Almaz Fried Chicken Tancap Gas Ekspansi, Target 400 Outlet di 2026
Agresivitas ekspansi Almaz Fried Chicken, brand ayam goreng lokal dengan cita rasa Timur Tengah, kian terasa di tengah ketatnya persaingan bisnis fried chicken di Indonesia.
Didirikan oleh Okta Wirawan pada 14 Juni 2024 di bawah bendera PT ABINDO (Abuya Group), jaringan resto ini dalam waktu singkat berhasil membangun 141 outlet hingga akhir Agustus 2025.
Bram Dwi Raditya, Co-Founder Almaz Fried Chicken, menuturkan bahwa hingga akhir tahun ini pihaknya menargetkan 200 outlet beroperasi di seluruh Indonesia.
“Kami memasang target hingga Februari 2026 akan memiliki sekitar 250 outlet yang akan beroperasi di Lombok, Bali, Kalimantan, Balikpapan, Samarinda, Kendari, Palu,” jelas Bram.
Ekspansi agresif ini mayoritas dilakukan melalui pola kemitraan. Abuya Group hanya menguasai sekitar 6–10 outlet, sedangkan sisanya dimiliki para franchisee. Model ini dipilih untuk mempercepat penetrasi merek sekaligus menjaga skala investasi tetap efisien.
Membidik Pasar yang Sudah Terbentuk
Bram menambahkan, fokus ekspansi ke depan mencakup kota-kota besar seperti Balikpapan, Banjarmasin, Samarinda (Kalimantan), Kendari, Palu (Sulawesi), Aceh, Lampung, Jambi (Sumatera), Pulau Jawa, hingga kota besar lain. Ambisi mereka tidak main-main. “Kami menargetkan akan memiliki outlet 300–400 outlet di tahun 2026,” ujarnya.
Menurut Okta Wirawan, CEO sekaligus Founder Abuya Group, salah satu kunci keberhasilan Almaz adalah strategi pemilihan lokasi. “Kalau sudah ada McDonald's ataupun KFC, Almaz berani masuk, karena pasarnya sudah terbentuk. Kami tidak akan menjadi pesaing, tapi lebih memberikan pilihan konsumen yang akan makan fried chicken, seperti ayam Albaik yang terkenal di Makkah,” jelasnya.
Kinerja dan Kontribusi Wilayah
Meski ekspansi berlangsung cepat, kontribusi terbesar pendapatan saat ini masih datang dari wilayah Jabodetabek yang memiliki jumlah outlet terbanyak. Namun, Okta mencontohkan potensi besar juga terlihat di Medan. Meskipun baru satu outlet, tapi pendapatannya besar karena kuenya belum terbagi-bagi seperti di Jabodetabek.
Okta enggan menyebutkan besaran omzet Almaz Fried Chicken. Dengan gaya bercanda ia menyebut, “Kalau menyebut omzet itu sama halnya membuka aurat.”
Untuk mendukung ekspansi, Abuya Group menyiapkan paket investasi kemitraan dengan nilai awal sekitar Rp750 juta. Persyaratan utama adalah lokasi bangunan minimal seluas 15x15 meter di area yang sudah memiliki pasar fried chicken mapan.
Mitra akan mendapatkan fasilitas sistem autopilot, lisensi kerja sama selama 5 tahun, pelatihan, dukungan pemasaran, perlengkapan operasional lengkap, sistem POS, hingga bahan baku awal gratis.
Dengan model ini, Almaz Fried Chicken berharap pertumbuhan outlet berjalan cepat, sekaligus menjaga standar operasional tetap seragam di seluruh jaringan. (*)