Memimpin dengan Empati, Menumbuhkan dengan Strategi: Kisah Louise Nathanael Kesuma di Oxone

null
Louise Nathanael Kesuma (kanan) bersama ayahnya, Ifan Kesuma, founder PT Okta Utama yang menaungi merek Oxone. (Foto: Darandono/SWA)

Di balik kiprah Oxone sebagai salah satu merek lokal peralatan dapur yang kuat di pasar Indonesia, ada sosok Louise Nathanael Kesuma.

Sejak 2022, ia dipercaya menduduki kursi Marketing Director dan menjadi bagian dari generasi penerus kepemimpinan di PT Okta Utama, yang didirikan Ifan Kesuma. Kehadirannya membawa nuansa baru, terutama dalam upaya menyeimbangkan pendekatan tradisional dan strategi modern dalam bisnis.

Menjalankan peran di perusahaan keluarga tidak pernah lepas dari dinamika. Louise menghadapi perbedaan pandangan dengan jajaran pimpinan senior mengenai arah strategi bisnis.

“Sebagai generasi kepemimpinan berikutnya, ada kalanya terdapat kesenjangan visi antara saya dan CEO, terutama antara pendekatan modern dan tradisional dalam strategi bisnis,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada SWA.

Selain faktor internal, arus kompetisi eksternal juga kian ketat. Produk-produk impor, khususnya dari Tiongkok, menekan pasar dengan harga yang sangat rendah.

Kondisi ini membuat Oxone harus bekerja ekstra keras untuk tetap meyakinkan konsumen bahwa produk lokal memiliki kualitas dan nilai yang pantas diperjuangkan.

null
Produk-produk Oxone semakin mendapat tempat di hati masyarakat. (Foto: Oxone)

Namun, di balik tekanan itu, Louise justru melihat peluang besar. Oxone sudah terlanjur mendapat tempat di hati masyarakat, khususnya kalangan ibu rumah tangga dan penonton setia acara memasak televisi.

Dari basis loyalitas inilah ia mencoba mengekspansi citra merek agar relevan bagi segmen yang lebih muda dan berorientasi gaya hidup.

Perubahan besar yang ingin ia wujudkan terangkum dalam sejumlah target jangka panjang. Louise menekankan bahwa Oxone harus menjadi merek peralatan dapur lokal nomor satu di Indonesia, baik dari sisi pendapatan maupun tingkat kesadaran merek di benak konsumen. Ambisi itu juga disertai dengan rencana penguatan sub-merek Louna yang diarahkan menjadi brand gaya hidup.

Selain positioning, Louise juga ingin membawa Oxone lebih terstruktur dengan sistem pemasaran yang profesional dan berbasis data. Dengan demikian, setiap langkah kampanye dan kolaborasi tidak hanya bersifat intuitif, melainkan punya dasar analisis yang bisa dipertanggungjawabkan. Tujuannya sederhana: agar setiap rupiah yang dikeluarkan menghasilkan dampak maksimal.

Lima Strategi Utama

Untuk mencapai target itu, ia pun mengandalkan lima strategi utama. Apa saja?

Pertama, berkolaborasi dengan key opinion leaders (KOL) dan chef ternama. Kolaborasi dengan Devy Anastasia, misalnya, membuahkan produk edisi khusus dengan kampanye eksklusif yang diperkuat lewat acara demo masak dan konten digital. Hasilnya, kampanye ini mampu menarik perhatian publik secara luas.

Strategi kedua ialah memperbarui segmentasi persona konsumen. Dengan memahami siapa sebenarnya target mereka — mulai dari ibu muda perkotaan hingga generasi Z yang peduli gaya hidup sehat — Oxone mampu merancang konten, bundling produk, dan promosi yang lebih tepat sasaran. Perubahan pendekatan ini memberi arah yang lebih jelas pada kegiatan pemasaran.

Strategi ketiga yang ditekankan Louise adalah experiential marketing. Ia percaya bahwa pengalaman langsung konsumen bersama produk akan melahirkan keterikatan emosional. Karena itu, Oxone menciptakan berbagai pop-up booth seperti Juice Bar dan Juicy Padel, lengkap dengan kelas memasak bernuansa gaya hidup.

“Menciptakan pop-up booth dan experience store yang unik, seperti Juice Bar, Juicy Padel, dan kelas memasak bertema gaya hidup untuk memperkuat keterikatan emosional terhadap merek,” jelasnya.

