Ihsan Mulia Putri: Membangun Savoria dari Nol hingga Jadi Pemain FMCG Global

null
Ihsan Mulia Putri. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Dua belas tahun berkarier di JPMorgan Chase Bank Singapura, dengan posisi terakhir sebagai Vice President di divisi Investment Banking, tak lantas membuat Ihsan Mulia Putri berlama-lama menikmati zona nyaman. Ia memutuskan kembali ke Indonesia dan memulai segalanya dari nol.

“Saya ingin membangun sesuatu yang punya jejak lebih panjang dan berdampak besar untuk Indonesia,” kata Ihsan. Keputusan itu membawanya mendirikan Savoria Group, perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) yang kini tumbuh sangat pesat.

Savoria Group bukan hanya sukses di pasar domestik, tetapi juga telah melebarkan sayap ke 44 negara. Dari produk pertama yang diluncurkan pada 2020, kini Savoria telah hadir di berbagai kategori: kopi, susu, kue kering, permen, hingga minuman isotonik. Beberapa brand unggulannya, antara lain Kopi Tubruk Gadjah, Caffino, MilkLife, FOX’S, BonChef, 5Days, dan HydroPlus, menjadi andalan.

“Kami membangun Savoria dari ide dan keberanian. Tak ada warisan perusahaan, yang ada hanya semangat dan keinginan membuktikan bahwa brand Indonesia bisa mendunia,” kata Ihsan yang saat ini menjabat sebagai CEO Savoria Group.

Kompleksitas Seiring Ekspansi

Namun, membangun kerajaan bisnis FMCG bukan tanpa tantangan. Menurutnya, kompleksitas proses bisnis meningkat drastis seiring dengan ekspansi brand dan lini produk.

Talent management menjadi krusial. Dengan ribuan karyawan tersebar di seluruh Indonesia, budaya organisasi dan kepemimpinan yang kuat adalah kunci,” tutur lulusan Northwestern University Amerika Serikat, dengan dual degree Bachelor of Arts (Honors) dan Master of Art in Economics ini.

Di sisi lain, pemain lokal ataupun asing sangat agresif dalam persaingan. Kekuatan daya tawar jaringan ritel modern, loyalitas merek yang menurun, serta fluktuasi global supply chain dan kurs valuta asing juga menjadi tantangan nyata.

Di tengah kompleksitas itu, Ihsan justru melihat peluang. Salah satunya, munculnya unmet needs — kekosongan pasar — yang membuka ruang bagi produk baru yang lebih relevan. “Perubahan gaya hidup, tren kesehatan, kesadaran lingkungan, semua itu menciptakan peluang produk baru,” ujarnya.

Selain pertumbuhan organik, Savoria juga melakukan akuisisi strategis. Salah satunya, mengakuisisi brand FOX’S Candy dari Nestlé. “Kami percaya sinergi dari akuisisi bisa memperkuat channel distribusi dan memperluas ekosistem,” Ihsan menandaskan.

Visi besar Ihsan sederhana tapi ambisius: menjadikan Savoria masuk dalam jajaran top-tier perusahaan FMCG di Indonesia. Dalam lima tahun ke depan, ia menargetkan pertumbuhan bisnis yang signifikan, membangun organisasi yang agile dan inovatif, serta menjadikan Savoria sebagai employer of choice.

Ihsan juga mendirikan Savoria Learning Institute sebagai pusat pengembangan talenta. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan strategi. Kita harus membangun manusia-manusia hebat di balik strategi itu,” ia menegaskan.

Bertumpu pada Lima Strategi

Untuk mewujudkan ambisinya, Ihsan merancang lima strategi utama. Apa saja?

Pertama, membangun platform route to market yang efisien, dengan proses terintegrasi dari insight konsumen, pengembangan produk, hingga distribusi.

Kedua, membangun organisasi yang berfokus pada kinerja melalui perencanaan strategis dan monitoring eksekusi yang ketat. “Kami menggunakan KPI yang dihubungkan langsung dengan sistem remunerasi untuk memastikan seluruh lini memahami kontribusinya,” Ihsan menjelaskan.

