Podcast Jadi Rutinitas Malam: Populix Catat 2–3 Kali Dengarkan per Minggu, Durasi Ideal 30–60 Menit
Beberapa tahun terakhir, podcast pelan-pelan menjelma menjadi ruang intim baru bagi masyarakat Indonesia. Di tengah lalu lintas informasi yang kian padat, banyak orang justru memilih menyisihkan waktu untuk mendengarkan suara, bukan sekadar musik, melainkan percakapan panjang, refleksi, hingga obrolan santai.
Kini, untuk pertama kalinya, peta kebiasaan para penikmat podcast di Indonesia terungkap lewat riset Populix yang akan dipresentasikan di panggung internasional Radiodays Asia 2025, 1–3 September, di Hotel Aryaduta, Jakarta.
Vivi Zabkie, Head of Policy and Social Research Populix, menjelaskan bahwa rata-rata penikmat podcast mendengarkan dua hingga tiga kali seminggu. Sebagian kecil, katanya, bahkan mengaku menikmatinya setiap hari. Sementara, sangat sedikit yang mendengarkan kurang dari sekali seminggu.
Menariknya, momen mendengarkan kerap jatuh di malam hari, saat orang beristirahat, mencari jeda, atau menutup hari. Podcast, dengan demikian, telah masuk ke ruang privat: menemani rutinitas, bukan sekadar mengisi kekosongan.
Ada pula temuan menarik terkait durasi. “Kami juga menemukan bahwa durasi kurang dari 20 menit dirasa tidak ideal untuk menyampaikan menuntaskan sebuah konten podcast. Mayoritas pendengar cenderung merasa 30 hingga 60 menit adalah durasi yang pas," kata Vivi dalam keterangan tertulis, Jumat (29/8/2025).
"Hal ini mengisyaratkan tingginya rentang perhatian para pendengar podcast, dan menjadi peluang eksplorasi konten bagi para kreator di Indonesia,” tambah Vivi. Sebuah catatan penting: loyalitas pendengar podcast tak terikat pada cepatnya konsumsi, melainkan kedalaman konten.
Riset berjudul How People Enjoy Podcasts in Daily Life itu akan dipaparkan secara lengkap oleh Vivi Zabkie di Radiodays Asia 2025. Ajang ini punya sejarah menarik. Sejak pertama kali digelar pada 2019, Radiodays Asia menjadi satu-satunya konferensi yang menjembatani dunia radio, audio, dan podcast di kawasan Asia dan Australia. Tahun ini terasa istimewa, karena untuk pertama kalinya konferensi bergengsi itu mendarat di Indonesia.
Peter Niegel, CEO Radiodays, menegaskan arti penting forum ini. “Kami mengundang para pegiat industri radio, audio, dan podcast di Indonesia untuk menghadiri Radiodays Asia 2025. Selain konferensi, acara ini juga akan menghadirkan berbagai workshop yang dipandu para ahli di bidangnya. Harapannya, seluruh peserta dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait tren media internasional, teknologi terbaru, pengembangan konten, juga membuka berbagai peluang bisnis.”
Dengan riset Populix yang membuka wajah baru perilaku pendengar dan Radiodays Asia yang menghadirkan panggung dialog global, podcast di Indonesia tak lagi sekadar fenomena hiburan. Ia tumbuh menjadi industri dengan denyut serius: ruang kreatif, peluang bisnis, sekaligus cermin gaya hidup baru yang kian melekat pada keseharian. (*)