Strategi keempat: fokus pada penguatan kanal digital melalui Oxone Premium Apps (OPA). Fitur baru seperti referral, halaman resep, hingga peluang passive income ditambahkan, lengkap dengan garansi 6 bulan ekstra untuk setiap pembelian. Upaya ini membuat konsumen bukan hanya pengguna, tapi juga bagian dari ekosistem Oxone.

Strategi kelima adalah peluncuran sub-brand Louna yang berfokus pada produk minuman gaya hidup. Dengan pendekatan ini, Oxone mencoba mendekati generasi muda sejak awal, sehingga ketika mereka memasuki fase hidup penting, merek ini sudah melekat sebagai pilihan utama peralatan dapur.

null
Louise bersama Louna, produk yang berfokus pada produk minuman gaya hidup. (Foto: Darandono/SWA)

Empati

Ketekunannya dalam menumbuhkan identitas baru Oxone tak bisa dilepaskan dari gaya kepemimpinannya. Louise membangun fondasi kepemimpinan dengan menekankan empati, kepercayaan, dan pemahaman.

“Saya percaya bahwa empati, kepercayaan, dan pemahaman adalah fondasi dari kepemimpinan yang efektif,” katanya, menegaskan nilai yang ia pegang .

Ia berusaha menjadi pemimpin yang mendengar sekaligus memberikan ruang eksplorasi. Namun, standar eksekusi tetap dijaga ketat. Melalui komunikasi terbuka dalam tim inti, Louise memastikan semua orang berada pada frekuensi visi yang sama.

Bahkan, ia menciptakan sistem agar anggota tim merasa memiliki proyek — dengan memberikan tanggung jawab penuh dan apresiasi publik atas kontribusi mereka.

null
Louise menjelaskan tentang Louna kepada konsumen. (Foto: Darandono/SWA)

Pendekatan itu terbukti melahirkan sejumlah quick win. Salah satunya adalah kampanye slow juicer hasil kolaborasi dengan Devy Anastasia, yang mencatat penjualan lima kali lipat dari target awal hanya dalam satu bulan.

Pencapaian ini tidak hanya mendongkrak omzet, tetapi juga memperkuat citra Oxone sebagai pemain serius di segmen juicer premium.

Kebangkitan juga tampak dari sisi digital. Saat OPA diluncurkan ulang, aplikasi ini berhasil meraih lebih dari 800 pengguna baru hanya dalam 12 jam pertama. Pencapaian kilat tersebut menunjukkan betapa konsumen merespons positif integrasi layanan digital yang ditawarkan. Selain praktis, aplikasi ini juga memberi nilai tambah berupa garansi panjang dan akses resep eksklusif.

Kinerja di kanal penjualan daring lainnya pun ikut terdongkrak. Penjualan melalui TikTok Live misalnya, melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding tahun 2023.

Performa ini menegaskan strategi live-selling masih relevan, terutama bila dikemas dengan pendekatan kreatif dan dekat dengan gaya hidup konsumen muda.

Oxone juga aktif mengeksekusi program experiential marketing seperti Juicy Padel, bekerja sama dengan influencer kesehatan ternama. Acara ini bukan hanya menjadi panggung olahraga, melainkan juga ajang memperluas eksposur digital lewat konten live dan aktivasi di lokasi. Kehadiran komunitas memberi lapisan baru pada cara merek berinteraksi dengan audiens.

null
Kolaborasi dengan Devy Anastasia. (Foto: IG @oxoneonline)

Optimalisasi Media Sosial

Di tengah hiruk-pikuk pemasaran, media sosial tetap menjadi senjata utama. Louise bersama timnya mengelola Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook sebagai kanal untuk edukasi, inspirasi, hingga live-selling.

“Media sosial bukan hanya soal branding, tetapi juga sebuah platform untuk membangun kepercayaan dan kredibilitas, memperluas jaringan, serta meningkatkan konversi,” tegasnya.

Lewat strategi itu, Oxone tidak lagi sekadar menjual produk rumah tangga, melainkan menghadirkan ekosistem yang hidup. Konsumen dapat belajar resep, mengikuti aktivitas komunitas, hingga merasa menjadi bagian dari perjalanan merek. Dari sinilah loyalitas pelanggan terus dipupuk, bahkan di tengah tekanan kompetitor global.

Perjalanan Louise di Oxone memperlihatkan bagaimana kepemimpinan generasi baru dapat mengawinkan visi modern dengan nilai tradisional. Di satu sisi, ia menghadapi tantangan besar dari pasar dan internal perusahaan; di sisi lain, ia harus menyalakan mesin pertumbuhan lewat kolaborasi, digitalisasi, dan kepemimpinan berbasis empati. (*)

# Tag