Ketiga, menanamkan budaya inovasi melalui program Continuous Improvement & Innovation Awards (CIA) dan Ideation Day. “Dari CIA, salah satu ide terbaik adalah implementasi AI untuk prediksi penjualan. Itu terbukti sangat membantu efisiensi biaya dan akurasi demand,” katanya.

Keempat, mengembangkan talenta melalui Savoria Learning Institute yang menggunakan sistem LMS online dan Individual Development Program untuk para key talent.

Kelima, melakukan transformasi digital secara masif, dari proses bisnis, marketing, hingga consumer engagement. Teknologi seperti AI, automation, dan data analytics menjadi bagian dari DNA organisasi.

“Transformasi digital bukan hanya soal teknologi, tapi juga kesiapan manusia di dalamnya. Maka, kami membentuk Innovation Task Force lintas departemen, agar inovasi tidak hanya datang dari atas, tapi lahir dari seluruh lini,” kata Ihsan. Menurutnya, pemimpin harus menjadi change agent yang memastikan semua karyawan merasa terlibat dan siap bergerak bersama.

null
Ihsan Mulia Putri gelar 5 strategi untuk meraih target. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Budaya TRUE

Sebagai pemimpin, Ihsan percaya, pendekatan kepemimpinan yang otentik dan berkarakter merupakan fondasi penting. Ia mengembangkan budaya kepemimpinan TRUE: Trustworthy, Role Model, Understanding, dan Empowerment.

“Kami ingin semua pemimpin jadi panutan yang bisa dipercaya, punya empati, dan mampu memberdayakan tim,” katanya. Budaya TRUE Leader diinternalisasi sejak awal onboarding karyawan baru dan diukur lewat 360-degree appraisal.

Salah satu bukti keberhasilan pendekatan ini adalah penghargaan Top Employer of Choice 2023 yang diraih Savoria. Employee engagement survey internal tahun 2024 juga menunjukkan skor di atas benchmark perusahaan-perusahaan terbaik di Indonesia dan dunia.

“Kami tidak hanya ingin menjadi perusahaan besar, tapi juga rumah terbaik bagi talenta terbaik,” Ihsan menegaskan.

Hasil nyata dari kepemimpinannya tecermin dalam angka. Target pertumbuhan sales lima tahun telah tercapai di 2024. Brand-brand seperti FOX’S, MilkLife, 5Days, dan Kopi Tubruk Gadjah menempati posisi Top 3 di tiap-tiap kategori di pasar modern trade. Caffino berhasil diekspor ke 34 negara.

null
SAVORIA menghadirkan cita rasa lezat yang bisa dinikmati kapan saja, untuk mewujudkan momen bahagia bersama teman, keluarga, dan orang-orang terdekat. (Foto: IG @savoriaid)

Savoria Learning Institute yang resmi dibuka pada Januari 2025 menjadi simbol komitmen terhadap pengembangan SDM. “Ini bukan pencapaian saya pribadi. Ini hasil kerja keras tim yang punya mimpi dan keberanian yang sama,” katanya merendah.

Ihsan juga aktif membangun konektivitas melalui media sosial dan platform digital. LinkedIn dan website perusahaan menjadi sarana corporate branding dan employer branding.

Untuk engagement dengan konsumen, kanal-kanal seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dimanfaatkan secara strategis. “Brand harus hadir di tempat konsumen berada, dan bicara dengan cara yang mereka pahami,” katanya tandas.

Untuk internal karyawan, Savoria mengembangkan sistem Employee Self Service, yang terintegrasi dari rekrutmen, pembelajaran, appraisal, hingga pengajuan administrasi. Portal internal Savorian menjadi tulang punggung komunikasi organisasi. “Kami ingin semua orang merasa terhubung, dihargai, dan berkembang bersama,” ujarnya.

Ketika ditanya apa yang paling membanggakan dari perjalanan Savoria, Ihsan menjawab singkat tapi bermakna mendalam. “Kami membuktikan bahwa anak bangsa bisa membangun perusahaan besar, tanpa harus mewarisi, tapi dengan mimpi, kerja keras, dan keberanian mengambil risiko.” (*)

# Tag