Ara Grace: CEO JJ Group yang Siap Taklukkan Panggung Bisnis dan Musik Sekaligus
Beberapa tahun lalu, publik mengenalnya sebagai Chilla Kiana — penyanyi muda yang bersuara khas dan sempat tampil di panggung Disney Asia. Kini, di bawah nama Ara Grace, ia muncul kembali, bukan dengan album baru, melainkan sebagai sosok di balik kemudi JJ Group Jakarta, sebuah grup advertising terintegrasi. Tantangannya tidak main-main: di usia yang belum genap 30 tahun, ia harus membawa bisnis ini bersaing di level global.
Menurutnya, dia ingin membuktikan bahwa kecerdasan dan kreativitas anak Indonesia tidak kalah dengan global. Dan sejauh ini, Ara membuktikannya lewat sederet kampanye end-to-end untuk brand-brand besar — dari FMCG, fintech, hingga teknologi dan gadget.
Sejak duduk di kursi CEO, ia meracik formula yang unik: memadukan artistry dan strategy. Kreativitas tajam dan storytelling lintas budaya ia sandingkan dengan akurasi data dan keberanian bereksperimen. Strategi ini bahkan sanggup menembus pasar gadget yang terkenal hiper-kompetitif.
Gaya kerjanya cepat, kolaboratif, dan data-led. Ide kreatif diuji melalui real-time metrics, dieksekusi lintas kanal, lalu dioptimasi secara berkelanjutan. Dampaknya terasa nyata: awareness melonjak, engagement tumbuh, dan ROI konsisten melampaui KPI yang ditargetkan.
Ara juga dikenal sebagai “pemain pitch” yang ulung. Ia telah memenangkan berbagai kompetisi brand pitch bergengsi, menepis anggapan bahwa usia muda menjadi penghalang untuk memimpin di level tertinggi. Baginya, kampanye bukan sekadar indah dipandang, tetapi harus mampu menggerakkan pasar.
“Setiap brand punya potensi untuk menang — tantangannya adalah menemukan cerita, medium, dan momentum yang tepat,” katanya.
Meski kini jatuh cinta pada dunia bisnis, musik tak pernah ia tinggalkan. Saat ini, Ara sedang menyiapkan sebuah proyek musik yang ia sebut unpredictable — lebih dari sekadar soal vokal, tapi juga refleksi identitas barunya. Sebuah kolaborasi lintas negara pun tengah disiapkan dan akan ia bagikan “saat waktunya tiba.”
Dua panggung kini menjadi medan perjuangannya: memimpin strategi bisnis di siang hari dan mencipta karya musik di malam hari. “Tidak mudah memang, tapi semua ini akan dijalanin dan diusahakan dengan maksimal,” ujarnya.
Bagi Ara Grace, dunia tidak perlu memilih antara kreativitas dan kepemimpinan—keduanya bisa berjalan beriringan. Dan ia sedang berupaya membuktikannya: satu kampanye, satu lagu, satu langkah besar pada satu waktu. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.