Chief Economist Citi Indonesia: BI Masih Punya Ruang Turunkan BI Rate

null
Chief Economist Citi Indonesia, Helmi Arman. (Foto: Sri Niken Handayani/SWA)

Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini. Namun, peluang pemangkasan belum berhenti di situ.

Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Chief Economist Citi Indonesia, Helmi Arman, menilai masih ada ruang untuk penurunan suku bunga acuan hingga tiga kali lagi sampai akhir tahun.

Alasannya, pertumbuhan ekonomi nasional masih belum merata. Walaupun headline growth terlihat kuat, menurutnya secara sektoral belum menunjukkan pemerataan. Tren pertumbuhan kredit juga cenderung melambat dalam beberapa waktu terakhir.

Suku bunga riil di Indonesia, jelas Helmi, jika dihitung dari BI Rate dikurangi inflasi, masih relatif tinggi. Kondisi ini memberi justifikasi bagi ruang-ruang penurunan suku bunga.

Helmi menambahkan, ada faktor fundamental yang mendukung potensi pelonggaran kebijakan moneter. Kebutuhan dolar dari korporasi untuk refinancing utang luar negeri mulai menurun. Sejak tren kenaikan suku bunga AS, banyak perusahaan merestrukturisasi utang dolar mereka ke rupiah. Kini siklus refinancing tersebut hampir selesai, sehingga tekanan permintaan dolar semakin berkurang.

Selain faktor domestik, arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) juga menjadi katalis penting. Pasar memperkirakan The Fed akan melanjutkan siklus penurunan suku bunganya pada September 2025.

Jika terealisasi, langkah ini berpotensi memperkuat arus masuk dana ke emerging markets, termasuk Indonesia, dan memberi ruang pelonggaran lebih lanjut bagi BI.

“Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi yang masih belum inklusif, suku bunga riil yang tinggi, serta perbaikan fundamental eksternal, kami melihat ruang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia masih cukup lebar,” ungkapnya.

Bagi dunia usaha dan perbankan, ruang pelonggaran ini bisa menjadi katalis positif untuk memacu ekspansi kredit, sekaligus memperkuat daya beli masyarakat. Sementara bagi investor, arah kebijakan BI akan menjadi sinyal penting mengenai stabilitas makroekonomi di tengah dinamika global.

Jika prediksi Helmi terwujud, 2025 bisa menjadi tahun di mana suku bunga lebih bersahabat, meski tantangan menjaga momentum pertumbuhan tetap akan mengiringi. (*)

# Tag