Nuanu Creative City: Proyek Rp2,4 Triliun yang Menjahit Infrastruktur, Alam, dan Komunitas di Bali
Siang di Tabanan, pertengahan Agustus 2025, terasa hangat ketika angin laut dari Pantai Nyanyi bertiup lembut. Dari Oshom Hotel — hotel butik berisi delapan belas kamar yang menghadap langsung ke laut — ombak bergulung menjadi pemandangan yang menyejukkan. Di sekelilingnya, deretan proyek masih gencar dibangun, berdampingan dengan bangunan yang mulai ramai dikunjungi.
Lanskap itulah wajah Nuanu Creative City, sebuah kawasan seluas 44 hektare yang berambisi merajut vila, residensial, hotel mewah, ruang hiburan, lapangan olahraga, hingga pusat spiritual dalam satu tarikan napas.
Sejak beroperasi pada 2023, Nuanu menjelma jadi magnet baru pariwisata Bali. Tak hanya memikat wisatawan, kawasan ini juga mulai dilirik sebagai tuan rumah forum-forum internasional. Di antara deru mesin dan debu proyek, geliat aktivitas sudah terasa: seni, pendidikan, bisnis, hiburan, dan spiritualitas berpadu dalam satu ekosistem.
Di tengah pusaran investasi senilai Rp2,4 triliun itu berdiri Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City. Wajahnya mungkin belum seterkenal para tokoh properti Bali, tetapi langkahnya perlahan membentuk tapak sejarah baru di pesisir Tabanan.
Total Membangun Infrastruktur
Sambil menikmati buah naga di meja Oshom, lelaki bercambang asal Rusia itu bercerita. Baginya, Nuanu tidak dibangun dengan logika cepat balik modal. Ia memulai dari fondasi yang sering terlupakan: drainase, listrik, internet, hingga perlindungan dari erosi.
Filosofi over-invest di awal bukan tanpa alasan. Bali, menurut Lev, kerap gagap menyiapkan infrastruktur dasar saat sebuah destinasi mendadak populer. Karena itu, alih-alih menunggu masalah datang, Nuanu memilih mengantisipasi. Mereka membangun jalan, jaringan komunikasi, serta sistem pengelolaan sampah yang tak hanya melayani kawasan internal, tapi juga memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Namun, infrastruktur bukan melulu tentang beton dan kabel. Di dalam kompleks berdiri Magic Garden dengan kubah kupu-kupu, deretan anggrek yang mencapai dua ratus enam puluh jenis, hingga eksperimen membiakkan capung. Bagi Lev, semua itu bukan atraksi semata, melainkan cara merawat alam.
“Dragonfly is not a business line,” ujarnya berseloroh. Capung memang tak mendatangkan cuan, tetapi ia menjadi solusi alami mengendalikan nyamuk, jauh lebih ramah ketimbang fogging.
Jejak keberlanjutan itu juga tampak di X Hotel, bangunan berkonsep green building yang baru diluncurkan pada 13 Agustus 2025. Fasadnya tidak terbuat dari aluminium, melainkan polimer plastik daur ulang.
“Sustainability sering jadi permainan kertas: sertifikat, kredit karbon. Kami ingin bukti nyata yang bisa dilihat mata—pohon, kupu-kupu, udara bersih,” ujar Lev dengan tatapan serius.
Meski demikian, jalan menuju ramah lingkungan tak selalu mulus. Panel surya, misalnya, dipasang di tengah regulasi yang berubah-ubah — sebuah tantangan yang lama menghantui investor di Indonesia.
Relasi dengan pemerintah ia sebut positif meski penuh dinamika. Tidak ada tax holiday, tidak ada dana dukungan. “Saya rasa pemerintah berperan sebagai regulator, bukan penyokong dana. Yang kami butuhkan kejelasan aturan,” katanya diplomatis.
Berani Bereksperimen
Di balik visi hijau itu, Nuanu tetaplah sebuah bisnis. Tiket masuk sebesar Rp50 ribu menjadi pintu pertama. Di dalamnya, pengunjung bisa menikmati Labyrinth (galeri seni), atau Magic Garden (taman kupu-kupu).
“Kami pakai logika IT: lifetime value of visitors. Begitu datang, pengunjung kan ingin mencoba lebih banyak pengalaman,” ujar Lev.
Pendapatan tambahan mengalir dari lini kuliner seperti Luna Beach Club, fasilitas wellness seperti Lumeira (spa), hingga program atraksi pelepasan kupu-kupu. Targetnya jelas: break-even operasional di 2025, dengan ROI penuh dalam lima hingga tujuh tahun.
Filosofi pembangunan yang mereka bawa pun unik: professional amateurs. Alih-alih mengandalkan developer kawakan dengan kalkulasi efisiensi lahan, Nuanu memilih semangat amatir yang berani bereksperimen.
