Dari Dapur Kreatif Ilham Pinastiko, Pala Nusantara Menjadi Brand Identitas Bangsa
Di tengah era disrupsi, tidak semua brand lokal mampu bertahan. Namun, Pala Nusantara, brand jam tangan lokal yang didirikan Ilham Pinastiko pada 2015, membuktikan bahwa inovasi adalah kunci keberlanjutan bisnis. Berawal dari sebuah dapur kreatif kecil, Pala Nusantara kini bertransformasi menjadi lebih dari sekadar produk fesyen.
Sejak awal berdiri, brand ini dikenal melalui jam tangan kayu dengan material kayu dan kulit. Setiap karya tidak hanya menampilkan desain elegan, tetapi juga menghadirkan narasi tentang budaya Indonesia. Ilham melihat Indonesia sebagai negeri dengan ribuan cerita, dari Sabang hingga Merauke. Tiap daerah memiliki filosofi, tokoh, simbol, serta kekayaan alam yang merepresentasikan nilai luhur masyarakat.
Salah satu koleksi ikonik Pala Nusantara adalah jam tangan yang terinspirasi motif batik Mega Mendung dari Cirebon. Desainnya ditujukan bagi mereka yang ingin tampil elegan, cerdas, sekaligus peduli dengan lingkungan sosial. Filosofinya menekankan bahwa masa lalu adalah ruang belajar dan sumber inspirasi, yang menguatkan langkah untuk terus bergerak maju ke masa depan.
Jam tangan ini bercerita, Mega Mendung merupakan sebuah simbol kemakmuran yang divisualisasikan dengan gambar awan pembawa hujan yang menurunkan air kehidupan dan merepresentasikan dunia atas awan yang luas, bebas, serta sarat dengan makna transendental.
Motif ini umumnya berunsurkan warna biru yang diselingi merah dengan gambaran maskulinitas dan suasana dinamis, mewakili kisah masa lalu bahwa motif ini diprakarsai seorang lelaki untuk mengambil hati pujaannya.
Bagi Ilham, Pala harus menjadi “buah tangan Nusantara”. Ia ingin jam tangan tidak hanya sekadar aksesori, melainkan hadiah khas Indonesia yang modern dan berakar pada budaya lokal.
“Kalau kita sudah ada di Bandara Ngurah Rai Bali, atau Terminal 3 Garuda di Soekarno Hatta, saya rasa itu milestone berikutnya di buah tangan akan tercapai. Nah itu, mimpinya ke situ. Di buah tangan Nusantara,” tuturnya kepada SWA.co.id.
Berkat kegigihannya memperkenalkan budaya Indonesia lewat jam tangan, Pala terpilih menjadi brand ambassador Wonderful Indonesia. Produk Pala pun mulai dijadikan buah tangan masyarakat hingga pejabat yang berplesir ke luar negeri. Meskipun belum mengekspor secara resmi, Ilham mengungkapkan produknya sudah sampai ke Korea, Jepang, Malaysia, Thailand, Milan, Perancis, Inggris, dan Jerman.
Di dalam negeri, marketplace masih menjadi kanal utama penjualan. “Hingga kini, sekitar 85% penjualan masih berasal dari kanal online. Untuk offline, salah satunya bisa ditemui di Museum Macan,” jelasnya.
Namun, perjalanan membangun bisnis ini menurutnya tidaklah mudah di era saat ini. Dia mengungkapkan, saat ini penjualan jam tangan buatannya setiap bulan di sekitar 800-1000 unit dengan harga mulai Rp390.000 hingga Rp2.000.000. Dimana sebelumnya bisa menjual hingga menembus 1.800–2.000 unit.
Dari tantangan itulah, Pala tak berhenti pada jam tangan saja. Dari keterbatasan dan tantangan bisnis, lahirlah inovasi yang berasal dari limbah-limbah produksinya. Ia mulai mengolah potongan kayu dan sisa kulit menjadi produk baru seperti charm dan aksesori kecil lainnya.
Dibanderol dengan harga Rp100 ribu, produk turunan ini justru menjadi penyelamat di masa sulit karena lebih terjangkau dan mudah diterima pasar, sekaligus memberikan margin keuntungan yang tinggi.
Tak hanya memanfaatkan limbah, Pala juga melakukan diversifikasi bisnis dengan melahirkan apparel Shima. Shima menghadirkan koleksi busana berbahan linen dengan gaya casual.
“Responnya luar biasanya, penjualannya charm, bisa ribuan piece dalam sebulan. Shima juga dapat respon positif dari pekerja-pekerja, dalam sebulan capai ratusan piece penjualannya. Ternyata walaupun adanya resesi, tetap ada peluang, selama masih affordable untuk mereka,” ungkapnya.
Ke depan, Ilham ingin membawa Pala melampaui sekadar jam tangan, menjadi sebuah brand yang merepresentasikan identitas Indonesia. “Negeri ini punya lebih dari 13 ribu budaya. Selama ini yang dikenal hanya komodo, gajah, atau keris. Padahal masih banyak cerita lain yang layak diangkat, seperti kucing merah dari Kalimantan, Rote, Tarsius, dan lainnya,” tuturnya.
Delapan tahun perjalanan membuktikan, Pala bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh dengan jati diri yang kian kokoh. “Pala tidak sekadar menjual jam tangan. Kami menjual cerita, identitas, dan kebanggaan akan Nusantara,” tutup Ilham. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.