Australia kian terbuka lebar, sekaligus mempererat jalinan kerja sama pendidikan kedua negara. (*)