Visi dan Aksi Angga Dwimas Sasongko Kibarkan Reputasi Visinema
Jumbo, sebuah film karya anak bangsa, telah mencetak prestasi fenomenal. Hanya dalam waktu 60 hari penayangannya di bioskop —dimulai 31 Maret 2025— jumlah penontonnya telah mencapai lebih dari 10 juta.
Data yang dicatat Antara (2 Juni 2025) bahkan mengungkapkan, Jumbo bukan hanya berjaya di genrenya (film animasi dan adventure), tapi juga berhasil menjadi film terlaris sepanjang masa di Indonesia dengan melengserkan film KKN di Desa Penari.
Hingga Minggu, 1 Juni 2025, jumlah kumulatif penonton Jumbo mencapai 10.073.332, sedangkan film KKN di Desa Penari (tayang perdana pada 30 April 2022) menggaet 10.061.033 penonton, dan sebelumnya menduduki peringkat teratas film terlaris di Indonesia.
Laboratorium Gagasan
Bukan itu saja. Film yang dibuat oleh Visinema Studios ini juga telah tercatat sebagai film animasi dengan pendapatan tertinggi di Asia Tenggara, melampaui rekor pendapatan yang sebelumnya dipegang oleh Mechamato Movie yang dirilis tahun 2022 oleh Animonsta Studios dan Astro Shaw dari Malaysia.
Jumbo, yang disutradarai Ryan Adriandhy, sudah tayang di 17 negara, antara lain Malaysia, Singapura, dan Rusia. Keberhasilannya di pasar film internasional ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi industri animasi dan perfilman Indonesia.
Prestasi fenomenal Jumbo tentu saja makin melambungkan nama Visinema Group. Sebelumnya, melalui Visinema Pictures, grup usaha bidang kreatif ini telah menghasilkan sejumlah film yang populer dan berkualitas, seperti Filosofi Kopi, Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini, Mencuri Raden Saleh, Keluarga Cemara, dan 13 Bom di Jakarta.
Visinema pun telah membuat sejumlah film adaptasi novel. Antara lain, Home Sweet Loan dan Ali Topan.
Sukses yang dicapai Visinema tak lepas dari kepemimpinan Angga Dwimas Sasongko, sang founder dan CEO yang telah memimpin Visinema selama belasan tahun. Kiprahnya dimulai ketika mendirikan Visinema Pictures pada 2008, yang mulanya bergerak di bidang produksi iklan dan video musik, sebelum akhirnya memasuki arena layar lebar pada 2014.
Angga kemudian mendirikan Visinema Studios, sebagai bagian dari Visinema Pictures, yang lebih fokus pada pengembangan karya-karya (intellectual property/IP) kreatif, termasuk animasi, serial digital, dan konten interaktif.
Ada visi menarik di balik keberhasilan Visinema. “Sejak awal, Visinema dibentuk sebagai laboratorium gagasan,” ujar Angga. Ia memulai Visinema dengan prinsip “kecil tapi berarti”.
Seiring berjalannya waktu, dalam istilah Angga, Visinema tumbuh jadi semacam ruang fermentasi ide. “Sejak awal, saya tidak ingin Visinema hanya jadi rumah produksi. Saya ingin ia jadi sistem, tempat regenerasi dan tumbuhnya gagasan dan harapan,” kata lelaki kelahiran Jakarta, 11 Januari 1985, ini.
Untuk mendukung visi tersebut, Visinema menegakkan sejumlah nilai utama, yakni integritas, keberagaman, ketangguhan, dan tanggung jawab kreatif. Hal itu, misalnya, diterapkan dalam rekrutmen personel.
“Kami tidak mencari orang yang sempurna, tapi mereka yang punya kemauan untuk terus belajar dan berkembang,” kata Angga. Setiap proyek yang akan digarap harus punya alasan kuat di belakangnya. Di sisi lain, setiap orang yang terlibat di dalamnya harus tahu bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar pekerjaan, yakni sedang menciptakan impact.
Ekosistem Kreatif
Meskipun karya-karyanya diminati masyarakat, menurut Angga, Visinema tidak memulainya dari “apa yang sedang laku di pasar”, tapi dari “apa yang penting untuk diceritakan”. Alasannya, masyarakat sebetulnya tidak membutuhkan kebisingan baru, melainkan butuh resonansi emosional.
