Leona A. Karnali, CEO Primaya Hospital Group. (Foto: Primaya) Didapuk sebagai CEO Primaya Hospital Group (PHG) pada 2020, Leona A. Karnali bertujuan menjadikan PHG sebagai jaringan rumah sakit kebanggaan masyarakat Indonesia yang mampu bersaing secara global.
“Kami ingin menghadirkan solusi kesehatan terpercaya agar masyarakat tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri,” Leona menegaskan.
Perjalanannya untuk mewujudkan tujuan tersebut bukanlah tanpa tantangan. “Adanya pertumbuhan organisasi dan ekspansi jaringan rumah sakit menuntut adanya transformasi budaya kerja yang mendorong adopsi tata kelola modern, tanpa meninggalkan nilai-nilai humanis,” kata wanita yang menyelesaikan pendidikan master di Massachusetts Institute of Technology (MIT), MA, Amerika Serikat, dengan gelar Master of Science, Mechanical Engineering ini.
Adaptasi mindset dari seluruh level organisasi, menurutnya, menjadi hal yang sangat krusial agar pertumbuhan PHG selaras dengan nilai dan mutu layanan.
Di sisi lain, dari faktor eksternal, adanya perubahan kebijakan BPJS seperti penyesuaian layanan, penerapan KRIS (Kelas Rawat Inap Standar), serta regulasi baru terkait alur rujukan dan digitalisasi klaim mengharuskan adanya pembaruan kebijakan internal serta optimalisasi proses layanan.
Pembaruan itu mencakup banyak aspek, mulai dari operasional, sumber daya manusia (SDM), hingga perencanaan kapasitas rumah sakit. “Tuntutan ini menjadi salah satu faktor yang mendorong bagi rumah sakit untuk terus beradaptasi secara berkelanjutan,” katanya.
Primaya Hospital Bekasi Barat. (Foto: Primaya) Lima Strategi Transformasi
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Leona yang bergabung dengan PHG sejak 2016 dengan jabatan Direktur PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk. (“FABS”), menjalankan lima strategi untuk mentransformasi PHG.
Pertama, digitalisasi end-to-end . Sebagai bagian dari transformasi digital, PHG membangun sistem informasi rumah sakit terpadu dan mengembangkan Primaya Apps sebagai penghubung utama antara pasien dan layanan, mulai dari pendaftaran, antrean digital, EMR, notifikasi jadwal, hingga proses discharge .
“Pada 2024 kami berkolaborasi dengan Garda Medika untuk menghadirkan proyek Express Discharge , yang dirancang untuk meningkatkan kenyamanan pasien. Melalui pengembangan sistem bridging antara platform Primaya dan Garda Medika, pasien (khususnya pengguna asuransi) dapat langsung pulang begitu dokter menyatakan boleh pulang, tanpa harus menunggu 3 - 4 jam seperti sebelumnya,” Leona menjelaskan.
Sistem tersebut, katanya, resmi diimplementasikan pada Oktober 2024 setelah proses pengembangan intensif bersama tim TI internal dan mitra asuransi.
Kedua, peningkatan centers of excellence (COE). Dijelaskan Leona, PHG mengembangkan enam COE, yang meliputi Heart and Vascular Center, Cancer Center, Sport Clinic & Orthopedic Center, Urology & Nefrourology Center, Brain Center, serta Diabetes Mellitus & Metabolic Center, sebagai pilar layanan unggulan.
Dalam hal ini, setiap rumah sakit menerapkan protokol klinis dan SOP yang terstandardisasi, yang merupakan hasil kolaborasi lintas tim medis dan dokter spesialis. Pemantauan mutu dilakukan secara terpusat melalui sistem tata kelola klinis, untuk memastikan standar layanan konsisten di seluruh jaringan, sambil tetap responsif terhadap kebutuhan lokal tiap-tiap wilayah.
Ketiga, pengembangan rumah sakit premium berstandar global. Strategi ini merujuk pada upaya PHG untuk memberikan solusi kesehatan terpercaya kepada masyarakat Indonesia dengan mengembangkan layanan rumah sakit yang tidak hanya unggul secara medis, tetapi juga memiliki standar pelayanan, fasilitas, dan pengalaman pasien yang setara dengan rumah sakit internasional.
Keempat, efisiensi biaya dan integrasi supply chain . “Kami melaksanakan konsolidasi pengadaan secara nasional melalui sistem procurement dan inventory yang terintegrasi, yang memungkinkan efisiensi operasional dan transparansi proses. Dengan negosiasi kontrak grup terhadap vendor utama, kami memperoleh skala ekonomi yang signifikan dan posisi tawar yang lebih kuat,” Leona memaparkan.
