Dukung Ekosistem Laut Berkelanjutan, PIS Tanam 1.000 Terumbu Karang di Sabang
PT Pertamina International Shipping (PIS) kembali menunjukkan komitmennya menjaga keberlanjutan laut Indonesia lewat program CSR Marine BiodiverSEAty. Tahun ini, salah satu kegiatan utama adalah transplantasi 1.000 fragmen terumbu karang di Ujung Teungku, Iboih, Sabang — wilayah paling barat Nusantara.
Menurut Corporate Secretary PIS, Muhammad Baron, pemilihan Sabang bukan tanpa alasan. Sebagai salah satu garis terluar Indonesia, Sabang memiliki posisi strategis dalam melengkapi sebaran penanaman terumbu karang di lokasi lain yang telah dilakukan PIS.
Selain strategis, Sabang juga dikenal dengan potensi wisata laut yang indah. Ekonomi daerah ini banyak bertumpu pada pariwisata bahari dan perikanan, sehingga kelestarian laut menjadi penopang vital kesejahteraan masyarakat setempat.
Transplantasi dilakukan melalui beberapa tahapan. Kegiatan diawali dengan sesi edukasi mengenai pentingnya ekosistem terumbu karang, yang dibawakan oleh Rubiah Tirta Divers, pusat selam pertama di Aceh.
Edukasi ini menyasar perwira Pertamina yang ikut serta, agar mereka memahami peran penting terumbu karang dalam menjaga kehidupan laut.
“Transplantasi 1000 koral di Sabang ini, ditargetkan bisa menjaga produktivitas ekosistem karbon biru dengan potensi penyerapan karbon 0,4 ton setara emisi karbon setahun (0,4 tCO2e setahun),” kata Muhammad Baron dalam siaran pers yang diterima SWA.co.id, Minggu (24/8/2025).
Ia menekankan, meskipun bukan penyerap karbon utama, terumbu karang melindungi ekosistem lamun dan mangrove yang memiliki kapasitas besar dalam menyimpan karbon biru.
Program ini dirancang sebagai strategi berkelanjutan PIS untuk memastikan laut Indonesia tetap sehat. Perlindungan laut tidak bisa dipisahkan dari kegiatan operasional perusahaan. Karena itu, PIS ingin memberikan kontribusi nyata, bahkan hingga wilayah terujung seperti Sabang.
Sejak 2024, PIS telah menanam 35.000 mangrove, 3.200 lamun, dan 3.100 fragmen terumbu karang. Di Aceh, proses transplantasi juga melibatkan masyarakat lokal.
Mereka merangkai fragmen karang pada kerangka besi yang menjadi media tumbuh, lalu melakukan penanaman secara langsung lewat penyelaman di kawasan konservasi. Rubiah Tirta Divers bertugas melakukan pemantauan rutin pada bulan ke-1, 3, 6, hingga 12 pasca penanaman.
Langkah ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) poin 8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi), poin 13 (penanganan perubahan iklim), poin 14 (konservasi ekosistem lautan), dan poin 17 (kemitraan untuk pembangunan berkelanjutan). Tidak hanya itu, program ini juga memenuhi prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST/ESG).
Bagi PIS, upaya menjaga terumbu karang bukan hanya CSR simbolik, melainkan investasi jangka panjang demi keberlanjutan laut. Ini menjadi bukti bahwa menjaga ekosistem laut bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas, melainkan juga bagian dari peran korporasi untuk memastikan sumber daya alam tetap lestari bagi generasi mendatang. (*)