Karena itu, Visinema berupaya menciptakan karya yang relevan dan jujur, lalu membangunnya menjadi kekayaan intelektual (IP) yang dapat tumbuh bersama audiensnya. Angga mencontohkan, film Filosofi Kopi membuktikan hal ini, sedangkan Jumbo membawa konsepnya ke skala yang lebih luas.
Karakter inovatif juga cukup menonjol pada Visinema. Bagi Angga, inovasi bukan sekadar soal penggunaan teknologi baru, melainkan keberanian membongkar struktur lama. Mulai dari cara bercerita, membangun tim, hingga mendistribusikan karya.
Ia mencontohkan, di saat pandemi Covid-19, Visinema meluncurkan layanan yang disebut Bioskop Online. Alasannya, Visinema ingin menyelamatkan ekosistem perfilman, mengingat saat itu ada kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), dan di sisi lain juga ingin mendorong terciptanya sistem distribusi yang lebih adil.
Contoh lainnya, dalam proyek animasi seperti Jumbo, Visinema bereksperimen dengan menggunakan local talent; mengemas metode storytelling-nya dengan standar global; dan menjadikannya sebagai struktur IP keluarga yang bisa diwariskan lintas generasi.
Terobosan lain Visinema ialah membentuk studio seperti BION atau Afterlab, yang bukan hanya untuk menambah kapasitas produksi, tapi sebagai laboratorium yang melahirkan cara kerja baru dan menemukan kemungkinan baru dalam bercerita.
“Jadi, inovasi bagi kami adalah cara berpikir. Bukan soal alat, tapi soal arah,” kata alumnus D-3 Komunikasi Prodi Penyiaran, Universitas Indonesia ini.
Hingga saat ini, Angga mengatakan, Visinema telah berkembang bukan hanya sebagai sebuah rumah produksi, melainkan menjadi sebuah kelompok ekosistem kreatif. Ada sejumlah unit usaha di dalam ekosistem ini (lihat Boks).
Pertumbuhan Organik
Menurut Angga, pihaknya bukan cuma membangun lini bisnis, tapi fondasi agar para kreator bisa tumbuh di dalam sistem yang saling menyokong. Setiap studio juga dirancang bukan hanya sebagai unit produksi, tapi sebagai semacam “sekolah”.
“Individu bisa belajar menjadi storyteller, produser, pemimpin, dan pemikir, bukan hanya untuk menjadi teknisi proyek,” katanya.
Adapun perusahaannya diposisikan sebagai ekosistem. Yakni, sistem hidup yang memungkinkan para kreator lintas bidang —mulai dari penulis, animator, komposer, editor, desainer game, hingga showrunner— dapat berjejaring, tumbuh, dan menciptakan inovasi.
Saat ini Visinema memiliki lebih dari 100 karyawan tetap, dan ratusan kolaborator lepas yang terlibat dalam proyek-proyeknya. Yang menarik, Visinema membangun tim bukan berdasarkan hierarki formal atau senioritas, tapi pada prinsip “pertumbuhan organik”.
Angga menyebutkan, tak sedikit produser, penulis, dan sutradara di Visinema yang dulunya adalah pekerja magang, asisten produksi, atau koordinator kru. “Mereka berkembang bukan karena diberi jalan pintas, tapi karena diberi ruang untuk mengambil tanggung jawab dan membuat keputusan,” ungkap lelaki yang berpengalaman sebagai penulis, produser, dan sutradara ini.
Baginya, tantangan terbesar ke depan ialah bagaimana tetap relevan tanpa kehilangan integritas. Dalam konteks korporat, tantangannya yaitu membuat Visinema tetap hidup dan tumbuh berkelanjutan meskipun tanpa dirinya. Karena itu, Visinema berupaya menciptakan barisan creative leader dari dalam.
Lalu, apa harapan ke depan? “Kami tidak ingin menjadi studio terbesar, tetapi kami ingin menjadi studio yang paling visioner,” Angga menegaskan.
Maksudnya, pihaknya bukan hanya berupaya menciptakan film, tetapi membangun ekosistem yang inklusif dan berkelanjutan, dengan karya yang bisa melintasi generasi dan format. “Jumbo adalah peluru pertama kami untuk global movement ini,” ujarnya. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.