Upaya tersebut tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya, tetapi juga menjamin ketersediaan barang dan konsistensi mutu dalam proses pelayanan medis.
Kelima, pengembangan SDM dan kepemimpinan internal. Leona meyakini bahwa keberhasilan transformasi organisasi sangat bergantung pada kualitas dan kapasitas manusianya.
“Oleh karena itu, kami membangun ekosistem pengembangan SDM melalui pelatihan berkelanjutan, rencana karier yang terstruktur, serta sistem apresiasi berbasis kinerja. Budaya kerja kolaboratif juga terus kami tanamkan untuk memastikan bahwa semangat inovasi dan pelayanan tumbuh secara berkelanjutan dari dalam organisasi,” katanya.
Kelima strategi tersebut dijalankan secara paralel dan saling melengkapi, dengan tindak lanjut yang dilakukan secara berkala melalui mekanisme tata kelola yang kuat, evaluasi KPI, serta umpan balik lintas level organisasi. Pendekatan ini, kata Leona, memungkinkan setiap strategi tidak hanya dijalankan, tetapi juga dimiliki secara kolektif oleh seluruh elemen organisasi.”
Terbuka, Kolaboratif, Goal Oriented Yang tak kalah menarik, tentunya mengulik bagaimana Leona melakukan pendekatan leadership agar transformasi yang ia pimpin dapat terus bergulir. Adakah pendekatan khusus yang dilakukan oleh leader wanita yang juga aktif menentukan arah digitalisasi informasi melalui media sosial dalam membangun corporate branding ini?
“Gaya kepemimpinan yang saya terapkan berlandaskan pada komunikasi yang terbuka, kolaboratif, dan berorientasi pada tujuan bersama. Saya meyakini bahwa kepercayaan dalam organisasi bukan semata dibentuk oleh pencapaian, tetapi dibangun melalui konsistensi, integritas, dan transparansi dalam setiap pengambilan keputusan serta kejelasan dalam menyampaikan arah strategis,” Leona menuturkan.
Leona mengembangkan komunikasi terbuka, kolaboratif, dan berorientasi pada tujuan bersama. (Foto: womensobsession.com) Ia mengaku mengadopsi pendekatan coaching leadership , yang memberikan ruang bagi para pemimpin unit untuk berkembang, menyampaikan ide-ide inovatif, sekaligus menerima tantangan yang mendorong pertumbuhan pribadi dan profesional mereka.
Selain itu, ia juga menghidupkan prinsip service leadership : peran seorang pemimpin adalah untuk melayani, bukan dilayani.
“Bagi saya, memimpin berarti hadir untuk memahami kebutuhan tim, membuka akses terhadap sumber daya, serta menciptakan lingkungan kerja yang suportif dan bermakna. Dengan menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap keputusan, saya percaya bahwa keberhasilan organisasi akan tumbuh secara berkelanjutan dari dalam,” katanya.
Dengan strategi kepemimpinan tersebut, sejumlah pencapaian telah berhasil ia wujudkan. Jaringan rumah sakitnya tumbuh dari hanya empat rumah sakit pada 2016 menjadi 18 rumah sakit aktif dan empat unit usaha , yang tersebar di berbagai wilayah, antara lain Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Karawang, Bandung, Sukabumi, Semarang, Makassar, Palangkaraya, hingga Sulawesi.
“Pertumbuhan ini kami capai bukan hanya melalui ekspansi fisik, tetapi juga melalui penguatan sistem, tata kelola, dan orientasi layanan yang konsisten,” Leona menjelaskan.
Dari sisi SDM, awalnya PHG mempekerjakan sekitar 1.200 karyawan, dan per Desember 2024 menjadi 5.700 karyawan . “Bagi saya, SDM baik medis maupun nonmedis adalah aset inti organisasi,” ujarnya tandas.
Untuk tenaga medis, pihaknya membentuk tim rekrutmen khusus untuk spesialis dan saat ini tengah mengembangkan program pembinaan spesialis dan subspesialis internal guna memastikan ketersediaan kompetensi klinis yang merata di setiap unit.
Tonggak penting lainnya adalah keberhasilan PHG melaksanakan pencatatan saham perdana (IPO) pada November 2022. “Go public bagi kami bukan semata langkah bisnis, melainkan komitmen nyata terhadap good corporate governance , transparansi, dan akuntabilitas. Melalui pelaporan yang lebih terbuka dan manajemen yang lebih disiplin, kami menjadikan IPO sebagai momentum untuk memperkuat tata kelola perusahaan secara menyeluruh,” ungkap Leona. (*)
Riset: Ayusha Laksmi S.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto,
infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat
di situs web ini, melakukan crawling atau
pengindeksan otomatis untuk platform AI
(artificial intelligence) dan platform digital
lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang
berwenang di situs web ini.