“Kalau terlalu berpengalaman, Anda cenderung sinis — sudah tahu apa yang gagal. Padahal, inovasi lahir dari mencoba hal yang dianggap mustahil,” ucap Lev sambil tersenyum tipis.
Hasilnya terlihat pada arsitektur Luna Beach Club atau X Hotel. Mahal di awal, tetapi diyakini lebih efisien dalam jangka panjang. Bangunan yang dibangun serius akan bertahan puluhan tahun, hemat energi, dan rendah biaya perawatan.
“Doing things well pays off,” kata Lev tegas. Artinya: melakukan sesuatu dengan baik pada akhirnya akan membuahkan hasil. Luna Beach Club menampilkan kolam renang infinity dengan latar laut lepas, klub VIP bergaya gua, rumah-rumah pohon di ketinggian, hingga malam penuh musik dan cahaya yang gemerlap.
Namun di luar dinding kaca dan kupu-kupu, kritik publik pun berdatangan. Nuanu dianggap mahal dan eksklusif, hanya untuk kalangan atas.
Lev tidak menampik kalau ada persepsi semacam itu. Sesuatu yang sifatnya relatif. Yang jelas, ia menegaskan bahwa akses tetap terbuka. “Tiket Rp50 ribu kan sudah memberi akses ke taman, galeri, dan pertunjukan. Kami ingin ada ruang untuk semua orang,” ujarnya tersenyum.
Kombinasi Inklusivitas-Ekslusivitas
Sebagai penyeimbang, mereka mendirikan Nuanu Social Fund sejak 2022. Program ini mendanai proposal komunitas hingga Rp100 juta, membagikan ribuan tiket gratis bagi warga lokal Tabanan, serta mengundang anak-anak desa belajar seni dan bahasa Inggris.
Inklusivitas, kata Lev, bukan berarti meniadakan eksklusivitas. Justru kombinasi keduanya yang membuat kawasan hidup. “Kalau tamu hotel mewah keluar kamar, mereka ingin melihat kehidupan nyata, bukan pulau kemewahan yang kosong,” tegasnya.
Bagi Lev, Bali adalah wajah Indonesia di mata dunia. “Bali lebih dikenal global ketimbang Indonesia. Itulah kenyataannya,” ujarnya. Bandara Ngurah Rai lebih sering jadi pintu masuk turis dunia dibanding Jakarta.
Posisi ini, menurutnya, adalah peluang sekaligus beban. Keberhasilan atau kegagalan proyek seperti Nuanu bisa menjadi tolok ukur bagaimana Indonesia dipersepsikan oleh investor global.
Di balik visi besar itu, Lev membawa filosofi kepemimpinan sederhana: mencari orang yang lebih berbakat darinya, lalu memberi ruang. Ia menyebut timnya “young, wild, and dangerous” — anak muda penuh energi dengan otonomi tinggi. Tantangan terbesar hanyalah menyatukan keragaman latar belakang, budaya, dan nilai dalam harmoni.
Pastinya, Lev menegaskan bahwa Nuanu memiliki peta jalan berlapis. Tahap demi tahap. Setelah membangun beragam fasilitas, tahun 2027 ditargetkan kawasan ini menjadi “perfect place to live” ketika seluruh vila dan hunian rampung.
Namun Lev buru-buru menyatakan bahwa dia berharap Nuanu tak pernah selesai. "Setelah konstruksi, giliran konten, acara, dan pengalaman yang terus diperbarui," katanya.
Pada akhirnya, Nuanu bukan sekadar real estat bernilai triliunan. Ia adalah eksperimen sosial dan budaya yang berambisi merajut infrastruktur, merawat alam, mendidik manusia, sekaligus menghadirkan ruang bisnis yang hidup.
Tanpa terasa, siang di Tabanan itu perlahan kian merayap menuju sore. Ombak di Pantai Nyanyi masih bergulung, angin laut masih membawa sejuk ke teras Oshom Hotel.
Bedanya, kini pandangan tidak lagi hanya menangkap pasir, laut, dan deretan proyek yang sedang tumbuh. Ada bayangan lebih besar: sebuah kota kreatif bernama Nuanu yang tengah merajut infrastruktur, alam, dan komunitas.
Seperti ombak yang tak pernah berhenti datang, proyek ini pun seolah tidak mengenal kata selesai. Selalu ada yang dibangun, selalu ada yang ditumbuhkan. Dan di antara debu, beton, kupu-kupu, serta mimpi yang mengudara, satu hal terasa jelas: Nuanu sedang menulis bab baru di Bali, diiringi tarian ombak di pesisir Pantai Nyanyi. (*)