Mengenal Sejarah e-Wallet dan Perkembangannya di Indonesia

Mengenal Sejarah e-Wallet dan Perkembangannya di Indonesia
Ilustrasi dompet digital. (ChatGPT)

KABAR pemblokiran dompet digital atau e-wallet tengah menjadi perbincangan publik. Hal itu terjadi setelah Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menghentikan transaksi pada rekening dorman pada beberapa waktu lalu yang menyebabkan kegaduhan.

Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menyebut penanganan e-wallet atau financial technology (fintech) berbeda dengan rekening pasif atau rekening dormant di bank konvensional. Dia menyebut langkah itu diambil untuk melindungi pemilik akun agar tak dirugikan oleh adanya aktivitas ilegal. “Penanganan fintech berbeda dengan konvensional. Kalau ada dana ilegal masuk ke e-wallet, pasti kami upayakan untuk melindungi pihak yang dirugikan,” kata Ivan ketika dihubungi pada Minggu, 10 Agustus 2025.

Dia menjelaskan bahwa PPATK sering kali menangani banyak kasus terkait e-wallet. Pada paruh pertama 2025, PPATK mencatat deposito judi daring atau judi online (judol) melalui dompet digital mencapai Rp 1,6 triliun, yang berasal dari 12,6 juta kali transaksi. “Sudah banyak kasus ke e-wallet juga kami tangani,” ucap Ivan.

Lantas, seperti apa asal-usul e-wallet dan perkembangannya di Indonesia?

Sejarah e- Wallet

Melansir evolet.io, konsep pembayaran digital mulai berkembang pada 1990-an. Pada 1994, transaksi daring pertama yang aman berhasil dilakukan ketika album compact disc (CD) “Ten Summoner’s Tales” milik Sting dibeli melalui platform NetMarket.

Transaksi itu merupakan transaksi pertama yang menggunakan enkripsi untuk melindungi data pribadi konsumen. Perkembangan tersebut membuka jalan bagi platform-platform raksasa, seperti Amazon dan eBay pada tahun-tahun berikutnya.

Kemudian pada 1997, Coca Cola memperkenalkan beberapa mesin penjual otomatis di Helsinki, Finlandia, yang memungkinkan konsumen membeli minuman melalui pesan teks. Meski sederhana, ide inovatif itu dianggap sebagai model pertama dompet digital menggunakan perangkat seluler untuk bertransaksi.

Pada 1999, PayPal menawarkan solusi pembayaran yang lebih sederhana dan murah. Paypal memungkinkan pengguna melakukan pembayaran hanya dengan memasukkan alamat surel (email), nomor rekening bank, atau informasi kartu kredit.

Setelah PayPal, inovasi di seluruh dunia terus berkembang, termasuk Alipay di Cina. Platform yang diluncurkan oleh Alibaba Group pada 2003 itu menjadi dompet digital utama yang mendukung pertumbuhan e-commerce di Negeri Tirai Bambu. Alipay memungkinkan pengguna untuk melakukan pembelian daring dengan mudah sekaligus menyimpan dana untuk digunakan di lain waktu.

Sementara itu di Kenya, dompet digital yang diberi nama M-PESA muncul sebagai inovasi penting di dunia keuangan. M-PESA yang diperkenalkan oleh Safaricom pada 2007 itu memungkinkan pengguna mengirim, menyimpan, dan menarik uang melalui ponsel, tanpa memiliki akun di bank konvensional.

Memasuki 2010-an, e-wallet semakin canggih dengan ditandai peluncuran Google Wallet pada 2011. Setelah itu, muncul berbagai produk dompet digital lain, seperti Google Wallet yang digabung dengan Android Pay menjadi Google Pay pada 2018, WeChat Pay pada 2013, dan Apple Pay pada 2014.

Perkembangan e-Wallet di Indonesia

Ilustrasi sejarah e-wallet di Indonesia
Ilustrasi sejarah e-wallet di Indonesia

Mengacu pada buku “Mengenal Dompet Digital di Indonesia” karya Suyanto, dompet digital mulai muncul di Indonesia pada 2007 melalui layanan T-Cash Telkomsel dan XL. Akan tetapi, e-wallet mulai populer setelah kehadiran GoPay, lalu disusul oleh OVO, Dana, LinkAja, dan masih banyak lainnya.

Mengutip laman Bank Indonesia (BI), transaksi pembayaran dengan menggunakan e-wallet terus berkembang. Berdasarkan riset Neurosensum Indonesia, penggunaan dompet digital sebelum pandemi Covid-19 hanya berkisar 10 persen, tetapi melonjak hingga mencapai 44 persen di sepanjang 2020.

Survei lain yang diselenggarakan oleh Ipsos di Asia Tenggara menemukan bahwa masyarakat lebih banyak menggunakan e-wallet dibandingkan dengan rekening bank ketika berbelanja daring. Lima aplikasi dompet digital yang populer di kalangan masyarakat Indonesia, yaitu ShopeePay, OVO, GoPay, Dana, dan LinkAja.

Riset lain yang dilakukan InsightAsia dalam laporan bertajuk “Consistency That Leads: 2023 e-Wallet Industry Outlook” menunjukkan 74 persen responden aktif menggunakan dompet digital untuk berbagai macam transaksi keuangan. Riset itu melibatkan 1.300 responden di tujuh kota besar pada 19-30 September 2022.

Selain e-wallet, riset InsightAsia melaporkan bahwa metode pembayaran lainnya yang unggul seperti uang tunai (49 persen), transfer bank (24 persen), Quick Response Code Indonesian atau QRIS (21 persen), beli sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) (18 persen), kartu kredit (17 persen), dan transfer akun virtual (16 persen).

null

Sumber: Tempo.co

# Tag